
Malam yang sangat sibuk bagi Raihan. Malam itu ia lembur untuk masa terakhirnya di Jerman. Karena setelah ini, ia akan mencoba ke negara lain untuk menambah ilmu pengetahuannya. Akbar yang geram mendengar Raihan sama sekali tidak pulang pun menelponnya. Tak seharusnya Raihan seperti itu, pulang setahun sekali saja itu jauh lebih cukup dari pada tidak pulang sama sekali.
Waktu itu, Akbar sedang mengunjungi pesantren dan mampir ke rumah Rifky. Mendengar cerita dari Rifky, yang Raihan tidak pernah pulang membuatnya sangat marah.
"Sudahlah, dia masih muda. Biarkan dia terbang sesuka hatinya, dia lagi cari jati diri, Bang." ucap Rifky dengan nada yang lemah, karena baru sembuh dari sakitnya.
"Hahaha, Kak Rifky bisa berkata seperti itu atas dasar apa? Aku, Almarhumah Kak Ais, dan Syakir saja juga sekolah dan kerja di luar negri. Tapi kami masih ingat pulang. Beda dengan Kabir yang memang seorang perwira dulu, tapi dia tetap ingat pulang! Aku khawatir akan imannya nanti," kesal Akbar.
"Kak Rifky tau, 'kan? Bagaimana negara itu? Muslim di sana sangatlah minim, aku yakin kamu tidak butuh uang dan barang mewah dari Raihan! Suruh dia pulang!" geramnya.
__ADS_1
Melihat Raihan tidak mengangkat telfonnya, Akbar semakin kesal. Ia meminta seluruh keluarga untuk menelponnya, agar Raihan sadar jika ada keluarganya yang mengharapkan ia pulang ke tanah air. Sekian lama, akhirnya Raihan pun mengangkat nelfon dari, Akbar.
"Assalamu'alaikum, ada apa Om?" tanya Raihan.
"Wa'alaikumsalam, ada apa, ada apa. Sudah berasa bangga hidup sendiri, kah? Nggak ingat pulang? Ingat, di rumahmu masih ada satu orang tua yang masih butuh perhatianmu!"
"Om, tapi... "
Raihan hanya diam dan mendengarkan, ia tak mampu menyela perkataan dari Om Abangnya itu.
__ADS_1
"Kamu lihat Airy dan suaminya. Mereka rela tinggal di kawasan pesantren hanya demi Kakung dan Uti, mereka juga bisa memantau kesehatan Papamu yang sudah mulai menurun. Tidakkah, kau lebih egois dari Airy, Han? Pulang secepatnya, atau kami tidak akan menganggapmu keluarga lagi!Wassalamu'alaikum!"
Akbar menutup telfonnya begitu saja. Ia sangat emosi. Kebingungan melanda Raihan, pekerjaannya belum juga selesai, namun keluarga sudah menyuruhnya agar cepat pulang.
"Papa, maafkan Raihan. Ini tahun terakhir Raihan di sini, Pa. Setelah ini Raihan janji akan pulang, bukan maksud Raihan tidak ingin merawatmu, Pa." sesalnya.
"Bebanku sungguh berat, aku kakak pertama dari banyak adik laki-laki dan perempuan. Perusahaan, pesantren juga awalnya aku yang handle, tapi kenapa mereka seakan mengecap ku sebagai anak yang tidak tahu di untung," gerutunya.
"Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim. Apa yang aku katakan ini, yang namanya orang tua yang harus di hormati, Raihan. Sadarlah! 1 orang tua mampu merawat 10 anak, namun sebaliknya, belum tentu 10 anak mampu merawat 1 orang tuannya, ya Allah ya Rabb,"
__ADS_1
Segera Raihan menyelesaikan pekerjaan, ia juga ingin pulang. Berkumpul dengan keluarga lainnya, namun beban wasiat dari ayah angkatnya masih mengganggu pikirannya. Di sisi lain, Papa nya juga membutuhkannya. Kini, hanya doa dan usaha yang menemaninya sepanjang waktu.