
"Assalamu'alaikum, Bang Rai... ! Aku kangen Abang," teriak Airy.
"Ya Allah gembiranya istriku ini. Ya sudah, Mas buatin camilan buat bumil ku ini ya, muach!" seru Adam mengecup kening Airy.
"Kemana Ustad Adam tadi? Jadi nggak enak deh Abang telfon gini." Ujar Raihan.
"Kangen tau Bang, Bang Rai pulang waktu itu nggak mampir kesini dulu ih." Kesal Airy.
"Jangan ngambek dong, Tuan Putri. 3 tahun lagi Bang Rai pulang, setelah ini." Rayu Raihan.
Banyak yang di ceritakan kepada Raihan, tentang masalah Sari, masalah rumah tangganya dan hal lain lagi. Airy tidak bisa 'tidak' mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada Abang tersayangnya itu.
"Bang, ponakan lahir nggak pulang? Sebentar gitu? Lelaki hebat Airy bukan hanya suami, Papa dan adik saja, tapi Abang peran penting di hidupku juga..." tak terasa air mata Airy mulai terjatuh.
"Tuan Putriku, maaf Bagian Rai ya. Sepertinya Bang Rai memang nggak bisa pulang, tapi tetep, nanti kan kita bisa komunikasi, jadi Bang Rai tetap akan hadir menyambut keponakan pertama Abang." Sela Raihan.
__ADS_1
"Airy, Tuan Putriku. Bang Rai pengen ngomong dong sama Ustad Adam, boleh?" tiba-tiba nada bicara Raihan yang lembut berubah menjadi serius.
Tak menunggu lama lagi, Airy langsung menemui Adam yang saat itu sedang sibuk di dapur. Ia memberikan ponselnya kepada Adam.
"Udah jadi, nggak usah di beresin. Biar Mas nanti yang beresin ya, kamu maem aja sana di ruang tengah." Tutur Adam.
"Assalamu'alaikum, apa kabar Bang?" sapa Adam.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah kabar baik Ustad." jawab Raihan.
"Alhamdulillah, semua nya lancar. Alhamdulillah juga, aku disini menemukan keluarga angkat yang sangat baik. Meskipun mereka bukan seorang muslim, tapi Alhamdulillah aku bersyukur, mereka mampu menerima ku dengan baik." Jawab Raihan.
"Em, Ustad. Tolong jaga adikku ya. Didik dia menjadi wanita yang lebih baik lagi, aku senang mendengar beberapa perubahannya sekarang, dia menjadi sedikit lebih dewasa. Jangan sampai kau sakiti dia, jika dia bersalah, tegur lah dia." Jelas Raihan menyentuh kalbu.
"Tetapi, jika kau sudah tak mampu membimbing nya, jangan bentak dia, jangan buat dirinya takut. Cukup kembalikan kepada kami, aku dan Papa pasti siap menerima Tuan Putri yang nakal itu." Tak terasa Raihan mengucapkan kalimat itu dengan menitihkan air mata.
__ADS_1
"Mencintainya, menjaganya, membahagiakan nya, semua itu sudah menjadi kewajiban ku. Aku bisa mencintainya dalam waktu yang lama, tentu aku bisa.Namun, kehilangannya sebentar saja sungguh berat rasanya. InsyaAllah, kami akan selalu bahagia Bang," sahut Adam percaya diri.
Hati Raihan tenang, sebelum menutup telfon ya, ia juga berbicara dengan Airy sebentar, kemudian mematikan telfonnya. Adam berpamitan akan mengajar hari itu, kebetulan sekali, Rindi mengajaknya untuk pergi ke pasar.
"Mas hari ini aku mau ke pasar, boleh ya?" izin Airy.
"Mau beli apa sih? Sama siap? Nunggu Mas selesai ngajar aja ya," tutur Adam.
"Jalan-jalan sebentar saja, jenuh di rumah. Sama Rindi dong." Jawab Airy santai.
Adam menatap Airy, tatapan penuh harap itu membuat Adam tak tega menolaknya.
"Iya deh, tapi hati-hati ya. Jangan pulang ke sorean. Harus makan siang tepat waktu, nggak boleh kecapekan, nggak boleh makan-makanan sembarang, nggak bo ... "
"Iya suamiku sayang, pokoknya aku akan perhatikan kandungan ku, pamit ya. Rindi sudah ada di depan." Sela Airy.
__ADS_1
Adam mengantar Airy sampai di depan. Adam percaya, jika Airy mampu menjaga dirinya, namun kegelisahan tentang Sari selalu menghantui. Takut, jika Airy lengah, Sari akan berbuat macam-macam kepada istrinya tercintanya itu.