
"Kamu, sholat malam! Kakak mau kembali tidur." Airy kembali ke kamarnya.
"Hah, kakakku!"
-_-_-_-
Mentari pagi sudah siap muncul ke permukaan, sejak selesai sholat subuh tadi, Yusuf masih berbaring di ranjangnya sambil menatap dinding-dinding kamar yang ia hias seperti awan cerah. Antara bingung mau pergi ke sekolah, atau harus menghadiri panggilan dari rumah sakit.
" La Haula walaa quwwata ilabilahilaliyil'adzim, Allahumma inni astakhiiruka bi 'ilmika wa astaqdiruka biqudrotika wa as aluka min fadhlikal 'adzhiimi. Fainnaka taqdiru walaa aqdiru walaa 'alamu wa anta 'alllamul ghuyuubi. Allahumma inkunta ta'lamu anna haadzal amro khoirullii fii diinii wama'aasyii faqdurhu lii wa yassirhulii tsumma baariklii fiihi wa inkunta ta'lamu anna haadzal amro syarrulli fii diinii wa ma'aasyii wa 'aaqibati amrii wa 'aajilihi fashrifhu 'annii washrifnii 'anhu waqdurlil khoiro haitsu kaana tsumma rodhdhini bihi." ucap Yusuf dengan menghela nafas panjang.
Tiba-tiba Airy masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia hendak mengambil pakaian kotor yang sering Yusuf tunda di cuci. Bukan berarti setiap hari pakaian Yusuf, Airy yang mencuci, hanya saja Airy merasa kesal jika kamar Yusuf kotor. Karena kebersihan itu adalah sebagian dari keimanan.
"Woy, lah! Astaghfirullah hal'adzim, Yusuf. Kamu ngagetin kakak aja deh, ah!" teriak Airy.
"Ya habisnya masuk ke kamar lelaki nggak ketuk pintu. Untung aku pakai pakaian lengkap, coba kalau telanjang," masih saja Yusuf menanggapi Airy dengan santai.
"Kamu ini, ya. Ngapain kamu nggak sekolah, udah jam setengah delapan ini. Bolos?"
__ADS_1
"Sekolah nggak murah, ngapain bolos, hah?"
"Baju kotor juga nggak pernah langsung di cuci. Sepatu juga nggak di taruh di tempatnya. Mau jadi apa kamu, modal ganteng gak bisa mencukupi kebutuhan. Mau ngandelin warisan? Ngandelin warisan juga lama-lama habis kalau nggak bisa mengelola, cepat mandi!"
Kata-kata mutiara yang Airy lontarkan malah lebih banyak daripada kata mutiara Aisyah dulu. Aisyah lebih memilih untuk langsung bertindak daripada kebanyakan mengomel, berbeda dengan Airy yang sering ngomel sambil bertindak.
Meski Yusuf ini memiliki sifat yang bijak sana dalam mengambil keputusan, tapi dia juga remaja pada umumnya yang sering membuat kesalahan hingga Airy terus saja mengomel.
"Iya nanti aku cuci, udah taruh situ aja!" seru Yusuf.
"Cepat mandi, sarapan terus sekolah meskipun telat! Nggak sakit juga, mau jadi apa kamu kalau nggak sekolah?" tak henti-hentinya Airy mengomel sambil merapikan koleksi buku dan komik milik Yusuf yang di berantakan oleh Falih dan Hamdan semalam.
"Baru kali ini deh kayaknya aku bolos. Lagian bolos sekali aja juga nggak akan mempengaruhi masa depan kali, Kak. Asal aku tetap rajin belajar agar bisa menggapai cita-cita," jawab Yusuf masih berbaring.
"Hari ini aku mau ke rumah sakit jiwa, ada panggilan dari Tante Clara. Bingung antara pengen sekolah, tapi juga harus... haih, kapan tuh perempuan sehat Ya Allah," lenguh Yusuf menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut.
Dengan wajah datarnya, Airy menarik selimut Yusuf, kemudian menyeret tangan Yusuf ke kamar mandi. Agar dirinya cepat mandi dan mengantar Rafa ke sekolah.
__ADS_1
"Ah, kakak mah gitu. Masih nanti aku berangkatnya, mau mepet aja deh, biar nggak lama di sana," Yusuf banyak alasan juga jika dengan Airy. Berbeda ketika di depan Raihan dan saudara lainnya.
"Nganter Rafa,"
"Kakak mau ke rumah Uti pagi ini. Kakung minta jenang sagu, tapi Uti lagi ngambek sama Kakung. Buruan mandi! Setelah itu antar Rafa ke sekolah, terima kasih! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Ck, sudah sepuh juga banyak gaya Uti mah, nggak kebayang pas muda-nya bagaimana," cerutu Yusuf.
Selesai mandi, sarapan, kemudian mengantar Rafa, baru Yusuf berangkat ke rumah sakit jiwa. Di sana, sudah ada Clara dan keluarga Mita yang menunggunya. Sengaja Yusuf datang terlambat agar tidak lama-lama di sana. Ternyata, pertemuan itu hanya secepat kilat untuk menunjukkan video permohonan maaf Mita. Mita belum bisa keluar karena masih belum stabil kejiwaannya.
"Tante, aku boleh mengunjunginya?" izin Yusuf.
"Kenapa? Kangen?" goda Clara.
Yusuf melihat bola matanya ke kiri, mana mungkin Yusuf kangen. Karena memang tidak ada rasa apapun kepada Mita. Ia berbuat baik memasukkan Mita ke rumah sakit jiwa dengan alasan jiwa sosial. Di hatinya hanya masih ada 2 wanita yang selalu ia sayangi sepanjang masa, yakni Aisyah dan Airy.
__ADS_1