Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 215


__ADS_3

"Sayang, maaf ya," bisik Adam, memeluk Airy dari belakang.


"Tiada maaf bagimu, dah sana jangan ganggu. Bu bos mu lagi sibuk kerja!" seru Airy.


"Mas Adam, kalau nggak ada kerjaan, mending jagain Rafa sana. Takutnya ada nyamuk nanti, habislah anakku jadi vampir," imbuhnya


"Jangan ngambek lagi, dong. Cuma dua hari aja. Setelah itu balik lagi kesini," desak Adam.


"Nanti aku bawa Zahra juga, gimana? Tak bujuk nanti Mbak Ifa-nya, agar mengizinkan Zahra ke sini," rayu Adam.


"Dua hari beneran, loh. Jangan ada negosiasi lagi!" seru Airy.


"Nggak ada waktu molor,"


"Nggak ada alesan ini itu!"


"Siap Bu Bos. Em, ngomong-ngomong, kita 'kan udah baikan nih. Em, em, em yuk," ajak Adam.


Malam itu, peperangan lucu itu berakhir di kamar. Mereka menyatukan kekuatan, menyatukan senyawa putih kental dan telur cinta mereka. Agar Airy bisa kembung selama 9 bulan.


Pagi hari saat sarapan, Laila pun datang. Ia juga sudah membawa barang-barangnya dari kosan. Airy juga sudah menyiapkan kamar untuknya di rumah itu, karena tidak mungkin jika Laila harus pulang pergi.

__ADS_1


"Mbak Airy, ada tamu. Katanya, namanya Laila!" seru Bisa Nar yang saat itu masih mengenakan celemek.


"Suruh masuk aja, Bi. Sekalian ajak sarapan," ucap Airy.


"Kalian harus bersikap baik sama Laila. Awas kalau bikin dia nggak nyaman! Termasuk kau, Pak Bos!" ancam Airy.


"Aku?"


"Apa hubungannya, denganku?" tanya Raihan heran.


Ini kali pertama Laila akan bertemu dengan Raihan. Airy menahan tawa, ia masih sempat membayangkan, bagaikan awal jumpa Laila dan Raihan akan terjadi.


"Assalamu'alaikum, Ry. Gue udah datang, nih. Hay, Don!" sapa Laila.


"Lu! Lu ngapain ada di sini? Ry, jelasin ke gue!" seru Laila.


"Airy!" sahut Raihan.


"Bagi Rai, dia Laila sahabat aku sama Doni di kampus. Dan Laila, kenalin, dia Abang aku. Namanya Bang Raihan, semoga kalian bisa bekerja sama tinggal di rumah ini, ya. Jangan ribut!"


Airy menyuruh Laila untuk ikut sarapan bersama dengan yang lain. Suasana sarapan menjadi hening, lirikan Laila juga tak jauh-jauh dari Raihan terus. Ia masih tidak percaya, jika Raihan adalah kakak dari sahabatnya, si pencuri putu miliknya.

__ADS_1


"Kamu kenapa nglihatin saya sampai seperti itu? Dosa! Buka mahramnya, makanlah sarapanmu dengan baik!" tegur Raihan.


"Balikin putu gue! Gue di sini, di gaji sama Airy. Jadi, lu nggak usah sok-sokan ngebosi gue," ucap Laila dengan menyipitkan matanya.


"Udah masuk perut," jawaban Adam buat Laila kesal.


"Beliin, nggak mau tau!"


Akhirnya, mereka pun ribut sendiri, membuat yang lain tidak nyaman dan memilih pindah sarapannya. Tinggal mereka berdua lah di meja makan.


"Lu ya! Pagi-pagi udah ngajak ribut, deh! Pokoknya nggak mau tau, lu harus beliin gue putu, titik!" emosi Laila.


"Mau beli di mana? Kamu yang ceroboh, saya yang di salahin. Dah sana! Urus Rafa yang benar! Assalamu'alaikum!"


Raihan yang kesal pun meninggalkan Laila di meja makan. Ia juga segera berangkat bersama Raditya. Sementara itu, Adam dan Hafiz juga sudah siap berangkat, hendak pulang kampung.


"Sory ya, Ry. Pagi-pagi dah bikin rumah lu gebrah," ujar Laila.


"Santai aja, aku mau nganter suami ke bandara dulu, ya. Kamu bisa tanya-tanya sama Doni atau Bi Nar tadi. Soalnya, sejak di sini, Doni lah yang ngurus Rafa," tutur Airy.


"Makasih ya, Ry. Lu udah ngasih gue pekerjaan, nggak jadi pengangguran lagi deh gue. Gue janji, anak lu pasti terawat sama gue," ucap Laila dengan menggenggam tangan Airy.

__ADS_1


Airy menepuk bahu Laila. Kemudian, ia pun pamit bersama Adam dan Hafiz menuju bandara. Setelah itu, Airy akan langsung berangkat ke kantor.


__ADS_2