
Usai mengantar Cindy pulang, Yusuf segara pulang dan beristirahat. Masih dalam ingatannya, ia tidak menyangka jika Cindy bisa semabuk itu. Yusuf segeralah merendam pakaian yang baru ia kenakan, dan mandi menggunakan air hangat. Ketika merebahkan tubuhnya, ia teringat akan jaket kesayangannya di pakai oleh gadis itu.
"Tapi aku sungguh penasaran dengan anak ini. Siapa dia, kenapa wajahnya lain? Maksudku, dia pasti keturunan orang barat, tapi bahasa Indonesianya begitu lancar. Lalu, konflik keluarga apa yang ia alami?" Gumam Yusuf.
"Matanya sangat indah. Senyumannya juga terlihat begitu imut, Aku.. astaghfirullah hal'adzim, mesum, mesum! Ya Allah, tidur, tidurlah, ayo Ucup, tidur Cup!" Yusuf menampar pipi kanan kirinya menggunakan tangannya sendiri.
Yusuf menyelimuti seluruh tubuhnya, memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Lagi-lagi, ketika memejamkan mata, ia teringat dengan mata biru gadis itu. Bahkan, ia juga teringat ketika bibir gadis itu menyentuh bibirnya.
"Mesum, mesum, mesum. Sadar, Ucup! Dia masih bocah, masih piyik, bahkan kalau dipikir dia bisa menjadi kakaknya Rafa. Sadar Ucup, kamu harus lupain, dia akan baik-baik saja... Astaghfirullah hal'adzim...."
Tak tahu lagi apa yang akan Yusuf lakukan untuk melupakan masalah gadis itu. Namun anehnya, Yusuf tidak terganggu akan itu. Ia merasa jika mengingat mata biru gadis itu bisa membuatnya lebih rilax.
Di pagi hari, Cindy terbangun dari tidurnya. Ia merasakan pusing yang sangat berat, tentu saja karena dai mabuk semalam. Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam.
"Ash, astaga. Kenapa aku sampai semabuk itu, sih?" Lalu, siapa yang mengantarku pulang?" gumamnya.
"Non, ini sarapan untuk Non Cindy. Bapak memanggil Non untuk segera turun untuk bicara masalah semalam, silahkan Non Cindy sarapan dan mandi dulu," ucap asisten rumah tangganya.
"Maaf, Mbak. Saya boleh nanya nggak?" tanya Cindy.
"Iya, ada apa, Non?"
"Yang bawa pulang saya semalam, siapa ya?" Cindy sangat penasaran.
"Seorang laki-laki, dia yang pernah mengantar Non Cindy pulang waktu itu," jawab asisten itu.
"Yusuf? Ash, malu banget aku!" batin Cindy.
Orang tua Cindy marah besar dengannya. Orang tua mana yang tak marah jika putrinya berbuat hal yang negatif seperti itu. Apalagi, keluarga Cindy ini sangat taat sekali dengan peraturan agamanya. Orang tua Cindy ingin mengirimnya keluar negri dan tidak memperbolehkan cindy pulang sampai dirinya sadar dengan kelakuannya yang sudah membuat malu nama keluarga.
"Nggak bisa gitu dong, Pa. Cindy akan tetap di sini!" tolak Cindy.
"Kamu masih hidup dibawah naungan orang tua. Kamu juga masih butuh didikan orang tua, apa manfaatnya mabuk seperti itu? Alkohol hanya akan merusak kesehatanmu saja. Turuti Papa, setelah kamu mengerti apa arti hidup ini, kamu boleh pulang!" tegas Papanya.
__ADS_1
Orang tua Cindy memberinya waktu untuknya bertemu dengan teman-temanya sebelum pergi. Bahkan, Papa nya juga meminta Cindy untuk meminta maaf kepada Yusuf, karena semalam telah memakinya dengan sangat buruk. Cindy merasa malu sudah bertingkah seperti itu. Papa dari Cindy ini juga tahu bahwa Yusuf seorang muslim, yang telah sudi mengantar putrinya yang sedang mabuk berat. Maka dari itu, Papanya ingin Cindy meminta maaf dan berterima kasih kepda Yusuf.
