Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 397


__ADS_3

Yusuf terbangun dari tidurnya karena mendengar ada suara barang terjatuh di dapur. "Jam segini, siapa yang di dapur?" gumamnya. Ia pun beranjak dari kasurnya dan mendapati Raditya sedang membuat mie instan. Hampir saja Raditya ingin Yusuf pukul menggunakan kemoceng.


Mereka akhirnya makan malam mie instan berdua, saling menceritakan masalahnya satu sama lain. Hubungan Raditya dan Aminah memang sudah membaik, tapi Raditya masih khawatir akan kehadiran Lee Jeong Tae. Biar bagaimana pun juga Aminah masih muda dan berhak jatuh cinta dengan lelaki lain.


"Ikat saja, tunangan gitu? Bukannya orang tua Mas Raditya menentang hubungan kalian ya? Perjodohan kemarin dengan Nabila bagaimana? Aku tidak ingin Aminah terluka lagi," ujar Yusuf menyeruput mie nya.


"Aminah sudah beberapa kali terluka. Tapi, dia masih bisa mengontrol emosinya, dia sadar dengan mencintai sesama umat yang berlebihan pasti akan merasakan sakit juga. Tapi, aku tidak ingin air matanya jatuh lagi hanya karena cinta itu," lanjutnya.


"Aku ingin sekali langsung menikahinya, tapi usianya belum genap. Aku juga masih ragu dengan Ibu dan Mas Rasid, Suf. Aku janji, akan bahagiakan Aminah, tolong beri aku waktu lagi, ya?" begitu tulusnya Raditya. Perasaannya memang tulus, hanya saja restu Ibu belum ia dapatkan.


Memang, laki-laki tidak membutuhkan wali. Namun, sampai kapanpun, surga Raditya tetap akan pada Ibunya. Se-benci apapun Ibunya kepada dirinya, dialah yang merawat Raditya sampai besar. Dengan tangannya juga Raditya bisa berjalan dan tumbuh besar meski tanpa ketulusan kasih sayang seorang Ibu.


Terbangunlah Hamdan, lalu ikut bergabung makan mie di tengah malam. Ditambah lagi, Hamdan menceritakan jika dirinya bertemu lagi dengan gadis yang memanggilnya Ham Ham beberapa waktu lalu. Itu sungguh membuatnya pusing.


Dengan begitu, Yusuf juga tak segan membicarakan masalah gadis bermata biru itu kepada Raditya dan Hamdan. Tentu saja membuat mereka berdua kaget dengar kata cucu Mafia dan latar belakang lain dari gadis itu.


"Jadi, itu kalung....?" tanya Hamdan.


Yusuf mengangguk. Mereka percaya akan takdir Allah, jadi tak ada dari mereka yang mengeluh tentang masalahnya. Hanya saja terkadang mereka lelah menghadapinya.


Karena terlalu lelah mencurahkan hati masing-masing, mereka sampai ketiduran di ruang tengah sampai alarm subuh Yusuf berbunyi. Bergegas Yusuf membangunkan Raditya dan Hamdan untuk sholat subuh berjamaah.


"Mas, bangun. Sholat subuh!"


"Hamdan, ayo bangun. Sholat subuh, kita ada kelas bahasa pagi ini,"


Meski tidak dalam satu ruangan, jadwal Hamdan dan Yusuf sering bersamaan ketika ada kelas bahasa di kampus. Yah, mungkin memang sudah kebiasaan bagi mereka melaksanakan sholat subuh. Bangun pun seperti tak ada beban di tubuh mereka.


"Pagi ini, aku sudah bilang kepada Ibu dan Ayah. Kalau kita akan sarapan sendiri, jadi kalian mau makan apa? Biar aku yang masak!" tanya Hamdan selesai mandi langsung ke dapur tanpa memakai baju lebih dulu.


"Mbok yo pakai bajumu dulu, Ham. Sana biar aku yang masakin, aku calon koki di sini, kalian mau makan apa?" sahut Yusuf yang sudah selesai rapi-rapi.


"Hih, bener juga. Aku mau ini aja deh, bubur keknya enak. Sama goreng ayam ya, ingat? Aku gorengin paha," Hamdan kumat banyak maunya.

__ADS_1


"Mas Raditya?" tanya Yusuf.


"Aku apa aja deh, tapi emang enaknya makan bubur. Samain aja sama si Hamdan tadi," jawab Raditya.


"Hari ini, cuacanya bagus juga karena musim gugur. Aku akan mengajak Eun Mi untuk menemaniku jalan-jalan nanti. Sengaja buat Hae Jun cemburu karena tidak peka dengan perasaan Eun Mi," batin Yusuf sibuk dengan pisaunya.


