
Di Korea, Kabir dan Ceasy sedang bertengkar hebat karena Gu ingin nyantri di tempat Ikhsan. Gu sudah tidak tahan lagi hidup berbaur dengan anak seusianya di sana. Kabir dan Ceasy bertengkar bukan karena masalah Gu saja, tapi usaha yang mereka bangun juga tidak ada yang mengurusnya di sana. Dan harus memulai nol lagi jika pindah ke Jogja. Sementara itu, karir Ceasy juga sedang cemerlang, Ceasy enggan untuk meninggalkannya.
“Gu, bukan maksud Ibu tidak mau menyetujui permintaanmu itu. Tapi pekerjaan Ibu dan Ayah di sini bagaimana?” tanya Ceasy.
“Tolong mengertilah, InsyaAllah aku bisa menjaga diriku dengan baik di sana. Di sana juga keluargaku ‘kan, Bu?” mohon Gu.
“Tapi, Gu. Kami ingin kamu selalu bersama kami di sini, di mana pun kami berada. Bukankah, ini juga negara kelahiranmu? Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu di sekolah?” tanya Kabir dengan lembut.
“Aku di bully setiap harinya. Di sebut *******, bahkan ketika aku sholat, mereka melempariku dengan kotoran. Aku malu jika menghadap Allah dengan badan yang kotor. Aku juga tidak bisa menutup mulut mereka satu persatu, aku juga juga tidak bisa jika harus menggunakan kekerasan. Aku harus bagaimana, Yah, Bu?” ungkap Gu.
__ADS_1
Hamdan yang sedang bermain dengan Yumna pun mendengar keluhan, Kakaknya. Sebenarnya, ia juga merasakan hal yang sama dengan Kakaknya itu. Tapi ia tidak berani untuk mengatakan kepada orang tuanya.
“Oppa, ayo kita main lagi. Aku sudah sampai di tengah permainan,” ajak Yumna yang kala itu sedang bermain ular tangga bersama Hamdan.
Kabir dan Ceasy akan membahas masalah Gu dengan keluarga terlebih dahulu. Agar Gu tidak merasa asing ketika berhasil pindah ke Jogja. Ia juga memastikan kedua anak lelaki mereka pandai berbasa Indonesia dengan fasih juga. Kabir pun meminta saran kepada Akbar.
“Dua minggu lagi aku jemput Gu dan Hamdan. Biar aku yang membawanya ke pesantren. Kebetulan Falih juga akan masuk pesantren. Pastikan surat pindah dan surat kebutuhan lain kamu urus. Jika masih beralasan sibuk, kau bisa minta tolong kepada Jamil. Wassallamu’alaikum!” Akbar menutup telfonnya begitu saja.
“Abang terdengar marah. Semenjak Kak Ais nggak ada, Abang sedikit berubah lebih keras. Bagaimana?” ujar Kabir.
__ADS_1
Mereka pun kembali memikirkan tentang Gu dan Hamdan masuk pesantren lagi. Tak ada salahnya jika mereka harus mencoba. Itu semua juga demi kebaikan Gu dan Hamdan di kemudian hari nanti. Di Jepang, Akbar kesal dengan Kabir yang terlalu keras kepada Gu dan Hamdan. Cara didiknya seperti saat dirinya mengikuti pelatihan di militer. Ia juga tidak ingin pembullyan di masa kecil dan remaja nya juga terulang kepada anak-anaknya, itu sebabnya ia terlalu keras kepada anak lelakinya.
“Hyeong, apakah Ibu dan Ayah akan mendengarkan keinginan, kita?” tanya Falih dengan cara berbisik.
“Bismillah, semoga pintu hati mereka terbuka. Aku sudah tidak tahan lagi, dengan anak-anak di sekolahku,” keluh Gu.
“Sebaiknya, kita segera bergegas. Asrama akan tutup dua jam lagi. Aku akan mandi dulu.” sahut Hamdan.
Gu dan Hamdan hanya bisa menunggu waktu dua minggu itu saja. Selebihnya, mereka hanya bisa berdoa, agar orang tuannya mau mengirimnya ke Jogja. Sementara di Jogja, Yusuf tengah sibuk mempersiapkan dirinya untuk ikut lomba hafiz di daerah tempat tinggalnya. Rencana untuk nyantri juga ia batalkan, karena tidak tega meninggalkan Papanya sendirian di rumah. Apakah, Rifky tetap akan mengirim Yusuf ke pesantren? Atau Rifky lah yang akan pindah ke pesantren demi Yusuf?
__ADS_1