Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 108


__ADS_3

Di tempat lain, Raihan sedang mencoba menulis surat lagi untuk orang rumah dan Airy. Entah kenapa yang sangat ia rindukan adalah Airy, Raihan merasakan ada beberapa perasaan yang mengganjal dihati tentang Airy. Ketatnya asrama itu, tidak boleh membawa ponsel jika memang tidak sedang mendesak.


"Sedang apa sih? " tanya Raditya.


"Kirim surat! " jawab Raihan.


"Buat? " tanya Raditya.


"Airy sama Ami, " jawab Raihan.


"Nitip ya kalau mau kirim, hehehe. Aku malas keluar nih. Nitip yaaa, " ujar Raditya.


Selesai menulis surat, ia pun pergi ke kantor pos dan mengirimkan suratnya itu, serta titipan dari Raditya. Sambil jalan-jalan sore, Raihan membeli sesuatu. Tidak sengaja ia melihat Azimah sedang bersama Kakak dan bayinya, nampak sekali Azimah yang berbeda, Azimah ngakak segar dan bersih. Ia juga tersenyum dengan bayinya, dan disebelahnya juga ada Ibunya.


Melihat Azimah bahagia, Raihan menjadi lega. Setidaknya, ia sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Dengar-dengar, suami Azimah dihukum dan masuk bui karena telah melakukan penipuan, perjudian dan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan menelantarkan anak dan tidak mau menafkahinya.


"Airy, Abang kangen sama kamu. Kamu lagi apa disana, semoga Allah selalu memberimu kesehatan dan kebahagiaan, baru juga 1 bulan lebih kita berpisah, rasanya sudah bertahun-tahun saja, " Air mata menetes.


"Ah cengeng nya aku, aku nggak bisa tidak meneteskan air mata jika menyangkut Airy dan Amiku. Semoga saja, aku pulang, aku sudah memiliki keponakan yang nakal hahah, biar tau rasa itu Airy. " Raihan kembali ke asrama dengan membawa beberapa makanan, camilan malam dan beberapa barang kebutuhannya.


3 hari berlalu....


Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh di rumah, Airy menyiapkan sarapan seperti biasa. Ia ada kuliah pagi, jadi harus menyelesaikan semuanya dengan cepat di pagi hari.


"Assalamu'alaikum ya zawjati, " salam Adam pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam ya zauji. Duduk yuk, kita sarapan. Aku ada kuliah pagi hari ini, bisa ngantar kan? " tutur Airy.


"Bisa dong, aku mandi dulu ya. Kamu siapin aja dulu sarapan buatku, " ucap Adam dengan lembut.


"Siap pak Bos! " jawab Airy semangat.

__ADS_1


Sembari menunggu Adam selesai mandi, Airy juga menyiapkan pakaian mana yang akan Adam kenakan. Ia juga merapikan beberapa buku materi yang harus ia bawa sesuai jadwal. Kebetulan siang nanti Adam akan ke perkebunannya, Airy pun menyiapkan baju ganti untuk nanti Adam pakai.


"Wah, apa ini? Istriku memang sangat cekatan! Terima kasih ya, semakin hari, kamu semakin dewasa. Terima kasih sayang, " ucap Adam seraya mencium kening Airy.


"Sama-sama suamiku. Oh ya, hari ini ke perkebunan kan? Aku sudah siapkan baju gantinya buat siang nanti. Nggak usah jemput, aku langsung nyusul aja diperkebunan! " Seru Airy.


"Tumben? Tapi baguslah, makin semangat kalau ditemani istriku di perkebunan, " ucap Adam memeluk Airy.


"Aku mau refresing otak, manjat pohon rambutan adem kali ya, " seketika senyuman Adam berubah menjadi datar.


Bukan Airy jika sulit untuk mengubah kepribadiannya, tapi Adam tetap memperbolehkan, kemungkinan Airy juga jenuh dengan kegiatan di kampusnya. Selesai sarapan, Adam mengantar Airy dan Rindi ke kampus, kali ini Rindi yang menyetir, dan membiarkan dirinya menjadi obat nyamuk dengan memandang pasutri di belakangnya bermesraan.