Saat mereka sarapan, terdengar bel berbunyi. Hamdan menduga jika itu adalah Aminah, karena Raditya di rumahnya, jadi pasti Aminah ingin mengapel. Saat membuka layar lcd, ternyata bukan Aminah, Hamdan yang tidak mengetahui itu siap, langsung teriak memanggil Yusuf.


"Cup, sini cup!"


"Ada tamu, siapa dia?" tanya Hamdan.


Yusuf segera mendekat dan mengatakan jika dirinya mengenal pria itu, yah... pria itu adalah Lee Jeong Tae. Pria yang menyukai Aminah dan yang Yusuf antar kemarin sampai muntah di jaketnya.


"Kamu lanjut sarapan saja, dia tamuku," ucap Yusuf.


"Wih, banyak banyak temenmu, Cup. Aku yang orang asli sini aja masih susah mencari teman. Kamu dah punya teman banyak aja, yo wes aku tak maem dulu, ya..." Hamdan meninggalkan Yusuf di depan pintu.


"Kau, orang yang mengantarku, pulang?" tanya Jeong Tae.


"Masuk dan duduklah, kita bicarakan saja di dalam," ucap Yusuf.


Sebelum memulai bicara, Yusuf mendapat pesan dari Hae Jun dan Eun Mi jika kelas diundur dia jam karena Profesornya sedang ada keperluan. Ia menjadi ada waktu untuk bicara dengan Jeong Tae di rumah. Melintas lah Hamdan dan Raditya. Raditya ingat dengan Jeong Tae, ia hanya tersenyum namun tidak menyapanya.


"Dia.. tinggal bersamamu?" tanya Jeong Tae menunjuk Raditya.


"Iya, aku tidak tega jika dia harus mengeluarkan banyak uang dan tinggal di hotel selama satu minggu. Kenapa? Kau tak merasa tersaingi, bukan?" goda Yusuf.


"Ah, tidak! Aku tidak merasa begitu, hanya... tunggu! Kau tau? Kau tau perasaanku?" tanya Jeong Tae mulai panik.


"Haha, kau meracau dan mendesis kepadaku sebelum kau muntah. Jika kau jatuh cinta dengan adikku, maka buktikan! Kejar cintamu sebelum mereka menikah," ucap Yusuf mengetes Jeong Tae.


"Mereka akan menikah?" tanya Jeong Tae tambah panik.

__ADS_1


"Jojo, oh, bukan, Jenong...." Yusuf masih saja susah memanggil nama Jeong Tae.


"Jeong Hae. Jika kau sulit menyebut nama itu, panggil aku dengan nama Lee," sela Jeong Tae.


"A, mianhae. Pak Lee, perlu kamu ketahui, di negara kami.. yang seagama dengan kami, tidak pacaran dan mereka akan menikah melalui proses ta'aruf. Kamu bisa cari di internet apa itu ta'aruf, oke?" Yusuf ini semakin mengesalkan semenjak di Korea.


Jeong Tae langsung membuka situs internet dan mencari tau apa itu ta'aruf.


"Permisi, apakah wifi mu mati? Kenapa aku tidak bisa akses internet?" tanya Jeong Tae.


"Pakai ponselku," ucap Yusuf dengan memutar matanya.


Ta'aruf adalah kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan penghuninya. Ta'aruf dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarga. Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, ta'aruf berbeda dengan pacaran.


"Jadi mereka tidak melakukan pacaran, hanya pengenalan, lalu jika cocok keduanya akan menikah?" tanya Jeong Tae.


"Anda pintar sekali!" seru Yusuf.


"Tapi mereka saling mencintai, bukan? Aku tidak ingin merusak hubungan cinta mereka. Tapi, aku juga mencintai Minah, apakah aku boleh memperjuangkannya?" tanya Jeong Tae.


"Pada dasarnya dia lelaki yang baik, aku tidak ingin hatinya hancur karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, disisi lain, aku juga tau perjuangan Mas Raditya dan Aminah," batin Yusuf.


"Dengarkan kata hatimu saja, apa yang menurutmu baik, itu lakukan. Selebihnya, hasil yang akan menentukan hatimu harus bagaimana, itu pikir belakangan saja, ayo sekarang kita sarapan!"


Yusuf tidak ingin terlalu ikut campur dengan masalah hati siapapun. Karena hatinya sendiri, sudah terikat dengan gadis yang tidak ia ketahui dimana keberadaannya.


Pada dasarnya aku mau end novel ini.


Ternyata, masih ada stok bab yang belum aku revisi dan up. Maaf atas ke-plin-planan ku ya....


Nggak papa kan kalau nyambung bab dikit lagi?


Kemarin libur up karena emang istirahat dan membenahi novel. Kania. Maaf ya buat menunggu kalian.

__ADS_1


__ADS_2