Siang itu juga, Cindy ke rumah Yusuf. Kebetulan Yusuf masih di rumah, jadi Cindy bisa bicara dengan Yusuf. Gu dan Raditya juga baru saja pamit pergi ke tempat kerjanya masing-masing. Sementara Hamdan, ia akan berangkat lebih dulu ke Korea karena masih ada hal yang harus ia selesaikan di sana. Rumah terasa sepi ketika Yusuf hanya sendirian di rumah.
"Siang.. Yusuf!" sapa Cindy.
"Cindy, kamu ke sini? Silahkan masuk," Yusuf ini memang baik sekali, ia bahkan tidak mengungkit hal semalam dengan Cindy.
"Maaf… aku membuatmu dalam kesulitan semalam," ucap Cindy.
"Tenang saja, kita kan teman. Guna teman juga harus saling membantu bukan?" jawab Yusuf mengambilkan segelas air dan camilan untuk Cindy.
"Aku benar-benar malu kepadamu Yusuf. Aku bahkan bermuka tebal datang ke sini. Tapi sungguh.. aku nggak…." belum juga Cindy melanjutkan omongannya, Yusuf sudah menyelanya.
"Sttt.. jangan diungkit lagi ya. Nanti malah buat pikiran dan penyakit hati saja. Lupakan yang sudah berlalu, ambil hikmahnya. Dan aku minta kamu jangan mabuk lagi ya, alkohol itu tidak baik untuk tubuh, apalagi kamu seorang perempuan, hm?" tutur Yusuf.
"Apakah, kamu masih mau berteman denganku? Meski semalam…." Cindy mencoba mengingatkan Yusuf kembali saat dia menolaknya.
Cindy menyetujuinya. Mereka kembali berteman setelah kejadian semalam. Meski begitu, Yusuf memang tidak bisa memberi Cindy hatinya, karena Yusuf merasa hatinya sudah diikat oleh gadis bermata biru itu.
Sementara itu, Aminah dan Raditya juga menghabiskan waktu berdua. Raditya setuju untuk menunggu Aminah kembali dari Korea. Baginya, ini jalan terbaik jika harus menikahi Aminah cepat-cepat, ia tidak ingin Ibu dan Kakaknya akan melangkah lebih jauh karena itu.
"Bang, lusa aku akan berangkat. Abang beneran nggak mau ikut?" tanya Aminah.
"Pergilah, kejar mimpimu. Aku akan menunggumu di sini, jika aku ikut denganmu.. yang ada, masing-masing dari kita malah sibuk dengan urusan hati," jawab Raditya.
"Aku tidak tahu kenapa Yusuf mempercepat kami berangkat. Aku hanya merasa, akhir-akhir ini, ada yang lain aja dengannya. Dia selalu merenung dan kadang senyum-senyum sendiri, bahkan dia juga selalu pergi ke toko buku, aneh nggak, sih? Bukunya aja udah banyak banget loh," Aminah memang sangat senang jika menghibah tentang Yusuf.
"Aku juga merasa begitu. Tapi biarkanlah, dia sudah dewasa juga, 'kan? Kita sebaiknya jangan terlalu ikut campur dengan urusannya," ucap Raditya.
"Lalu, bagaimana dengan Ibu dan Mas Rasid? Bang Dit juga belum pulang lagi setelah di usir waktu itu, bukan? Itu juga rumah Bang Dit, kenapa malah Abang sendiri yang mengalah?" tanya Aminah.
"Harta bisa di cari lagi, rumah bisa bangun lagi. Biarlah mereka menempati rumah itu, nanti.. aku akan membangun istana baru untuk kita berdua," ucap Raditya dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Meski begitu, mereka tidak berpacaran. Sejak awal memang Raditya tidak mau pacaran, tapi restu dari orang tua Aminah lah yang mampu mengikat mereka. Hanya perlu satu langkah restu dari Ibunya Raditya, baru mereka akan menikah nantinya. Tentu saja menunggu Aminah kembali.
