
Sejujurnya, Jeong Tae jatuh cinta kepada Aminah sejak pertemuan pertamanya ketika Aminah mendaftar di studi kedokteran. Selama sebulan ini, ia juga sudah memperhatikan Aminah. Bahkan ia juga tahu siapa kedua saudara lelakinya. Hamdan dan Yusuf juga selalu menyapa Aminah ketika berjumpa di kampus.
"Aku tidak menyangka jika dihatimu sudah ada pria lain. Kalau begitu, aku hanya ingin dekat denganmu saja, menjadi temanmu di sini," batin Jeong Tae memandang Aminah yang saat itu melambaikan tangannya memasuki gedung tempat tinggalnya.
Mencintai dalam diam Jeong Tae lakukan karena ia tidak ingin merusak senyuman di wajah Aminah yang sangat ia sukai. Setelah bertukar nomor, Jeong Tae juga tak ragu menawarkan persahabatan dengan Aminah secepat itu.
"Sampai bertemu nanti malam," pesan Jeong Tae.
"Ok!" jawab Aminah.
sampai di rumah, Aminah langsung bersih-bersih diri, lalu di lanjut dengan bersih-bersih rumah. Yumna akan pulang jam delapan malam nanti. Begitu juga dengan Kabir dan Ceasy yang akan pulang lebih malam lagi.
"Hidup di sini nggak bisa santai ya? Semua dilakukan dengan cepat, nggak kayak di Jogja. Di sana bisa santai banget," gumam Aminah sambil menyetrika baju.
Urusan rumah sudah selesai, Aminah mencoba menghubungi Raditya. Tentu saja Raditya langsung mengangkat telpon dari Aminah. Sayang, Aminah harus mendengar hal yang akan membuatnya salah paham.
"Minah, bentar ya. Aku sedang di rumah Ibu. Rumah sedang…."
"Mas Radit, aku cari ternyata Mas di sana?" seorang perempuan memanggil nama Raditya dengan lembut.
"Perjodohan kita.. apakah bisa di lanjutkan? Aku sangat bahagia jika itu dilajutkan, Mas."
Hati Aminah langsung terasa sebak. Belum juga mendengar jawaban Raditya, Aminah sudah menutup telponnya. Itu yang akan membuat mereka salah paham. Jelas-jelas Raditya menolak perjodohan itu.
"Maaf, saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Karena ada hati yang mesti saya jaga," tolak Raditya.
"Nanti, kedepannya biar orang tua kita yang mengambil keputusan. Em, siapa wanita yang beruntung itu?" tanya perempuan yang hendak dijodohkan dengan Raditya.
"Dia sekarang sedang belajar di Korea. Aku sudah berjanji untuk menghalalkannya setelah ia kembali, mencintainya sampai maut memisahkan. Semoga saja kelak memang kami ditakdirkan untuk menjadi pasangan, aamiin Ya Rabb," harap Raditya.
__ADS_1
Raditya mengungkapkan itu penuh dengan kebanggan, disisi Aminah yang sedang kecewa karena salah paham, ia menangis dan kesal. Dirinya menjaga hati agar tidak jatuh cinta lagi, tapi Raditya malah akan dijodohkan. Itu yang ada di dalam pikiran Aminah.
"Dijodohkan? Tunggu! Aku nggak boleh menangis, apaan sih menangis segala? Aku tau Bang Dit pasti akan menolak perjodohan itu! Kita harus sama-sama berjuang, dong. Nggak boleh terima perjodohan itu!"
"Ini apa pula, netes-netes nggak jelas gini air mataku," kesal Aminah sendiri.
Setelah itu, Aminah berjalan ke kasurnya dan menghantamkan tubuhnya ke kasur yang empuk itu. Kemudian menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut yang pernah ia beli bersama dengan Raditya.
"Astaghfirullah, apaan ini? Selimut ini dari Bang Dit. Aku tak boleh pakai, dia jahati aku... huhu aku nangis lagi. Ganti selimut!"
Ternyata dirinya lupa membawa selimut lain, alhasil ia tidur menggunakan sarung milik Abi-nya. Kata-kata perjodohan itu terus saja terngiang. Tak lama setelah itu, Aminah berdiri kembali. Ia baru ingat jika malam nanti Jeong Tae mengajaknya ke festival. Ia pergi ke rumah Yusuf untuk meminta pendapat.
-_-_-
Sudah berkali-kali Aminah memencet bel rumah Yusuf. Namun, tak ada yang membukakan pintunya. Sampai Yusuf datang dan menyapa Aminah.
"Wa'alaikumsalam, darimana saja kamu? Kenapa baru pulang?" tanya Aminah dengan air mata yang berderai.
