Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 104


__ADS_3

Disisi lain, Raihan meminta Raditya untuk membantu wanita itu. Menurut penjaga asrama, wanita itu bernama Azimah, wanita berusia 20 tahun, ia dijadikan budak oleh suaminya. Sering dianiaya, bahkan kadang tidak diberi makan oleh suaminya. Karena tidak ingin menimbulkan fitnah, Raihan meminta teman Syakir yang menjadi polisi untuk mengawalnya, atau memberi perlindungan agar tidak terjadi masalah.


2 hari berlalu, dan entah kenapa wanita itu seakan-akan tahu jika hari itu adalah hari libur. Bahkan kampus mereka juga akan diadakan libur selama tiga hari.


"Ini yakin nih, maksutnya kita bantu itu perempuan?" tanya Diaz meyakinkan lagi.


"Kalau kamu ndak yakin, mending ndak usah ikut aja lah. Dari pada nanti di jalan berubah pikiran lagi, kacau semuanya. " ucap Raditya sedikit kesal.


"Kita berdua yakin, jika kamu ndak yakin, doakan saja kita selamat sampai tujuan dan kembali lagi dengan selamat. Utuh tak kurang suatu apapun..! " sahut Raihan.


Karena Raihan dan Raditya yakin, Diaz berusaha setia kawan kepada mereka. Ia pun akhirnya mau juga ikut mengantar wanita itu. Setengah jam sudah mereka menunggunya. Namun, wanita itu tak datang juga, mereka fikir wanita itu hanya main-main saja. Ternyata wanita itu benar-benar siap, bahkan ia seperti sudah membawa bekal untuk perjalanan mereka nanti. Tetapi ia tidak membawa anaknya, wanita itu mengucapkan salam menggunakan bahasa isyarat.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, " jawab mereka bertiga.


Ini kali pertama Raihan, Raditya, dan Diaz melihat wanita itu tersenyum. Wajahnya nampak sangat cemerlang, dan ternyata wanita itu sangat cantik. Akan tetapi, ia kembali mengenakan cadarnya, orang di Arab menggunakan cadar bukan berarti mereka orang muslim atau memang bercadar, karena bercadar nya disana ada yang menghindari teriknya matahari yang sangat panas dan menghindari debu.


"Masya Allah, ayune. Jebul ayu e nek mesem, ahh ngerti ngene aku gelem bantu kat awal. (Cantiknya. Ternyata cantik kalau tersenyum, ahh tau gitu aku mau bantu sejak awal) " ucap Diaz.


"Matamu.! ono wedokan wae langsung, opo gunane kanjeng Nabi ngajari istighfar. (Ada wanita saja langsung, apa gunanya baginda Nabi mengajari istighfar). " sahut Raditya.


"Wah, ngadi-ngadi iki bocah, wasem kok!! " ke apa Diaz.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim, udah ngapa..! Malah bertengkar, nggak jelas banget sih kalian ini, ayo berangkat.! " kata Raihan.


"Linadhhab..! (Mari kita berangkat) " ajak Diaz.


Tiba-tiba saja Diaz menjadi lebih lembut kepada Azimah. Azimah hanya menganggukkan kepalanya saja. Perjalanan sangat panjang, untung saja Raihan sudah meminta jalan yang benar kepada polisi itu.


"Untung saja salah satu polisi ternama disini kenal dengan Pak Lek mu Rai," ucap Raditya.


"Syukur Alhamdulillah, harus bener-bener berterimakasih ini. Dan beberapa orang ternama juga ada yang kenal dengan Kakung dan Pak Lek ku. " tutur Raihan.


Perjalanan tidak begitu mudah, banyak rintangan yang mereka lalui. Mulai ditolak oleh kondektur bus, dituduh membawa lari istri orang hingga dituduh menjadi penyusup. Semua itu bisa diselesaikan dengan surat jalan/pengantar yang dimiliki Raihan dari polisi yang ia kenal.


Ketika pintu diketuk, salah satu asisten rumah tangga disana nampak terkejut dengan kedatangan Azimah yang membawa tiga pria bersamanya. Asisten rumah tangga itu segera memanggil Ibu dan Kakak Azimah. Dipeluknya Azimah oleh ibunya.


Azimah juga memperkenalkan Raihan, Raditya dan Diaz kepada Ibunya, tentunya menggunakan bahasa isyarat. Ibu itu melihat Raihan dan tersenyum kepadanya, lalu menyuruhnya itu masuk.


" 'Udkhul min fadlik, (mari silahkan masuk) " Ibu Azimah mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk.


Kini mereka bertiga mengetahui fakta tentang masalah yang dialami Azimah. Azimah bukan bisu, ia mungkin sangat tertekan, atau tekanan batin karena disiksa oleh suaminya. Mereka baru menikah 1 tahun, ketika Azimah hamil berusia dua bulan, suaminya mulai mabuk-mabukan dan main wanita lain. Karena usahanya sudah semakin pesat, ia merasa memiliki segalanya. Padahal, semua usaha yang suami Azimah miliki juga berasal dari almarhum Ayah Azimah.


Kakak Azimah, Mahfudz, ia sudah menyiapkan hadiah untuk Raihan, Raditya dan Diaz, bentuk rasa terimakasih nya karena sudah berani menentang peraturan di Kota itu. Sebagaimana, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh berjalan beriringan.

__ADS_1


Karena yang dilakukan mereka bertiga secara ikhlas, mereka tidak meminta apa-apa. Hanya saja, mereka ingin pulang dengan selamat dan tepat waktu sampai asrama. Perjalanan pulang lebih cepat, karena Mahfudz mengantarnya menggunakan kenderaan pribadi.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai asrama." ucap Diaz.


"Iya Alhamdulillah, walaupun kita kemalaman, semoga saja penjaga masih mau membukakan gerbang untuk kita, " kata Raihan dengan jalan cepat.


"Jalannya santai saja dong..!! " kata Raditya, ia sudah mengeluh lelah, karena perjalanan yang mereka tempuh membutuhkan waktu lama.


Untung saja penjaga itu sangat baik, karena ia juga mengenal Syakir dan Seto dulu, akhirnya dengan senang hati penjaga itu mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk.


"Ahh leganya, udah mandi, perut kenyang. Tinggal botik hahaha, " ucap Diaz merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Botik? Apatuh? " tanya Raihan.


"Bobok cantik Rai, emang rada-rada dia, " sahut Raditya.


"Ternyata sukses menolong orang sampai akhir itu, menyenangkan ya. Bahkan melegakan hati gitu loh, " ucap Diaz.


"Iyalah, itu nikmat keikhlasan yang kita berikan kepada orang yang memerlukan pertolongan kita. Makanya kalau mau menolong jangan setengah-setengah, yang ikhlas gitu.! " seru Raihan.


Akhirnya mereka bertiga bisa tidur dengan tenang. Misi nya sudah berhasil, kini mereka bisa tidur lebih nyenyak dan mengerjakan tugas dengan tenang. Karena Raihan kangen dengan Airy, ia pun mengirim surat untuk adik tercintanya itu. Disana, tidak boleh menggunakan ponsel kecuali mendesak, jadi alat komunikasi saat ini yang Raihan gunakan adalah surat.

__ADS_1


__ADS_2