
"Dasar, kalian bertiga tidak becus! Lihat, Raihan dan istrinya masih sehat sampai sekarang. Bedebah!" kesal Mita.
"Siapa wanita itu? Apakah, kecelakaan Bang Rai ini suatu kesengajaan?" gumam Yusuf.
Yusuf tidak akan gegabah, ia memotret Mita diam-diam. "Masalah itu harus aku selidiki dengan benar, agar Abang mendapat keadilan, dan wanita itu harus di adili jika memang dia dalang dalam kecelakaan ini."
Yusuf juga mengikuti Mita ke parkiran. Tentu saja untuk memotret nomor kendaraan milik Mita. Dengan itu, Yusuf akan lebih mudah untuk mencari tahu, tentang hubungan Mita dengan Raihan. Selesai, Yusuf masuk dan menemui Raihan yang sudah bisa bercanda dengan adik-adiknya.
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.
"Wa'alaikumsalam, si pendekar baru masuk saja ini. Sini, sungkem sama Abangmu," ledek Raihan.
Yusuf langsung memeluk Raihan tanpa ia ketahui jika tubuh Raihan juga mengalami sakit ketika kecelakaan. Ketika Galih hendak menegur Yusuf, Raihan mencegahnya. Ia tidak apa-apa dengan sakitnya, dibandingkan kecemasan Yusuf untuknya.
"Yakin, Abang nggak kenapa-napa?" tanya Yusuf memastikan kembali.
"Ah, sebenarnya tubuh Abang juga sakit saat dipeluk kamu. Tapi, rasa sakit itu hilang ketika kamu mau meluk Abangmu ini, makasih ya udah mengkhawatirkan, Abang." Raihan mengetuk kening Yusuf.
"Abang!" teriak Airy memecah keharuan yang terjadi.
Beberapa waktu lalu, ada perdebatan antara Airy dan suster di sana. Bahkan, hampir saja Airy di usir oleh pihak keamanan karena membuat kerusuhan dengan menantang suster lain berkelahi.
"Abang kesayangan saya ada di dalam Mbak Suster sik ayu dewe. Masa iya saya ndak boleh jenguk, sih?" protes Airy.
"Tapi, ibu bisa besok jenguknya. Sekarang, sudah tengah malam, jam besuk sudah lewat ibu," jelas Suster itu.
"Wah, ajak gelud. Woo, Mbak sini tak kasih tahu. Lha wong Abangku aja baru masuk, moso aku ke sini harus tadi sebelum jam delapan sih, mbok ya jangan ngada-ngada!" seru Airy.
"Itu sama saja menginginkan Abang dan Ipar saya kenapa-kenapa, dong. Julid banget, sih!" bentak Airy.
Adam berusaha menjadi penengah di antara meraka. Sejak Airy hamil lagi, memang terkadang emosinya sudah untuk terkontrol. Hal sepele saja bisa membuatnya emosi tingkat internasional, apalagi musibah yang di alami oleh Raihan dan Laila.
Dokter sudah melarang untuk tidak berkunjung pada waktu itu. Apalagi banyak yang masuk ke ruangan pasien seperti Falih, Gu, Hamdan dan Yusuf. Ini di tambah Adam dan Airy yang ngotot ingin tetap masuk. Sampai-sampai, mereka malah melupakan Laila yang sedang berada di IGD ditemani oleh perawat ganteng.
__ADS_1
"Ah, pasti mereka sedang berpelukan manja. Aku juga pengen tau, di peluk begitu. Pasti mereka melupakanku, di sini." gerutu Laila.
"Haha, Mbak ini lucu banget. Masa iya, mereka melupakan Mbak, sih? Ya ndak mungkin," sahut perawat laki-laki itu.
"Masnya nggak tau saja, keluargaku itu banyak banget, Mas. Jadi, ya pasti seperti drama India gitu, Haha...." tawa lepas Laila membuat beberapa perawat di sana tertular dengan tawanya.
"Saya antar pakai kursi roda, ya? Kebetulan, suami Mbak ada di ruang yang agak jauh dari IGD," ujar perawat tampan itu.
Tentu saja, Laila bersedia dengan senang hati. Banyak yang mereka obrolkan tengah malam itu. Sesampainya di kamar Raihan, keluarlah Gu, Falih, Yusuf dan Hamdan, mereka baru akan pulang malam itu.
"Assalamu'alaikum, kalian mau kemana?" tanya Laila.