Yusuf langsung memeluk Aminah, sebelumnya Aminah menangis tanpa bersuara. Hingga di pelukan Yusuf, Aminah baru bisa menyuarakan suara tangisannya. Dengan susah pahang Yusuf membuka pintu dan membawa Aminah masuk. Masih di pelukannya, Aminah terus menangis tanpa menjelaskan alasannya. Yusuf membiarkannya sementara waktu sampai Aminah merasa baikan.
Lima belas menit berlalu, Aminah baru melepas pelukannya terhadap Yusuf. Yusuf menyuruh Aminah untuk duduk tenang sampai dirinya kembali membawakan minuman.Tak lama setelah itu, Yusuf meminta Aminah untuk istighfar.
"Astaghfirullah hal'adzim, istighfar dan ceritakan pelan-pelan, kenapa kamu menangis seperti ini, Min?" tutur Yusuf dengan menghapus air mata Aminah.
"Tadi, tadi, tadi aku telponan sama Bang Dit. Terus, terus ada suara cewek yang bilang kalau mereka akan dijodohkan.. huhu aku harus bagaimana, Yusuf. Aku nggak mau cintaku bertepuk sebelah tangan,"
"Aku memendam rasa, dan semakin mencintainya...." sesal Aminah masih menangis.
"Sebenarnya, apa yang membuatmu jatuh cinta kepada Mas Raditya sampai sedalam itu?" tanya Yusuf masih bersimpuh di depan Yusuf.
__ADS_1
"Waktu awal ketemu, aku masih biasa saja, Suf. Sampai pada akhirnya, kita jadi sering bertemu karena Rafa. Dan saat di Korea waktu itu, aku merasakan ada hal yang berbeda ketika dia memutar badanku untuk menghindari aku melihat orang ciuman," jelas Aminah.
"Lalu, semakin lama aku merasakan cemburu ketika dia dekat dengan santri lain. Lalu, kesabaran, kelembutan, imannya juga yang bisa meluluhkan hatiku, semakin lama aku semakin mencintainya. Aku... sakit. Saat...." Aminah menangis lagi ketika hendak mengatakan perjodohan itu.
Yusuf memeluknya kembali. Ia menenangkan Aminah dengan bersholawat sambil mengingat mata biru gadis sepuluh tahunan itu. Yusuf selalu berpikir, Cindy, yang seumuran dengannya saja tak mampu membuat pikirannya goyah. Namun, Yusuf merasakan berbeda saat memikirkan gadis mata biru itu.
"Apakah.. anak itu, jodohku? Tidak! Usia kami terpaut jauh, aku yakin dia bukanlah jodohku. Kepercayaan kami berbeda, pepatah bilang, jodoh itu cerminan diri. Bagaimana mungkin itu terjadi antara aku dan anak itu?" batin Yusuf.
"Tapi, aku juga percaya dengan kuasa Allah. Entah kenapa aku jadi kepikiran dengan gadis itu. Dimana dia sekarang? Pikiran ini memang tidak menggangguku, tapi rasanya aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, Astaghfirullah hal'adzim," lanjutnya.
"Apakah, ini rindu?"
"Na'udzubillah...."
"Tidak. Rindu itu bukanlah pilihan. Berapa banyak kita tidak ingin rindu, tapi hatiku yang paling dalam sangat merindukannya," batinnya lagi.
"Ini salah, aku harus perbanyak istighfar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ini dosa! Dia bukan mahramku, untuk apa aku merindukannya?" Yusuf terus melawan pikiran negatifnya tentang gadis itu.
Bagaimana juga, ia belum benar yakin akan kedepannya dengan gadis itu. Mungkin, mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Atau bahkan sebaliknya, Yusuf hanya berdoa agar hatinya tak akan pernah goyah dengan yang namanya nafsu dunia sebelum dirinya benar-benar matang dengan ilmu agama dan kuliahnya.
"Yusuf, apakah aku terlalu berlebihan?" tanya Aminah melepaskan pelukannya.
"Manusia harus menyadari bahwa segala sesuatu di alam merupakan milik Allah SWT. Begitupula dengan manusia yang lain. Oleh karena itu tidak pantas jika sampai kita mencintai manusia lain secara berlebihan. Cinta yang hakiki hanya layak diberikan kepada Allah SWT," tutur Yusuf.
"Masih ingat Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 31?" tanya Yusuf.
Aminah mengangguk dan menjawab, "Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Baru Aminah bisa tenang dengan beristighfar, begitu juga dengan Yusuf. Tak ada salahnya mereka jatuh hati kepada seorang yang belum mahramnya, karena mereka masih darah muda yang masih mencari jadi diri, namun seharusnya masih dalam tahap wajar.
__ADS_1