Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 153


__ADS_3

Di ruang tamu, Airy dan Adam sedang bercengkrama, mereka masih membahas masalah lele itu. Yang Adam inginkan, Airy tidak menghamburkan uangnya untuk membeli semua itu.


"Heleh, siapa bilang ini gratis! Aku itu mau ngutangi Mas Adam kok pie. Pokonya, nanti balikin nya, dua kali lipat serta bunga 80℅, oke?" Terang Airy sambil menikmati buah mangga yang Adam belikan.


"Lah, kok curang?" pekik Adam.


"Biarin, aku kan telah memberi hadiah yang tak ternilai harganya, karena sangat mahal. Nih, dedek yang ada di perut, aku pengen uhekkk, " Airy muntah, muntahannya ia keluarkan di sarung Adam.


"Sayang, kamu ... ?" belum juga Adam mengatakan sesuatu, ponselnya berdering.


Sari mengirim foto istrinya saat bersama Hafiz dengan pose yang mesra. Dengan wajah datar, ia pun memberitahu Airy tentang foto itu.


"Ada apa?" tanya Airy,


"Nih, kamu mesra sekali," ucap Adam memberikan ponselnya kepada Airy.


"Ih, jelek banget editannya. Nggak pro dia ah, kulit wajahku jadi item, terus nih rumput di di bawahku kok jadi bergelombang gini sih?" protes Airy tidak terima foto nya menjadi jelek.

__ADS_1


"Kamu enggak marah difitnah kayak gini? malah ngurusi rumput sama warna kulit sih. Sari udah fitnah kamu loh, sayang." Tegur Adam.


"Oh iya, hahaha kita foto yang mesra, terus kirim ke Sari. Kita lihat, bagaikan dia cemburu hohoho," ucap Airy mencium pipi Adam, kemudian mengirim foto ciuman pipi itu kepada Sari.


Adam memeluk istrinya dalam penuh cinta, Ia tidak menyangka jika istrinya bisa mengatasi dengan pikiran yang dingin. Adan sangat bersyukur akan hal itu. Namun, ia masih saja cemburu melihat kedekatan Airy dengan Hafiz, kakaknya.


"Eh peluk, peluk. Ada apa suamiku?" tanya Airy.


"Pengen cepat-cepat di panggil Abi, sama anak kita, sayang." jawab Adam.


"Sabar ya, enam bulan lagi. Nggak lama kok," tutur Airy,


"Dalem, istriku." Sahut Adam mencolek dagu istrinya.


"Colek, colek. Aku kangen sama Mas Adam," tutur Airy manja.


"Kangen? Tumben?" goda Adam.

__ADS_1


"Pengen di keloni, biar bisa bobok siang nyenyak, yuk!" Rayu Airy.


Adam mengerutkan dahinya, ia heran, sejak kapan istrinya menjadi manja begitu. Namun, Adam sangat menyukai hal itu, ia melirik jam di dinding, menunjukkan pukul setengah dua siang. Kemudian, Adam pun menggendong Airy masuk ke kamar. Adam meminta Airy untuk sholat dhuhur terlebih dahulu, baru ia akan menemani tidur siangnya.


Usai dzuhuran, Airy segera naik ke ranjang. Lalu, ia langsung memeluk Adam yang saat itu tengah membaca sebuah buku, melihat istrinya yang begitu antusias, Adam pun membalas pelukannya, di ciumnya kening Airy penuh kasih sayang.


"Mas Adam," panggil Airy.


"Iya, sayang. Pripun? (bagaimana)" tanya Adam dengan suara yang membuat hati Airy meleleh.


"Maaf," ucap Airy.


"Kagem nopo? Kok nyuwun ngapunten? (buat apa? Kok minta maaf?)" tanya Adam heran. Ia juga membelai rambut Airy dengan pelan.


"Ih, bahasa jawanya kok halus sih? Em, selama Kak Ale disini, aku sudah membuatmu cemburu, maaf ya." Jujur Airy.


Airy ini terlalu ceplas-ceplos, bahkan ia tidak bisa berpura-pura tidak mengetahui perasaan cemburu suaminya itu. Kenapa juga harus di utarakan, itu membuat Adam menjadi malu.

__ADS_1


"Kok diam? Marah ya? Aku salah, nggak seharusnya aku terlalu dekat dengan Kak Ale. Mau bagaimana lagi, aku emang mengenalnya, nggak bisa kalau pura-pura nggak kenal Mas," tutur Airy dengan nada sedikit manja.


Adam menarik nafas panjang, jantungnya berdetak kencang. Bahagia, dan malu karena ketahuan cemburu menjadi satu. Tak ada sepatah katapun yang biasa di ucapkan nya, ia hanya memeluk istrinya lagi, kali ini dengan mengusap perut Airy.


__ADS_2