
Mayshita kewalahan memisah mereka bertiga. Karena Aminah malah sibuk merekam adegan yang mengasikkan itu baginya. Kemudian, ia pun mengancam kakak-kakak cantiknya dengan video itu.
"Kalian mau berhenti, nggak? Kalau enggak, nikmati hukuman dari suami kalian masing-masing, nanti hahahaha," Aminah mulai keluar tanduknya.
Seketika perkelahian itu terhenti. Airy, Laila dan Naira saling menatap. Memberi kode bahwa salah satu mereka harus ada yang bisa merebut ponsel Aminah dan menghapus videonya. Aminah sangat cerdik, ia mengirimkan video itu kepada ketiga saudara lelakinya.
"Min! Woy, lah! Jangan begini dong," kesal Laila.
"Hadits Ke-24 Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘Azza WA Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman... Naira lanjut!" tegas Airy.
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi," lanjut Naira.
"Lanjut, La!" seru Aiey.
__ADS_1
"Apa, apa? Ane kagak paham," sahut Laila membuat pikiran Airy dan Naira menjadi buyar.
"Ah kalian nggak asik, mainnya pakai hadist," kesal Aminah.
Mereka pun bertengkar lagi. Membuat Mayshita tambah kesal, apa lagi Aminah juga malah ikut ribut. Padahal mereka sudah ada di kawasan pesantren. Ini kali pertama Mayshita berbicara dengan nada tinggi kepada Airy, Laila dan Naira.
"Cukup! Tak bisakah jika kalian sekali aja, sekali aja, ketemu tanpa berdebat? Pusing aku dengernya, please lah!" emosi Mayshita membuat mereka bungkam.
Mayshita meminta mereka saling meminta maaf, setelah itu mereka kali bersama lagi, tanpa ada perdebatan. Mereka gampang sebagai menyelesaikan masalah, tapi juga gampang sekali terpancing emosi yang menyebabkan mereka harus saling beradu.
Bulan ini, setiap malam mesti selalu hujan di sertai dengan petir. Airy meminta Rafa untuk langsung tidur setelah selesai mengaji dan belajar. Sementara dirinya dan Adam, masih melihat hujan dari balik jendela kamar mereka.
"Sampai kapan hujan ini akan reda, setiap malam hujan terus, huft... " Airy menghela nafas panjang, dengan berpangku tangan.
__ADS_1
"Jangan mengeluh, hujan itu kan rahmat Allah. Kita tetap harus syukuri itu, jangan mengeluh gini, nggak baik!" tegur Adam.
"Kebun pisangku, pasti nggak akan berubah kalau hujan terus, Mas." rengek Airy seperti anak kecil.
Rasanya, Raihan ingin menahan tawa melihat wajah melas Airy. Bagaimanapun juga, Airy talah berusaha keras menanam pohon pisang itu sendirian.
"Hampir seminggu loh, Mas. Aku nanam tuh pohon, dari kebun yang tadinya suket tok, sampai menjadi kebun pisan begitu, rugi nanti aku!" masih saja Airy mengeluh.
"Ya Allah, Sayangnya Mas ini, ya. Besok Mas bantu deh kalau mau berkebun lagi, rezeki nggak bakal kemana, kok. Pasti kebun pisang Mama Airy baik-baik saja. Bismillah!" Adam mengusap kepala Airy.
"Bukan masalah dananya, Mas. Aku sendirian loh, nyemprot rumput, terus cangkul, nanam juga. Kan sia-sia tenagaku, uang masih banyak di bank nasional Airy," kesal Airy.
"MasyaAllah, rajinnya istriku. Jangan takabur ya, besok kita tengok kebunnya, insyAllah pohonnya baik-baik saja. Bobok, yuk!"
__ADS_1
Manja sekali Airy, bahkan mau tidur pun minta di gendong sampai ke kasur. Seperti biasa sebelum tidur, Airy minta camilan dulu, kebiasaan lama nya tak pernah bisa di ubah. Tapi Adam, selalu menuruti kemauan sangat istri. Adam terlalu memanjakan Airy, berbeda dengan Aisyah dulu, seusianya ia sudah bisa berpikiran dewasa.