
"Kalau punya hutang segera dibayar. Hisab kamu akan berat nantinya kalau dibawa mati," tegur Yusuf.
"Cup!"
"Omonganmu makin nyeremin, ih. Mati segala dibawa-bawa. Kan takut belum siap!" seru Hamdan dengan memanyunkan bibirnya. "Dah ayo pulang!" imbuhnya.
Yusuf kembali ke arah toko buku dan Hamdan pun menarik kerah seragamnya. Yusuf mengingatkan jika mereka meninggalkan motor kesayangan Airy di parkiran depan toko buku.
"Ya Allah, kenapa kamu parkir di sana, sih? Kenapa nggak di...." Hamdan menunjuk-nunjuk tempat parkiran, tiada tempat parkir lain selain di depan toko buku itu.
"Di... dimana? Orang kita beli buku, ya parkir di depan tokonya lah. Dah lah, aku tak ambil motornya dulu, kamu tunggu di sana kalau takut sama bendaharamu itu," ucap Yusuf.
"Hehe, suwun ya, Cup. Kamu memang saudaraku yang paling ganteng dan baik deh," goda Hamdan menoel dagu Yusuf.
"Gombal mukiyo!" seru Yusuf meninggalkan Hamdan di depan toko bunga.
Sialnya, Eni si bendahara kelas sudah ada di samping Hamdan yang tengah duduk santai di depan toko bunga itu.
"Indah, ya? Banyak lalu lalang kendaraan, sore yang sangat indah, bukan?" bisik Eni.
"Iyo, nikmat tenan...." jawab Hamdan dengan santai.
"Berapa duit buat beli komik itu?" tanya Eni berbisik lagi.
"Nggak banyak, sekitar 270ribu, haha murah, 'kan?" Hamdan masih saja belum sadar jika yang menanyainya adalah Eni.
"Oh, murah ya. Bisa beli komik, tapi hutang dua puluh ribu di bendahara aja ngutang sampai berminggu-minggu. Ingat, hutang tidak dibawa mati, hisabnya berat kalau gak ikhlas yang diutangi," tegur Eni.
Mengingat hutang, Hamdan menoleh perlahan. Ia kaget sampai loncat ke tepi jalan dan hampir saja ketabrak Yusuf.
"Astaghfirullah hal'adzim! Eni! Ya Allah, kaget aku!"
"Hamdan, kamu apa-apa, sih? Main lompat aja di tengah jalan, untung saja rem motorku aman. Bahaya tau, lain kali jangan diulangi!" tegur Yusuf.
__ADS_1
Eni terus saja mendesak agar Hamdan segera melunasi hutangnya karena uang itu akan digunakan sebagai persiapan perpisahan. Saat itu, memang Hamdan tidak membawa uang lebih, terpaksa Yusuf lah yang membayar hutang tersebut.
"Nah gini, dong. Kan enak, besok lagi jangan ngutang kalau gak mampu bayar. Anak orang kaya kok gak mampu bayar utang yang seiprit ini, sih? Malu dong sama komikmu," ledek Eni.
"Apa hubungannya hutang sama buku komik?" tanya Hamdan dengan ketus.
"Ada, dong. Kamu bisa beli buku seharga 270ribu, tapi hutang 20 ribu aja kagak bisa bayar? Jangan-jangan buku ini juga hasil ngutang sama Yusuf, ya?" Eni semakin senang meledek Hamdan.
Di sekolah, mereka memang sering kali terlihat percekcokan yang tidak penting. Eni satu-satunya siswi yang berani bertengkar dengan Hamdan di kelasnya. Dibandingkan dengan siswi lainnya yang kebanyakan naksir dengan Hamdan, Eni ini tidak! Dia anti cowok tampan seperti Hamdan.
Saat di perjalanan, Yusuf dan Hamdan hanya saling diam. Itu berarti, Hamdan memiliki hutang kepada Yusuf, dan siap-siap akan menerima hukuman lebih dari orang tuanya karena dirinya memiliki hutang.
"Cup,"
"Hm,"
"Jangan kasih tahu ke Ibu Ayahku, ya... nanti aku ganti, deh?" rayu Hamdan.
"Janji aku ganti, jangan bilang ke Ibu, ya?" Hamdan masih saja membujuk Yusuf untuk tidak mengatakan hal itu kepada Ibunya.
