
Hari yang di nanti telah tiba, akad nikah akan di mulai 3 jam lagi. Laila masih bersiap di rias oleh Naira yang memang saat ini, dialah yang meriasnya.
"Yang bener, lu!" ujar Laila.
"Ck, silent!"
"Jangan warna itu, dong. Kecerahan, Bray!" protes Laila.
Naura mengganti warna lipstik nya dengan menggunakan warna merah. Lagi-lagi Laila protes, "Woy, lu mau gue kek habis makan jabang bayi? Yang bener aja ngapa, Nairaaaaaa."
"Apa sih, berisik banget jadi orang. Diem ngapa!" dengan sengaja, Naira mengetuk-ngetuk sponsnya ke wajah Laila.
Pertengkaran konyol itu masih terus berlanjut sampai akhirnya Aminah tiba. Bukan lagi konyol, mereka semakin ribut karena perbedaan pendapat. Di tambah lagi, Airy masuk ke kamar bersama dengan Mayshita. Semakin ribut dan membuat gaduh, hingga Clara dan Balqis turun tangan sendiri.
"Astaghfirullah hal'adzim, ini apa-apaan, sih! Udah pada gede, udah pada dewasa kelakuan seperti anak kecil begini! Cepat duduk berjejer di kasur!" Clara keluar tanduknya.
__ADS_1
Tanpa komplain apapun, mereka langsung menurut. Mayshita jadi ketularan bobrok gara-gara Airy dan Aminah. Mereka berlima dihukum satu persatu menggunakan lidi yang di gibaskan ke tangan mereka masing-masing.
Karena waktu sudah mepet, Balqis meminta Laila untuk segera membersihkan wajahnya. Kemudian dialah yang akan merias Laila. Sementara Airy, Aminah, Mayshita dan Naira masih menerima hukuman dari Clara.
"Tante kejam banget, sih? Masa kita di pecut!" protes Airy.
"Iya, mana pakai lidi satu batang lagi," sahut Aminah.
"Dan iya, aku kan baru selesai pakai kutek, Ma!" timpal Naira.
Ia langsung terdiam sepi. Clara ini lebih galak dari Aisyah, jadi memang semua keponakannya sangat menghormatinya (menakuti). Hukuman itu selesai bersamaan dengan selesainya riasan Laila. Berbeda dengan saudara lelakinya, mereka berlima malah sering bertengkar dan saling adu tenggorokan.
Saudara lelaki, malah sering mengejek satu sama lain. Mereka masih anteng-anteng saja menerima tamu undangan. Namun, keisengan Falih mulai terlihat ketika Kakek Farhan datang bersama dengan keluarganya.
"Stt, harta karun kita telah datang." bisik Falih kepada Hamdan.
__ADS_1
"Eh iya, ayo cus kita ke sana!" ajak Hamdan dengan menarik tangan Yusuf.
"Mau kemana? Kita masih harus menerima tamu, kasihan Kak Gu sama Mas Adam kalau di tinggal," ucap Yusuf manahan lengan Hamdan.
"Udah ayo, kita akan untung banyak hari ini," Falih tanpa sadar berjalan menabrak Aminah yang saat itu sudah keluar dari kamar dimana Laila di rias.
Bukan Aminah jika tidak langsung menarik telinga Yusuf. Memang Yusuf bisa ia sentuh, tapi tidak dengan Falih dan Hamdan. Yusuf yang tidak terima itupun menarik telinga Hamdan, menular sampai ke telinga Falih.
Semakin kencang Aminah menarik telinga Yusuf semakin kencang pula Yusuf, Hamdan dan Falih saling menarik telinga. Sampai Airy dan Naira datang menertawakan mereka.
"Hahaha kalian ini sedang apa? Ikut ah, aku jewer Naira sama Yusuf ya hahaha," ucap Airy menarik telinga Yusuf dan Naira.
"Sakit, Kak!" rintih Yusuf dan Naira bersamaan.
Tibalah sang pangeran Gu dan Adam langsung menarik telinga mereka satu persatu. Berhubung para wanita mengenakan jilbab, jadi mereka berdua yang di bantu dengan Diaz dan Raditya pun ikut menjewer telinga si pembuat onar, Airy dan Aminah.
__ADS_1