
Rindi dan Ustadzah Ifa mengajak Airy untuk ikut tadarus sore itu. Karena memang jadwal Airy ikit tadarusan. Melihat kesibukannya, Airy meminta izin tidak bisa ikut tadarusan itu.
"Lah, rugi loh Ry kalau ndak ikut." kata Ustadzah Ifa.
"Aku tau, tapi belum selesai Ustadzah, aku lagi proses belajar memasak soalnya." tutur Airy terlihat menyesal.
"Kamu belum bisa masak?" tanya Rindi heran.
Airy mengangguk, Rindi dan Ustadzah Ifa saling tatap menatap, lalu mereka tertawa. Seingat mereka, Airy ini serba bisa, ternyata, memasak saja belum bisa. Rindi dan Ustadzah Ifa memberi semangat bagi Airy, dan esok hari akan mengajarinya memasak untuk Adam. Akhirnya Rindi dan Ustadzah Ifa pun kembali, Rindi benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Rindi mengaku takjub kepada keluarga besar Airy. Ruchan, selaku kakek dari Airy, ia mau membantu Rindi menemukan keluarga kandunganya, secara cuma-cuma. Padahal sebelumnya, Rindi pernah berbuat jahat kepada Airy.
Sebelum maghrib, Adam sudah pulang dengan tergesa-gesa, ia takut jika tidak sampai kerumah tepat waktu berbuka. Saat masuk dan hendak mengucapkan salam, Adam melihat Airy tengah tertidur di sofa sambil memeluk Al-Qur'an. Ternyata Airy mengulang hafalannya lagi.
Dengan secara perlahan, Adam mengambil Al-Qur'an itu, lalu meletakkannya di meja. Membangunkan dengan lembut, bahkan mengusap-usap kepalanya.
"Assallamu'alaikum, Airy, Airy, bangun dong, sudah mau maghrib ini," kata Adam sambio menguspa-usap kepala Airy.
__ADS_1
Airy membuka matanya, saat membuka matanya, tepat di depan wajahnya ada Adam, sesaat membuat Airy terkejut, ia langsung bangun dan duduk.
"Emm udah pulang?" tanya Airy.
"Alhamdulillah sudah, nih jajan yang aku bawain buat kamu." Ujar Adam, sambil memberikan sekantong kresek putih yang berisikan terang bulan.
"Wahhh terang bulan, makasih ya Ustad, sayang deh," ucap Airy.
Mendengar kata sayang dari Airy, membuat Adam.jadi tersipu, ia beranjak, lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sampai waktunya buka puasa tiba, Adam pun keluar dari kamar dan buka puasa bersama.
"Tadi ketemu sama Pak Kades buat apa Ustad?" tanya Airy.
"Oh gitu to, baguslah!" Ucap Airy.
"Terus, gimana kuliah mu? Udah menentukan apa belum? Setelah lebaran, Raihan, Diaz dan Raditya udah mau berangkat ke Kairo, kamu nggak ikut?" tanya Adam.
Airy hanya dia saja tidak menanggapi pertanyaan Adam, ia masih dilema, antara akan kuliah atau tidaknya, mengingat dirinya sudah menikah.
__ADS_1
"Kok diam?" tanya Adam.
"Memangnya harus ya?" kata Airy.
"Buat masa depanmu, memang kamu nggak ingin kuliah? Rindi aja lanjut loh," tutur Adam.
"Kalau aku kuliah, aku takut semua godaan tidak bisa aku tahan Ustad, jadi aku dirumah sajalah, bantu-bantu Ustad." kata Airy.
"lah kok gitu sih? Godaan apa memangnya?" Tanya Adam.
"Aku takut, jika suatu saat di kampus ada seorang akhi yang bisa membuatku jatuh hati, dan tidak fokus belajar. Aku juga takut, jika nanti tidak bisa memenuhi kewajibannku sebagai istri Ustad." Tutur Airy.
"Masya Allah, ternyata istriku ini semakin dewasa ya, aku yakin kamu pasti bisa kok menghadapi cobaan itu. Isnya Allah ada aku yang selalu bersedia mengigatkanmu, jadi ayo mulai mencari kampus yang cocok untukmu" Kata Adam sambip mengusap kepala Airy.
Sebuah hubungan tidak akan goyah, jika satu sama lain memiliki rasa percaya. Saling mengingatkan, dan saling mendukung apa yang di lakukan oleh pasangannya masing-masing. Begitu juga dengan Adam, Adam tau jika Airy ini adalah gadis yang cerdas, makanya ia dorong Airy agar mau melanjutkan belajarnya lagi
Dan lagi, Adam tidak ingin merengguk masa muda Airy, yang seharusnya masih bermain dengan teman-temannya. Bukan berarti membebaskannya, tetapi, Airy masih muda dan seharusnya belum di kasih beban untuk memikirkan kehidupan rumah tangga. Walaupun sekarang itu sebuah keharusan, karena Airy sudah menjadi milik Adam.
__ADS_1
Tetapi, Adam tak setega itu, ia akan mendidik Airy secara perlahan, sehingga tidak membuatnya tertekan dalam kehidupan rumah tangganya.