Masa remaja sudah berlalu, masa putih abu-abu juga berlalu cepat. Kini, Yusuf akan melanjutkan perjalanan hidupnya ke fase dewasa. Kedewasaan yang akan Yusuf lalui juga tidak mudah. Banyak suka duka yang akan ia alami nantinya. Kisah perjalanan menempuh pendidikan di Korea juga tidak mudah.
Setelah menghabiskan waktu bersama teman dan keluarganya, Yusuf dan aminah siap untuk berangkat ke Korea. Mereka di antar oleh Syakir, Raihan, Adam dan Raditya tentunya. Sengaja Airy dan Balqis tidak ikut, mereka tidak ingin melihat Yusuf dan Aminah berat meninggalkan mereka. Airy juga sudah menghubungi Kabir dan Jamil di sana, mereka juga siap menjemput Yusuf dan Aminah di bandara nanti.
"Kamu jahat banget, sih? Ninggalin aku sendiri di sini," bisik Raditya.
"Jangan gitu dong, Bang. Bang Dit kan pernah ke Korea, jadi bisa dong sewaktu-waktu kunjungi aku ke sana," ucap Aminah.
"Kamu pikir Jogja-Korea itu dekat, hah? Kalian ini terlalu ih.. geli tau, cepat menikah ngapa?" sahut Gu yang berada di belakang mereka.
"Gu oppa juga ngapain ikut, sih? Apakah oppa juga mau kembali ke Korea?" ketus Aminah.
"Aku akan kembali nanti jika waktunya wamil tiba. Dah sana berangkat!"
Gu ini paling heboh jika melihat ke-uwu-an Raditya dan Aminah. Tapi, ia juga mendukung hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan. Sementara mereka bertiga ribut sendiri, baik Syakir, Adam maupun Raihan banyak memberi wejangan kepada Yusuf. Raihan juga berjanji akan memberi uang bulanan kepada Yusuf, karena memang itu uang Yusuf. Bukan hanya Raihan saja, Adam juga begitu.
"Uang Aminah, nanti aku transfer kapadamu dan Kabir ya. Aku tidak percaya dengan anak itu," ucap Syakir.
"Pak Lek, jangan gitu, dong. Pak Lek aja memberiku kepercayaan, tapi sama anak sendiri malah tidak. Jangan dibedakan gitu ah," kata Yusuf.
"Pak Lek hanya takut dia boros. Tau sendiri dia bagaimana, dah sana berangkat. Hubungi kami kalau kalian sudah sampai, ya…."
Yusuf dan Aminah pun berangkat, lalu rombongan pengantar juga akan segera pulang. Di pesawat, Aminah terus menanyakan, liontin apa yang ada di dompet Yusuf. Ia tak sengaja membukanya dua hari lalu waktu mengambil laptop di kamar Yusuf. Pertanyaan itu membuat Yusuf kembali mengingat si mata biru lagi. Ia berdoa kepada sang Pencipta untuk kesehatan gadis bermata biru itu.
"Ya Allah ya Rabb, aku hanya meminta kepadamu, berserah juga kepadamu. Semoga si mata biru itu baik-baik saja di manapun dia berada."
Di sisi lain, si mata biru itu seperti mendengar doa Yusuf. Ia masih di dalam kamarnya sedang bermain.
"Kakak itu.. pasti sedang mendoakanku. Hai Kakak, aku baik-baik saja di sini. Sampai bertemu lagi nanti."
Meski belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Yusuf dan gadis bermata biru itu yakin, jika suatu saat mereka akan bertemu lagi. Dalam pikiran Yusuf, ia hanya ingin lepas dari ikatan liontin itu. Sebaliknya dari pikiran Yusuf, gadis itu ingin bertemu kembali kepada Yusuf, karena ungu bersamanya. Menurut gadis itu, hanya Yusuf yang baik selama ia hidup.
__ADS_1