
"Laila, maafkan saya. Dengarkan penjelasan saya dulu, ya. Masuk dulu, nggak enak kalau karyawan lain dengar," pinta Raihan.
"Tadi aku, sekarang saya. Lu pengennya di mengerti terus sih, cowo mah gitu!" ketus Laila masih marah.
"Udah masuk!"
Di dalam, Raihan meminta Laila untuk duduk dan menunggunya mengganti pakaiannya. Karena satu jam lagi, ia akan menghadiri tender itu. Setelah selesai, Raihan kembali duduk dan meminta maaf atas apa yang ia lontarkan sebelumnya kepada Laila.
"Udah lah, gue bukan tipe pendendam. Terus kapan nih lu berangkatnya?" tanya Laila.
"Kamu bukit, ya. Soalnya, Radit sedang keluar. Lagian, Rafa ada yang nunggu, 'kan? Kebetulan saya butuh asisten," pinta Raihan.
"Wani piro?" tanya Laila.
"Dua kali lipat dari gaji yang Airy beri per harinya, gimana?" usul Raihan.
"Setuju, ayo berangkat!"
Di luar, Airy main saja berusaha bisa mendengar apa yang Abang dan sahabatnya itu bicarakan. Hingga, Ani yang saat itu nemanggilnya saja, ia tidak dengar.
"Bu Calista, Bu. Bu Calista! Bu Calista!" akhirnya sampai ke 12x Airy baru dengar.
__ADS_1
"Stts, apa sih?" kesal Airy.
"Bu Calista, ngapain di sini? Kenapa nggak langsung masuk saja?" tanya Ani.
"Saya lagi nguping, ngintip dan penasaran. Begini kah kau tak tahu, Ani!" hardik Airy.
"Bukan begitu," jawab Ani.
"Apakah karena kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Bukan Rhoma... "
"Apakah kau sudah ada yang lain?"
"Habisnya ganggu saja sih, dah sana. Udah waktunya pulang, ngapain masih di sini? Lembur?" kesal Airy.
Laila dan Raihan pun keluar dengan tatapan curiga. Dengan senyum-senyum tak berdosa, Airy meminta mereka berdua melanjutkan, dan langsung kabur begitu saja.
"Monggo, Lanjutkan kisanak! Assalamu'alaikum, kaboor!" ucap Airy.
Raihan pun mengajak Laila untuk ikut bersamanya. Mendengar gaji dua kali lipat, dari yang di berikan Airy, Laila pun langsung setuju saja. Bahkan lebih semangat dari pada Raihan.
__ADS_1
"Demi duit, hahaha. Mayan lah, nggak salah gue jadi cewek matre," Laila bersenandung.
Ketika asyik bersenandung, tak sengaja Laila menabrak pintu lobi, "Aw!" jeritnya. Raihan pun tertawa hingga kentut dengan suara menggelegar cetar membahana. Saat ini, mereka akan menjadi partner kerja yang solid, soal putu dan beberapa kesalah pahaman di antara mereka, mereka redam dahulu.
"Ini tempatnya?" tanya Laila.
"Iya, kamu tunggu di sini, kalau lapar kamu bisa makan di sana. Apa aja! Soal bayar, nanti kasih bon nya ke saya, Assalamu'alaikum!" tutur Raihan.
"Wa'alaikumsalam, yang bener nih? Gue bisa makan sepuasnya?" tanya Laila.
Raihan mengangguk.
"Bos! Semangat!" teriak Laila.
Entah apa yang ada di otak Raihan, ia tersenyum mendengar teriakan semangat dari Laila. Masuklah Raihan ke ruangan yang memang sudah banyak pengusaha-pengusaha. Dari yang muda sampai yang sudah senior, semua menghadiri rapat penting itu.
"Oh Hai, Bapak Raihan Pratama. Maaf, saya tidak tahu nama panjang, anda. Mari saya kenalkan dengan yang lain," sambut Hans.
Semua orang berkenalan dan bersalaman dengan Raihan. Banyak yang mengenali leluhur dari keluarga Handika. Yang orang-orang tanyakan, mengapa cucu penerus perusahaan tidak memakai nama belakang Handika.
"Apakah, itu suatu masalah? Dan mungkin malah bisa menjadi kurang afdol nya saya menjadi pemimpin di perusahaan keluarga, saya?" tanya Raihan dengan santai.
__ADS_1
"Saya memiliki saudara kembar. Perempuan, dia yang memiliki nama belakang keluarga Handika. Saya harap, itu tidak akan menjadi masalah di rapat kali ini," sambungnya.
Suara, cara tutur sapa, dan logat bicara Raihan sama seperti Arman Handika, buyutnya. Bukan hanya mirip dengan Arman, keberanian dalam melangkah di dunia bisnis juga sama seperti Ami-nya, Aisyah.