Perfect Paradise

Perfect Paradise
Babi 234


__ADS_3

Hans bebas tanpa hukuman apapun, karena dia memiliki uang. Ahh, lucunya negri ini, dimana hukum bisa di beli, dan uang adalah segalanya.


"Akhirnya, aku di bebaskan juga." gumam Hans.


"Kamu telah menyakiti hatiku, Airy. Aku akan pastikan, jika hidupmu juga tidak akan pernah bahagia!" tungkasnya.


Rencana apa yang sebenarnya ingin Hans lakukan? Bisakah, Airy dan Adam bertahan dari badai Hans ini? Sesuai apa yang Hans ingin, ia sampai membeli tanah yang dekat dengan tempat tinggal, Airy.


"Hahaha, untung saja aku berduit! Jadi, aku tidak akan kesulitan untuk bergerak. Airy, lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku," gumamnya.


Di rumah, Airy siap mendandani kedua anaknya yang akan berangkat ke TPA. Mereka tidak berangkat sendirian, ada Aminah nyang menjemputnya. Tak sampai waktu tiga hari, ternyata Raihan sudah kembali, ia juga membawakan banyak oleh-oleh untuk kedua keponakannya.


"Assalamu'alaikum," salam Raihan.


"Wa'alaikumsalam, Bang Rai?"

__ADS_1


Airy terkejut, melihat Raihan sudah berada di depan rumahnya. Ia membawa banyak barang di kedua tangannya. Kemudian, Airy pun memintanya untuk masuk terlebih dahulu, sambil menunggu Aminah menjemput Rafa dan Zahra.


"Bang, katanya dua hari lagi," ucap Airy.


"Nanti saja penjelasannya, ya. Abang mau pulang dulu, Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam,"


Setelah menaruh beberapa barangnya di rumah sang adik, Raihan pun berlari ke rumah Papanya, yang kebetulan tidak jauh dari pesantren. Melihat Papanya yang tengah sibuk merawat bunga-bunga yang mulai mekar itu, tak terasa Raihan meneteskan air matanya.


Raihan melangkah perlahan, dengan suara yang halus, ia pun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum!" Rifky pun menoleh, ia masih terdiam karena tidak percaya jika anak lelakinya pulang setelah 3 tahun tidak pernah bertamu.


Mungkin, hal ini sudah wajar di mata Raihan dan Rifky. Karena memang sejak Raihan lulus sekolah dasar, mereka tidak tinggal bersama. Namun, dulu Raihan masih menyempatkan pulang sebulan sekali.


"Assalamu'alaikum," salam Raihan kembali.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Raihan. Kamu pulang, nak?" suara Rifky yang masih lemas, karena baru sembuh dari sakitnya.


Raihan langsung mencium tangan sang Papa dan memeluknya. Tubuh yang dulu sangat bagus dan tegak, kini menjadi sedikit kurus karena di tinggal belahan jiwanya. Begitu besar rasa cinta Rifky, sehingga ia tak bisa mencintai wanita manapun kecuali Aisyah, Ami nya.


Perlahan, Raihan melepaskan pelukannya, di bandingkan dengan Ruchan, kesehatan Rifky malah lebih buruk darinya.


"Maafkan, Raihan, Pa. Raihan salah karena meninggalkan Papa dan Yusuf. Raihan anak yang tidak berbakti, Pa. Maafkan, Raihan!" tangis Raihan pecah.


Dirinya memang lelaki kuat. Tapi, jika semua berhubungan dengan orang tua, dosa dan agama. Hatinya mudah sekali rapuh.


"Sudahlah, Papa mengerti. Kamu menuntut ilmu, menunaikan amanah wasiat ayah angkatmu. Selagi di sini masih Ada Yusuf dan Airy, kenapa kamu mendiskripsikan dirimu sebagai anak yang tidak berbakti?" tutur Rifky.


"Kau anak kebanggaan kami, keluarga Handika maupun keluarga pesantren. Kau putra kami, panutan dari semua adik-adikmu. Jangan di masukkan hati perkataan Om-mu (Akbar). Tapi, jadikan semua perkataannya sebagai pelajaran, motivasi dan juga ambil sisi baiknya," imbuhnya.


"Ayo, masuk!" ajak Rifky dengan merangkul bahu Raihan, yang kini sudah kalah tinggi dengannya.

__ADS_1


Raihan benar-benar merasa hancur, ketika tau kondisi Papanya seperti itu. Apapun hal yang sudah terjadi. Biarlah itu menjadi masa lalu, jadikan pembelajaran. Sajauh mana pun Raihan melangkah, tetap saja, ia akan kembali kepada keluarganya. Karena keluarga adalah harta yang paling berharga.


__ADS_2