"Wa'alaikumsalam, eh kelupaan kalau Kak Laila juga ada di sini, bagaimana keadaanmu, Kak?" jawab Gu.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Abang kalian...."
"Bagaimana?" tanya Laila.
Yusuf melintas begitu saja. Mungkin, ia masih malu saat dirinya memeluk Laila saat itu. Bukan hanya itu, Yusuf memang mengetahui sesuatu tentang seseorang yang ada kaitannya dengan kecelakaan yang di alami oleh Raihan dan Laila, ia ingin segera membongkar semuanya.
"Kenapa Yusuf masih saja dingin denganku, sih? Padahal, beberapa waktu lalu, dia bahkan terlihat keren saat menenangkanku," batin Laila.
Perawat itu mendorong kursi roda Laila masuk keruangan Raihan. Melihat ada Airy dan Adam membuat Laila merasa tenang, senyuman manis terukir di bibir Raihan ketika bersama dengan Airy. Jadi, Laila meminta perawat itu untuk membawanya keluar.
"Tunggu!" teriak Raihan, melihat Laila yang hendak enyah dari ruangan itu.
Raihan memutar matanya menunjuk ke arah Laila dari Airy. Airy pun menghampiri Laila, dan mendorong kursinya sampai di samping Raihan.
"Assalamu'alaikum," salam Laila.
"Wa'alaikumsalam, kamu mau kemana? Kamu baik-baik saja, 'kan? Ada yang luka, nggak?" pertanyaan itu malah membuat Laila menangis. Ia terharu, mendengarnya.
"Kalau begitu, Abang, Kak Laila kami pamit dulu, ya. Sudah hampir pagi juga, kasihan Rafa di rumah sendirian, Assalamu'alaikum." pamit Adam menggandeng tangan Airy.
__ADS_1
"Tapi, aku masih...." pernyataan Airy terpotong karena Adam memberinya kode, agar memberi waktu berdua bagi Raihan dan Laila.
"Assalamu'alaikum, cepat sembuh untuk kalian berdua," lenguh Airy.
"Wa'alaikumsallam. Jangan lupa, bilang ke Uti sama Kakung, kalau aku baik-baik saja!" seru Raihan.
Setelah Adam dan Airy keluar, Laila beranjak dari kursi rodanya, kemudian memeluk Raihan dengan erat. "Aw!" tentu saja Raihan merintih, sebab tubuh bagian belakang juga terluka, dan sedikit memar di pinggulnya.
"Sakit? Maaf," sesal Laila.
"Nggak, kok. Peluk lagi sini," ujar Raihan merentangkan tangannya.
Kembali Laila memeluk Raihan, kali ini, ia berhati-hati memeluknya. Teringat akan kabar bahagia yang ia miliki, untuk di beritahukan kepada suaminya.
"Ini," kata Laila menyodorkan secarik surat laporan hasil tes.
"Apa, ini?" tanya Raihan.
"Baca aja, lulusan Jerman masa nggak bisa baca itu, sih!" ketus Laila.
"Apa? Kamu hamil?" terkejut, Raihan menatap Laila dalam-dalam, kemudian mengusap perut Laila.
Laila mengangguk, berita bahagia di tengah musibah memang bagaikan obat yang mujarab bagi keduanya.
"Aku nggak tau bakal secepat ini. Kukira, kita akan menikmati masa pacaran dulu, tapi Allah... memberi kita kepercayaan lebih cepat dari bayanganku, haih. Aku tetap bersyukur atas itu," Laila menyangga kepalanya menggunakan kedua tangannya.
"Alhamdulillah, ini rezeki dari Allah. Aku akan segera menjadi Ayah. Aku sangat bahagia, makasih ya, Sayang?" ucapan Raihan lagi-lagi membuat Laila menangis haru.
"Aw, Abang bilang Sayang kepadaku, aku serasa terbang. Tapi...." Laila ingin menjelaskan perihal yang membuat Raihan malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Pipisku, canggih banget tau, Bang. Di tes pakaian apa itu yang panjang, terus ada kek merah-merahnya gitu naik. Terus tergambarlah dua garis, canggih, 'kan?" ungkap Laila dengan semangat.
Raihan memeluk Laila dengan erat, mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah Allah berikan kepadanya. Sedikit mendongakkan ke atas, bertatap muka dengan Laila, Raihan pun mencium bibir istrinya penuh dengan gairah. Malam itu, mereka berdua tidur di satu ranjang rumah sakit dengan berpelukan.
__ADS_1