Sayang, terlambat. Setelah pelunasan beberapa menit lalu, Yusuf sudah mengadukan kepada Gu. Reaksi Gu juga tidak biasa, bukan masalah hutang berapa dan berapa lama. Tapi soal tanggung jawab. Hamdan menjanjikan uang itu akan dikembalikan tiga hari lagi, tapi ternyata sudah berminggu-minggu belum di kembalikan juga.
Sampai di rumah, anak-anak didik mereka sudah menunggu di depan pintu termasuk Gu. Gu sengaja pulang lebih awal untuk menasihati adiknya yang makin bandel menurutnya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab salam anak-anak.
"Kalian masuk dulu, yuk. Tunggu Kakak selesai mandi, ya. Ini, Kakak bawakan jajanan untuk kalian, di bagi rata ya. Jangan berebut!"
"Hore, terima kasih, Kak Yusuf...." suara anak-anak yang lucu itu selalu berhasil membuat perasaan dan suasana hatinya merasa jauh lebih tenang.
Sementara Yusuf masuk dan mandi, Gu meminta Hamdan untuk masuk ke kamarnya dan bicara empat mata. Gu menegur Hamdan dengan caranya, lalu Yusuf juga menegurnya dengan caranya sendiri juga. Jika Yusuf lebih memilih diam, tidak bagi Gu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sampai hutang?" tanya Gu.
"Yusuf pasti ngadu," jawab Hamdan mlenceng.
"Jangan bertameng pada yang lain. Nah Yusuf ngadu atau enggak, tapi kalau kamu memang berhutang, ya kamu yang Kakak tegur!" tegas Gu.
"Iya aku yang bersalah. Aku akan ganti uangnya Yusuf nanti," ucap Hamdan dengan nada terendahnya.
"Hamdan, ini bukan masalah uang itu di ganti atau tidak. Yusuf pasti juga tidak ingin uang itu dikembalikan. Tapi ini masalah tanggung jawab. Kakak tanya, kenapa kamu pinjam uang di bendahara? Bukankah, kakak adil dalam membagi kamu uang selama ini?" Gu menanyakan itu dengan sedikit emosi.
"Waktu itu, Kak Airy sedang menghukumku dengan tidak membekali makanan ke sekolah. Uangku tertinggal, dan untuk makan siang, terpaksa aku minjam," jelas Hamdan.
"Ok, itu memang bukan masalahnya juga. Yang jadi masalahnya, kenapa sampai lama kamu baru bayaran, dan itupun Yusuf yang membayar. Sedangkan kamu, bisa dengan gampangnya membeli komik semahal ini. Itu, namanya tidak bertanggung jawab!" tutur Gu.
"Laki-laki itu, yang dipegang tanggung jawabnya. Jika seseorang bisa bertanggung jawab, pasti dapat kepercayaannya. Setelah percaya, timbullah kesetiaan. Bukan masalah cinta, ya. Tapi itulah laki-laki. Untuk ini, Ibu sama Ayah tidak tahu, jadi jangan terulang lagi. Berpuasa saja kuat, masa tidak makan siang saja nggak kuat, aneh kamu!" imbuhnya.
Gu keluar dari kamar Hamdan, sebelumnya juga ia menyuruh Hamdan untuk segera bersih-bersih dan mulai mengajar mengaji. Gu juga meminta dirinya untuk menyadari kesalahannya sendiri, dirinya tidak kekurangan uang, tapi malah memperpanjang masalah dengan melalaikan tanggung jawab membayar hutang itu.
"Maaf," bisik Hamdan saat mengajar ngaji.
"Untuk apa?" tanya Yusuf.
"Aku akan ganti uangmu setelah ini," ucap Hamdan.
"Mie ayam depan gang enak tuh. Bisa kali traktir aku," bisik Yusuf.
"Ucup, makasih, ya. Aku memang salah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, deh!" seru Hamdan terdengar seperti sedang bermanja.
"Geli!"
"Tuh si Sodiq, dia belum meningkat juga hafalannya. Tolong kamu simak, ya. Aku mau telpon Kak Airy dulu." pinta Yusuf.
Masalah hutang selesai, Hamdan juga sudah mengakui jika dirinya memang salah melalaikan tanggung jawab. Baca isya', Airy mengirim pesan jika dirinya hendak datang ke rumah menitipkan Ayanna, Anthea dan juga Gehna sampai besok sore, karena kebetulan besok hari minggu. Airy dan Laila sedang ada pekerjaan yang mungkin akan meninggalkan ketiga balitanya.? Mampukah Hamdan dan Yusuf mengurus Balita? Apakah, Aminah akan membantunya?
__ADS_1