Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 268


__ADS_3

"Aw, asyem! sopo iki sek wani jewer aku! (siapa ini yang berani jewer aku!)" kesal Aminah.


Aminah memutar pandangannya. Pernah melihat Raditya, tapi ini kali pertama Aminah melihatnya dari dekat. Aminah sedikit gaul dari Mayshita atau zaman Airy dan Aisyah muda. Ia tergila-gila dengan yang namanya lelaki tampan, meskipun dia tau, kalau itu adalah dosa bagi matanya.


"Kalau natap nggak usah kelamaan, dosa!" hardik Raditya meniup mata Aminah.


"Heh, kalau nggak mau di pandang, harusnya tadi jewer nya Kak Naira!" ketus Aminah menepis tangan Raditya.


Begitu juga dengan Airy yang sudah merasakan aroma tubuh suaminya. Ia berbalik badan, tersenyum dengan perlahan melepaskan jewerannya kepada Yusuf.


Diamnya Adam sudah membuat Airy keder, ia pun menunduk malu dan menggandeng tangan suaminya. Kemudian mengajaknya duduk di bagian penyambutan tamu.


Sementara tiga serangkai kita sedang asyik menertawakan Airy dan Aminah. Naira pun begitu, sejak pulang dari luar kota dan kembali berkumpul dengan tiga serangkai, kelakuahannya menjadi minus.


"SAyang..... Astagfirullah hal'adzim," ucap Adam, menghela nafas dan menepuk dahinya.


"Rafa! Sini, Nak." Adam memanggil anaknya.

__ADS_1


"Iya, Bi. Ada apa?" tanyanya.


"Rafa jaga Mama, ya. Jangan sampai Mamamu dan Tante Aminah jadi satu, bisa?" ucap Adam.


"InsyaAllah, bisa, Bi!" ucap Rafa penuh dengan semangat.


Adam sudah kehabisan akal untuk Airy, makanya ia meminta Rafa untuk tetap bersamanya. Sementara di balik kelambu putih khusus lelaki, Raihan tengah bersama keluarga yang lain. Ada Ruchan, Sandy, Ilham, Akbar dan si kembar Kabir dan Syakir.


Senyuman yang terukir di wajah Raihan masih kurang bisa lepas, karena tak ada kehadiran dari orang terkasihnya. Yakni, orang tua kandungnya, Aisyah dan Rifky. Semua memang hadir di sana, tapi....


Sehari sebelum akad memang Raihan dan adik-adiknya sudah mengunjungi makam kedua orang tuanya, namun semua itu tak berarti menghilangkan rasa rindunya. Hanya mengurangi, rasa rindu yang telah lama terpendam.


"Han!" sapa Sandy.


"Iya, opa?"


"Airy, di mana?" tanya Sandy.

__ADS_1


Airy memang kesayangan Sandy sejak bayi. Memang masih banyak cucu di antara mereka. Tapi, semua keluarga memang tahu, jika Airy lah yang palin Sandy sayangi. Dan itu tidak ada yang merasa iri kepadanya.


"Ada di depan, tapi tadi bilangnya mau lihat Laila dulu," jawab Raihan.


Sandy mengangguk-angguk, kesehatannya sudah mulai terganggu. Jadi, untuk berjalan mencari Airy saja, ia sudah tak mampu. Ia pun meminta Akbar untuk mencarikannya.


"Bar, cariin Airy dan Rafa, ya." pinta Sandy.


"Iya, Pa. Assallamu'alaikum," ucap Akbar langsung pergi ketika Sandy memintanya.


Di kamar rias, Laila bersama Resti sedang berbicara. Resti meminta maaf akan perbuatannya beberapa minggu lalu. Ia merasa menyesal telah melakukan semua itu kepada Laila.


"Sudahlah, Lu nggak usah merasa nggak enak. Tenang saja!" seru Laila.


"Tapi ada faedahnya juga, setelah minum itu gue langsung tepar. Alhasil gue bisa istirahat, terima kasih, ya." imbuhnya.


Tanpa angin tanpa hujan, Resti tiba-tiba menangis tersendu-sendu. Apakah dia kumat lagi?

__ADS_1


__ADS_2