
Ketika hendak masuk aula, Airy memanggil Adam dan mengajaknya untuk pulang. Tanpa ada kata salam dan basa basi, Airy meraih tangan Adam dan menggandengnya ke arah jalan pulang.
"Airy kenapa?" tanya Adam.
Namun, Airy tidak menjawab pertanyaan Adam. Bukan hanya Raihan, beberapa Ustad termasuk Ustad Zainal juga heran dengan mereka berdua. Tapi Raihan tau, itu bukan urusannya lagi, jadi ia selalu berdoa agar hubungan Adam dan Airy selalu dalam lindungan Allah SWT.
Beberapa menit lalu, Rindi mencoba menggoda dengan ingin merebutnya kembali jika Airy masih kekanak-kanakan. Tugas istri bukan hanya membantu meringankan beban, tetapi melayani suami di ranjang juga adalah kewajiban seorang istri.
Kenapa Rindi lebih dewasa dibandingkan Airy tentang hal itu, karena Airy sejak dulu sering main dengan anak-anak yang mengarah ke kenakalan nya sebagai bocah. Ia jarang bergaul dengan gadis sebayanya, karena menurutnya membuat dia menjadi lebih bosan. Mungkin mengaji untuk Airy hal yang mudah, tetap saja fikirannya masih seperti anak-anak.
"Enak saja Rindi, Ustad Adam kan suamiku, main mau rebut-rebut aja, hufft sorry lah ya, aku ndak rela. Susah dapat suami sabar kek Ustad Adam." Airy menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Sampai dirumah, Airy langsung membawa Adam kekamar. Adam sendiri masih heran dengan kelakuan Airy. Mereka hanya saling menatap, dengan mengumpulkan keberanian, Airy mulai melepas hijabnya, klau membuka kancing gamisnya, dan menurunkan bagian pundaknya.
"Airy, kamu kenapa sih, jangan dibuka gini dong." Kata Adam merapikan kembali baju Airy, bahkan merapikan kancingnya juga.
"Kamu kenapa sih, tiba-tiba narik aku untuk pulang, ajak aku kekamar dan membuka baju di depanku. Kamu nggak lagi ada masalah kan?" Tanya Adam.
"Aku minta maaf soal ya di ya, aku hanya bermaksud menggodamu saja, bukan ada sebab lain. Kamu jangan lakuin ini lagi ya," tungkasnya.
"Maafkan aku, seharusnya aku melayani Ustad di sini dengan baik. Jika Ustad mau sekarang malam pertama itu, aku siap kok." Ucapanya Airy malah membuat Adam semakin takut.
"Hah?"
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Adam melepaskan pelukannya.
"Iya, itu kan kewajibanku, aku harus yakin lah. Lagian kita udah hampir 3 minggu menikah, masa....... " tutur Airy malu-malu.
"Airy, kita akan melakukannya ketika hati kita sudah siap, aku tidak ingin ada paksaan di antara kita. " Ucap Adam dengan lembut.
"Tapi, nanti aku jadi durhaka dong." kata Airy.
"Enggak lah. Sudah ya, ndak usah difikirkan lagi, kita tidur saja, besok mau mudik kan? Bang Raihan sudah siap-siap katanya, tapi esok pagi-pagi sekali, ya setelah tadarus pagi, kita ke makam Abi sama Umi dulu ya. Sekarang kita istirahat." kata Adam menggenggam tangan Airy dan mengajaknya tidur.
Kali ini, Airy tidur sambil memeluk Adam. Tetapi, Adam masih heran, apa yang membuat Airy berkata seperti itu, padahal beberapa waktu lalu, ia bersikeras tidak mau disentuh dan langsung lari begitu saja.
__ADS_1
Ketika Adam hendak melepaskan tangan Airy, ia melihat telapak tangan Airy terluka, ketika kain lengannya di sibakkan, Adam menyadari bahwa Airy terluka.