Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 212


__ADS_3

Semenjak Airy dan Raihan berada di ibukota. Mereka juga tetap merasa jauh, karena pekerjaan yang menyita waktu kebersamaan mereka. Bahkan, Adam dan Airy juga tak memiliki banyak waktu berdua.


"Aku jadi tau, rasanya kurang kebersamaan bersama orang tua. Ami pasti sangat sibuk seperti ini dulu, sudah jadi Dokter, beliau juga masih harus mengurus perusahaan ini," gumam Airy.


"Ditambah, dengan kenakalan ku dulu, pasti beliau tambah pusing juga karenaku. Ami, maafkan aku, ya. Sekarang, aku tahu bagaimana di posisi Ami," ucap Airy, saraya mengusap foto keluarganya.


Ia juga mengeluh tentang Raihan yang kini sudah jauh berubah. Airy berpikir, bahwa sekarang, Abangnya itu tak lagi miliknya seutuhnya. Ada saatnya, Raihan membangun rumah tangga, dan menatap masa depannya.


"Bang Rai kalau udah nikah nanti, pasti melupakan aku. Nggak bela aku lagi," gerutu Airy.


"Assalamu'alaikum," salam Adam.


"Wa'alaikumsalam. Wah, jajan apa ini?" tanya Airy semangat.


"Nasi rames, jadi inget rumah nggak sih? Setiap kamu pulang ngampus, pasti kita beli nasi rames dulu," ucap Adam lesuh.

__ADS_1


"Iya, kangen kebersamaan dengan Rindi, Maureen, Raka dan Kak Doni. Apa kabar ya mereka?"


"Pasti mereka lupa sama, aku!" Duganya.


Adam menyuapi Airy dengan telaten, begitu juga dengan Airy makan dengan lahap. Karena sudah lama ia tidak si suapi oleh suaminya. Dari balik pintu yang tidak Adam tutup rapat kembali, Hans melihat semua itu. Ia berniat untuk membuat Adam di pecat dari kantor, dan berharap menjauh dari perempuan yang ia cintainya, dengan memfitnahnya.


"Aku harap, setelah ini kamu pergi sejauh mungkin dari hadapan Airy, Adnan!" harap Hans.


Dengan tidak tahu malu, Hans mengumumkan bahwa dompetnya telah hilang. Pihak keamanan sudah melihat rekaman cctv, namun tidak ada tanda-tanda adanya pencurian. Hans menginginkan penggledahan dilakukan di kantor saat itu juga. Raihan dan Airy juga ikut menyaksikan ketika semua orang di geledah tas nya masing-masing.


"Adnan? Itu ndak mungkin!" tepis Hasan dengan merebut tas milik Adam.


"Permainan kotornya ini, jijik kali aku sama cowok model begini, Bang," bisik Airy.


"Kita lihat aja dulu, Ustad Adam juga 'kan udah sembuh, udah kembali ingatannya. Kita nikmati pertunjukkan ini," jawab Raihan.

__ADS_1


Ketika semua karyawan tidak percaya jika Adam lah yang melakukan pencurian itu, Hans tetap saja ngotot agar Adam di jebloskan ke kantor polisi. Atau tidak, ia harus di pecat dari kantor ini.


"Maaf Pak Hans, kapan ya saya bertemu dengan, anda?" tanya Adam.


"Jika saya memang berniat mencuri, sudah dari tadi saya kabur. Dan perasaan, kita juga jarang bertemu, bukan? Kita hanya bertemu ketika di ruangan, Bu Calista," jelas Adam.


"Bu Calista, Pak Raihan! Kenapa kalian diam saja ketika karyawan kalian ada yang mencuri barang milik klien kalian!" pekik Hans.


"Tuan Hans Syahputra. Anda pikir, saya tidak tahu jika semua ini rencana yang Pak Hans buat sendiri untuk memfitnah, suami saya! " seru Airy.


"Mana mungkin OB ini suamimu, Bu Calista. Jangan karena dia karyawanmu, terus kami bisa membelanya seperti ini!" teriak Hans.


"Biar saya tegaskan sekali lagi ya Pak Hans. Laki-laki yang anda fitnah ini adalah suami saya. Lelaki yang 2 tahun lalu menikahi saya, dan ayah dari anak saya," jelas Airy.


"Dan kebetulan, sebelum ini, beliau mengalami amnesia. Jadi bekerja menjadi OB, karena memang yang menemukan tinggal di kota ini. tapi Alhamdulillah Wa syukurillah ingatannya sudah kembali," tungkasnya.

__ADS_1


Airy juga menceritakan kejadian beberapa lalu yang menimpa suaminya. Bukan hanya Hans, semua karyawan pun juga ikut tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Airy. Mendengar Raihan membenarkan semua itu, semua orang pun baru percaya. Dan apa yang dilakukan oleh, Hans? Dia mengancam jika ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Airy.


__ADS_2