Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 287


__ADS_3

Siang itu Airy dan Adam sedang melihat-lihat di perkebunan yang dikelola oleh Airy di sana banyak sekali jenis-jenis sayuran, buah-buahan dan juga tanaman lainnya. Kuliah singkat Airy di pertanian membuahkan hasil. Kuliah singkat juga di dunia perbisnisan juga tidak sia-sia. Airy ini serba bisa tapi susah kali dia kembangkan karena banyak malasnya.


"Masa masih harus nulis surah An-Nas, sih. 'Kan hukuman itu sudah berlalu, lagian... " protes Airy.


"Lagian, apa?" ketus Adam.


"Namanya hukuman ya harus di tunaikan. Waktu itu, Mas tunda karena mau pergi sama Bang Rai. Kalau sekarang ya mumpung kita lagi menikmati angin sepoi-sepoi, juga menikmati indahnya hari ini, jadi ya enggak salah dong kalau sambil ngerjain hukuman," imbuhnya.


"Ya aku kan baru aja kau hamilin, Mas. Nggak ada keringanan, kah?" Airy masih saja menawar.


"Ya udah 1 aja, nggak usah satu lembar atau 50 lembar yang penting udah dihukum," tukasnya.



Setelah menjalani hukuman, Adam memetikkan buah untuk Airy. Ia masih ngambek aja karena mendapat hukuman. Keromantisan mereka terjadi ketika Adam menyuapi buah untuk Airy.


"Tau nggak, saat di Jawa Timur, Mas tuh selalu rindu sama kamu. Ternyata, itu karena kamu hamil, makasih... " Adam mencubit pipi Airy karena saking gemasnya.


"Oh, jadi kalau aku nggak hamil, Mas Adam nggak rindu sama aku?" kesal Airy.

__ADS_1


"Ya nggak gitu, Sayang. Aduh, gimana ya? Pokonya lain gitu rasanya, kangen sama kamu, sama Rafa, sama makanan gosong kamu, hehe gitu," goda Adam.


Airy menatap wajah suaminya dengan seksama. Kini, Adam lah yang menjadi mentari di hidupnya. Beribu ucapan syukur yang Airy ucapkan mungkin tak akan pernah cukup, bisa memiliki suami yang sayang sekali dengannya.


"Aku mencintaimu. Jika kita di pisahkan oleh takdir. Aku minta kepada Allah, agar memanggilku terlebih dahulu, karena aku nggak bisa jika harus kehilangan dan merindukan dirimu," ucap Airy dengan mata yang berkaca-kaca.


"Janganlah kamu mencintaiku melebihi Allah. Karena sejatinya, aku ini memang milik Allah, emm," nada bicara yang lembut itu selalu menyejukkan hati Airy.


"Jadi gini, aku di suruh ngurusin Rafa, tapi kalian malah pacaran di kebon?" teriakan dari siapa lagi jika buka Aminah.


Adam dan Airy menghela nafas panjang, jika Airy kesal, Adam malah berusaha tetap tenang dan tersenyum. Aminah ini sering bolos sekolah, jadinya selalu di minta untuk menemani Rafa dari pada bolos tak bermanfaat. Bolosnya Aminah ada alasannya, di hari itu, memang sedang ada lomba di sekolah, jadi tidak ada pelajaran.


"Rafa.. " panggil Airy.


"Jangan buka kartu, dong. Bukan gitu cara mainnya, Rafa..." Aminah mencari pembelaan.


"Oh, gitu. Jadi, gini cara kamu ngurusin, Rafa. Uang jajan kamu Kakak kurangi," ketus Airy.


"Ya jangan, dong. Nggak bisa gitu, main potong gaji aja. Itu cuma bercanda, kok. Beneran!" Aminah masih ngelak.

__ADS_1


Adam pun menengahi mereka, sebelum terjadi peperangan mulut antara istrinya dan kakak iparnya. Karena kalau sudah bertengkar saling bertengkar, bisa-bisa semua orang yang ada di perkebunan mendengar kata-kata aneh dari dua putri pesantren ini. Makin kesini, anak perempuannya semua bobrok, Asam berharap, jika memiliki anak perempuan, bisa seperti Aisyah yang tenang dan tegas.


-_-_-_-


Lakum dinukum waliadiin....


"Shadaqallahul adzim, besok ini harus di hafalin lagi, ya. Aku mau ke rumah Pak Lek Syakir dulu, dia ajak aku tausyiah sore ini, boleh?"


Akhir-akhir ini, Raihan memang sering mengikuti tausyiah bersama Syakir. Bisnis kulinernya memang masih berjalan, tapi dirinya juga ingin mengejar surga beriringan dengan mencapai keberhasilan di dunia.


"Terus, resto gimana? Bukankah hari ini, ada stok seafood dari luar kota, ya?" tanya Laila.


"Kamu handle, ya. Bisa, 'kan? Aku percaya sama kamu," ucap Raihan mengusap kepala Laila.


Ketika Laila hendak beranjak, sesuatu terjatuh dari pangkuannya. Buku yang ia beli di toko buku beberapa hari lalu bersama Naira. Raihan memungut buku itu, membaca tajuk buku itu membuatnya tertawa. Menurut dirinya, Laila tak harus membaca buku seperti itu.


"Apa, ini? Cara jadi istri yang baik? Hahaha kamu baca beginian? MasyaAllah, istriku yang menyebalkan ini... " Raihan mencubit pipi Laila.


"Aw, jangan di cubit. Memangnya kenapa kalau aku baca buku ini?" tanya Laila.

__ADS_1


"Ya bagus baca beginian. Tapi, alangkah baiknya, kamu menjadi dirimu sendiri. Aku nggak suka perubahan yang terpaksa, seiring berjalannya waktu, pasti kamu bisa menjadi istri yang baik tanpa membaca beginian, aku akan selalu sabar menanti hal itu," tutur Raihan.


Merasa di hargai dan di sayangi sebagai wanita, Laila sangat terharu. Ia memeluk Raihan dan mengucapkan terima kasih karena sudah menerimanya segala kekurangannya. Laila juga ingin menghidupkan cinta di hatinya yang pernah padam kepada Raihan.


__ADS_2