Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 117


__ADS_3

Sejak mendengar penjelasan dari Raka, Adam meminta Raka dan David bahkan Rindu juga untuk membantu mengawasi kehamilan Airy, saat dirinya jauh dari Airy.


"Alah Mas Adam tenang saja, pokoknya Airy ama sama kita, ya nggak hahahaha, " kata David.


"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya Mas, salam buat Airy. Rindi kami pamit dulu! " pamit Raka.


"Dadah Rindi, Assalamu'alaikum," David mulai mendekati Rindi, karena cintanya ke tolak oleh mbak mbak Airy.


"Mau apa?" tanya Rindi.


"Jangan mendekat! Udah sono pulang!! " sambungnya.


"Medit! " ucap David.


Setelah David dan Raka berpamitan, Rindu juga ikut berpamitan. Ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. Adam masuk kerumah, melihat Airy ke kamarnya yang sedang tidur.


"Tumben Airy bisa tidur cepat, biasanya drama dulu sebelum tidur! " seru Adam dalam hati.


Rasa bahagia menyelimuti hati Adam, bahkan ia pun bergegas memasak untuk makan Airy di sore hari. Adam juga membuka situs seputar ibu hamil juga, untuk memastikan gizi dan vitamin apa yang diperlukan oleh ibu hamil. Di sela-sela itu, Adam teringat oleh kata-kata Raka yang mengatakan bahwa ada masalah dengan kandungan istrinya itu.


"Airy harus kuat, dia dan janinnya harus sehat! Aku tidak akan membiarkan apapun yang akan membuat istriku sedih, " ucap Adam dalam hati.


Disisi lain, entah dapat kabar dari mana Sari mendengar kehamilan Airy. Ia mendengar dari Rindi yang bercerita dengan Ustadzah Ifa. Saat itu mereka menceritakan kehamilan Airy di mushola, dan salah satu santriwati ada yang mengatakannya kepada Sari.


"Kurang ajar! Kenapa harus hamil? Aku tidak akan membiarkan janin yang Airy kandung itu lahir! aku tidak rela! " teriak Sari dengan menghantamkan tangannya ke tembok.

__ADS_1


"Aw sakit! " jerit nya.


Rencana apa yang sebenarnya Sari fikirkan. Semoga saja Adam dan yang lain bisa menjaga Airy dengan baik-baik saja.


"Alhamdulillah, aku sudah tidak sabar ingin menggendong keponakan lucu hihihi, " ucap Ustadzah Ifa bersemangat.


"Lha terus Ustadzah Ifa mau kapan? " tanya Rindi.


"Hey, semua itu kita pasrahkan kepada yang maha Kuasa, Allah pasti akan memberikan itu kepadaku nanti, tapi aku sangat bahagia mendengar kehamilan Airy. " Itulah hati Ustadzah Ifa, ia tidak ada iri sama sekali kepada Airy. Karena dia begitu menyayangi Airy, seperti adiknya sendiri.


Makanan yang dibuat Adam sudah siap. Ia membangunkan Airy dan memintanya untuk makan di meja makan, atau ruang tengah. Karena Adam juga tidak ingin membiasakan Airy makan di kamar, walapun sedang hamil.


"Males ahh, nggak selera makan aku Mas, " ucap Airy dengan nada manja.


Karena Airy lama bangunnya, Adam pun menggendong paksa Airy. Tak ada penilaian dari Airy, ia duduk dan mulai menikmati makannya. Baru saja satu suapan, Airy memuntahkannya.


"Astaghfirullah, kenapa? Nggak enak ya? " tanya Adam membersihkan mulut Airy.


"Aneh aja rasanya, kek ada pahit-pahitnya gitu deh. " ucap Airy.


"Masa pahit sih, ini kan sayur bayam kesukaan kamu. Aku ganti yang baru saja ya, bentar aku masakin lagi, " Adam segera membawa kembali mangkuk berisikan bening bayam itu.


Hati Airy tidak ingin menolak makanan itu, walapun pahit baginya, ia tetap memakan dengan lahap. Mungkin itu juga bawaan dari bayinya.


"Lah katanya pahit? " tanya Adam heran.

__ADS_1


"Sttt, aku lagi makan! " jawab Airy sambil menikmati makanan itu.


Waktu berlalu. Malam pun telah tiba, seperti biasa, setelah sholat Isyak dan berbagai kegiatan malam di pesantren, Adam langsung pulang. Malam ini tidak seperti biasanya, Airy tertidur sangat pulas. Ia mabuk berat saat kehamilan itu.


Herannya Airy, sebelumnya ia sehat-ehat saja, ketika mengetahui jika dirinya hamil, muntah dan mual terus melanda sejak siang. Bahkan ia hanya tiduran saja tanpa melakukan aktivitas apapun kecuali sholat dan mengaji.


"Sayang, bangun yukk. Minum susu dulu, nih aku sudah buatkan rasa baru, kan yang tadi di muntahin. " tutur Adam dengan lembut.


"Emmm, "


"Kok emm aja, bangun dong. Udah sholat Isyak belum? " Adam berusaha membangunkan Airy dengan nada lembut.


Airy terbangun, sambil mengucek-ngucek matanya, ia pun meminum susunya langsung habis. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan gosok gigi. Setelah itu, ia pun kembali ke ranjang lagi dan melanjutkan tidur cantiknya.


"Udah sholat? " tanya Adam sekali lagi.


"Mana mungkin aku melupakan kewajibanku, di penggal malaikat nanti aku! " jawab Airy sedikit nge gas.


Jarang sekali Airy menjawab dengan nada sedikit tinggi. Adam awalnya tersenggol hatinya, untung saja ia bisa mengontrol emosinya dan mulai berfikir.


"Mungkin ini hanya bawaan bayi saja. Tidak mungkin Airy menaikkan nada bicara nya seperti itu, hmm dia sudah capek sehari di kampus, sorenya tadi juga mual-mual. Aku tidak boleh ngeluh, dia sedang mengandung anakku, dan kandungan ya.... Ya Allah, sehatkanlah istri dan calon anakku. " ungkap Adam dalam hati,


"Pengen peluk, " kata Airy dengan merentangkan tangannya, bahkan sekarang namanya berubah menjadi manja.


Adam tersenyum dengan senang, ia pun memeluk dan mencium kening Airy dengan lembut. Sesekali ia mengusap perut Airy, dan bersholawat malam untuk mengantar tidur Airy. Dalam waktu sekejap, Airy terlelap dan on the way ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2