"Kalian anggap aku ini apa! Supir kalian? Kau juga punya perasaan Ya Allah Ya Rabb, " kesal Rindi.


"Maaf, " ucap Airy.


"Aku maklum jika Airy seperti itu. Tapi Mas Adam! Kau seorang panutan, bersikaplah seperti seorang panutan! Kesal aku! " Rindi semakin panas hati.


"Iya deh, maaf ya. Semoga kamu segera di dekatkan dengan jodohmu, Amiinn. " doa Adam membuat Rindi semakin mendidih.


"Belajar yang rajin ya, aku pulang dulu. " kata Adam.


"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh, " salam Adam, langsung tancap gas begitu masuk mobil.


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, "


"Lihat, si Maureen, nempel mulu sama si Raka. Memalukan, baru aja kenal udah kek gitu!" seru Rindi.


"Haih, jangan bikin otak kita pusing sama mereka. Hayuk masuk! " Airy terkesan cuek dengan urusan orang lain. Bagaiamana ia akan jatuh cinta dengan pria lain kalau begitu.


****

__ADS_1


Kelas selesai, Airy dan Rindi menuju ke kantin karena memang sudah kelaparan sejak tadi. Entah kenapa Rindi hari ini berbeda, ia lebih sensi dari hari sebelumnya.


"Kenapa sih? Sensi amat dari tadi? Bukan lagi pms kan?" tanya Airy.


"Memangnya, sensi di perbolehkan hanya sedang pms? Aku lagi males sama Ibukku, dia minta aku kuliah di dekat ibukku kerja. " Jelas Rindi.


"Ya bagus dong, berangkat aja! " kata Airy santai.


"Oh gitu? Jadi kamu seneng kalau aku pergi? Aku kan ajak kamu kuliah disini juga karena aku nggak mau jauh darimu, " ketus Rindi.


"Jangan lakukan itu, kau tak mau jauh dariku karena kau merasa ada hutang budi sama Kakung ku kan? Its oke, kamu udah melakukan yang terbaik, pergilah! Kejar impianmu!" ucap Airy sambil menyeruput kopi nya.


"Jahat mulutmu! Makan aja deh. " Rindi meneruskan makan mie ayamnya.


Disamping meja mereka, Maureen dan sahabatnya itu sedang makan disana. Mereka seperti sengaja mendekat ke Airy dan Rindi, agar Maureen bisa pamer jika dirinya tadi pagi di jemput oleh Raka. Padahal ia sendiri yang merengek minta di jemput.


"Tau nggak? Aku tadi pagi di jemput sama Raka, baik banget ya. Kenapa ya? " ucap Maureen.


"Wah hebat dong, jangan-jangan dia suka lagi sama kamu. Eh kita jadi aku kamu sekarang hehehe, ehem biar lebih dewasa ye kan? " sambung Sisil.


Krik... Krikk...


Ketidak nyambungan mereka membuat Airy dan Rindi. Bahkan Airy sampai tersedak mie yang sedang ia makan.


"Minum, minum. " kata Rindi memberikan air minumnya.


"Alhamdulillah, " ucap Airy.


"Kalian ngomong kek gitu apa faedahnya sih? Mana ngomong keras kek begono, ati hati jatuh sakit loh! " tutur Airy dengan tertawa.


"Maksut kamu apa! kalau cemburu bilang lah, pastiin kamu cemburu kan? Kamu nggak bisa deketin cowok seganteng Raka, miskin! " Ketus Maureen.

__ADS_1


"Halah, sebelum kamu duduk di bangku belakang motor Raka, aku juga pernah duduk disana. Hahah lagian, aku sama sekali nggak tertarik sama siapa yang kamu kejar. Assalamu'alaikum! " Airy pergi begitu saja, ia juga sudah selesai makan siang.


Sebelum Rindi mengikuti Airy, ia juga sempat menertawakan sifat Maureen yang norak itu. Padahal katanya anak kepala desa yang terpandang.


__ADS_2