
Mau tidak mau, Raihan menyetujui pertemuan dengan anak teman Papa nya itu. Dengan alasan, menunggu Airy dan Adam pulang terlebih dahulu. Sehingga, Raihan bisa mengulur waktu.
Iya, nanti malam ke rumahku aja, ya. Kebetulan, anakku baru pulang dari Jepang. Sekalian kenalan sama anak dan menantu kesayanganku.
Raihan tak sengaja mendengar apa yang di katakan oleh Rifky di telfon. Ia terjebak dalam tradisi keluarganya. Setelah menunggu lama, Airy, Adam dan Falih pun sampai ke pesantren. Mendengar perjodohan Raihan, Airy merasa gembira sekaligus sedih.
Satu jam sebelum acara pertemuan, nangkring di atas pohon yang sangat rindang.
"Kenapa tiba-tiba? Abang bukan lagi menghamili anak orag, 'kan?" tanya Airy melalui pesan dari ponselnya.
"Astaghfirullah hal'adzim, na'udzubillah himindzalik! Jahat banget," ucp Raihan.
"Ya habisnya, tiba-tiba gitu. Kan jadi su'udzon!" pesan Airy lagi.
"Tu tuh si, Papa. Mana bisa aku menolaknya, dahlah! Pasrah aja aku, semoga aja pilihan Papa itu ia yang terbaik, untukku." lanjut Raihan.
Menikmati senja bersama Raihan di atas pohon, mungkin itu terakhir kalinya. Karena Raihan sudah mulai menemukan jodohnya, Airy merasa sedih, karena itu. Ia tak lagi bisa melakukan hal konyol dan bermanja-manja dengan Raihan lagi.
__ADS_1
"Maksudnya apa, pasang wajah begitu?" tanya Raihan.
"Kamu juga kenapa? Nggak bisa bicara, gini?" imbuhnya.
"Hah, malas mau bahas! Apa lagi menjelaskan, dan nyebut nama Hans. Astaghfirullah!" batin Airy.
"Di tanya malah, kenapa diem?" tanya Raihan.
"Au ah! Gelap! Orang lagi nggak bisa bicara, 'kok!" batin Airy.
Ia pun turun dari pohon dan segera pulang bersiap untuk bertemu dengan seseorang yang katanya mau di jodohkan dengan Abangnya. Setelah sholat maghrib, Airy dan Adam pergi ke pesantren, karena pertemuan akan di laksanakan di rumah Ruchan, mereka pun berangkat ke sana.
Ketika mereka masuk, Ruchan sedang berusaha mengangkat sofa yang lumayan sangat berat.
"Kenapa angkat barang, sih. Sini, biar Airy saja yang angkat, ini!" ucap Airy.
Semua orang tertawa melihat tingkah Airy yang masih ke kanak-kanakan itu. Ia mengangkat sofa seberat itu sendirian.
__ADS_1
"Tunggu! Alhamdulillah, kamu sudah bisa bicara?" sela Adam.
"Ah iya, suaraku. Tes... tes... Suaraku kembali, Mas! Alhamdulillah,"
Cuma gara-gara teriak kepada Kakeknya, suara Airy bisa kembali. Ia sangat terharu, sampai-sampai, sang kakek memukul-mukul pundaknya.
"Memangnya kamu kenapa? Kok sampai tidak bisa bicara?" tanya Ruchan.
"Airy di racuni, Kung. Terus di culik, di bawa ke Jepang. Untung suami tercintaku ini, sama Falih bisa menyusulku kesana. Dan Pak Lek Syakir juga menelepon Om Akbar. Jadi... Alhamdulillah akhirnya bisa selamat walafiat, sehat salam sentosa, tanpa kekurangan suatu apapun!" ungkap Airy dengan nada manja kepada sang kakek.
Terjawab sudah semua kejanggalan yang ada pada diri Rifky. Mendengar bahwa putrinya diracuni sampai di culik, ia langsung memberi tatapan tajam kepada Adam, Raihan, Yusuf dan adik-adiknya yang lain. Karena mereka telah membohonginya.
"Kalian semua di hukum, lantunkan Allahul Kaffi selamat setengah jam besok di lapangan pesantren!" tegas Rifky.
"Lah, tapi Pa," ucap Adam.
"Nggak ada tapi-tapian! Adam, Bang Rai, Yusuf, Falih, Hamdan, Aminah dan Mayshita! Kalian besok lakukan hukuman itu, di bawah pantauan Gu!" tungkasnya.
__ADS_1
Semua mendapat masalah karena membohongi Rifky. Jika yang di hukum Yusuf dan yang lainnya tidak masalah. Ini Adam dan Raihan juga ikut mendapat hukuman, karena telah mengajari adik-adiknya berbohong, menurut Rifky.