Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 199


__ADS_3

“Aku Airy, Airy Calista Putri Handika. Wanita 20 tahun yang kamu nikahi 2 tahun lalu. Apa kamu tidak mengingat itu, Mas Adam?”


“Bukankah empat bulan lalu, kamu mengatakan jika kamu menginginkan anak perempuan? Dulu kau juga yang mengatakan, bahwa akulah satu-satunya wanita yang kamu cintai. Apakah kau tidak ingat itu? Setidaknya, kau harus mengingat Rafa, dia anak kita. Lalu Bang Rai dan Kak Ale juga, apakah kamu juga belum mengingat mereka?  Bukankah, kamu merasa cemburu jika aku memanggil Mas Hafiz dengan sebutan Kak Ale?”


“Segitu tak berartinya kami, sehingga buat mengingat kami saja pun kau tak mampu, Mas Adam? Aku istrimu, istri yang kau tinggalkan beberapa bulan lalu, karena kau terjatuh di laut. Apakah kau juga tidak ingin tahu tentang asal usulmu?”


“Astaghfirullah, aih. Sudahlah, aku lelah. Ini buku nikah kita, akta Rafa dan kartu keluarga. Di dalamnya juga bukan hanya itu saja, mungkin kita tidak memiliki potret resepsi pernikahan, karena kita menikah tepat di bulan ramadhan. Tapi banyak bukti yang menunjukkkan kalau kau itu Mas Adam.  Suamiku. Assallamu’alaikum! Mobil kamu yang bawa saja, aku naik taksi.”


Sambil menggendong Rafa, Airy pergi karena emosi. Ia naik taksi dan baru menyadari, bahwa yang dilakukannya itu sebuah kesalahan. Tak seharusnya ia menguak semuanya dengan emosi.


Sementara itu, Adam terus saja merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. KArena sudah tidak tahan, ia pun menelfon Lulu agar segera menjemputnya.

__ADS_1


Ingatan Adam belum kuat, ia sampai pingsan ketika di bawa ke rumah sakit oleh Lulu. Melihat ada sebuah amplop hijau di tangan Adam, Lulu pun mengambil dan melihatnya.


“Halo, Mas. Bisakah kamu membawa Bu Calista dan Pak Raihan ke rumah sakit?” Lulu menelfon Hafiz.


Baru saja Airy masuk ke rumah, ia sudah mendapat kabar jika Adam masuk rumah sakit dan tak sadarkan diri. Tubuh Airy terasa lemas, bahkan untuk berjalan pun seakan tak mampu. Tapi, ia harus ke rumah sakit untuk melihat kondisi suaminya. Bersama Raihan, Airy pun berangkat dengan cepat.


Sampai di sana, ia masih melihat suaminya tengah terbaring di tempat tidur pasien.


“Apa yang terjadi?” tanya Raihan menatap Airy.


“Bu Calista! Tolong di jawab!” lanjut Lulu.

__ADS_1


“Airy, jawab!” imbuh Raihan.


“Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosi. Tadi ada seseorang yang a…”


“Cukup! Bukankah saya sudah bilang, untuk berhati-hati saat anda mengatakan hal ini kepada, Adnan. “ sela Lulu.


Airy menatap Lulu dengan sinis. Ia pun mengatakan, “Coba kamu posisikan di posisiku. Selama satu bulan, suamiku ada di depan mata, bersama setiap saat, ketemu setiap hati. Dan aku harus berpura-pura menjadi orang lain. Dia suamiku! Suamiku sendiri, bahkan aku ingin menggandeng tangannya saja tidak bisa. Nggak adil banget nggak sih buat aku?”


Setelah mengatakan unek-unek di hatinya, Airy pun langsung pergi. Ia duduk di samping parkiran dan merenungi semuannya. Hidup memang tak selamanya bisa adil. Airy sadar itu, tapi itu semua pembuktian cintanya, ia sudah sangat bersabar, dan Adam juga tidak berusaha untuk mengingat semuanya untuk keluarganya.


Airy pantas kesal, dia juga pantas marah, menangis bahkan kecewa. Tapi, semua juga membutuhkan waktu, akan ada waktunya nanti ketika Adam bisa mengingat semua dan bisa berkumpul kembali.

__ADS_1


__ADS_2