
Suara adzan subuh sudah berkumandang, semua santri dan santriwati bersiap untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Tak terkecuali dengan Adam dan Airy, mereka juga bergegas ke masjid untuk melakukan salat subuh berjamaah. Setelah sholat subuh usai, rutinitas semua santri di pesantren itu mulai di lakukan, seperti mengaji, tadarus bahkan ada juga yang hafalan. Selesai rutinitas itu, Airy kembali ke rumah, iya berusaha untuk menyenangkan hati suaminya dengan memasak, walaupun Adam tidak memaksakan Airy untuk bisa memasak, tetapi Airy tetap ingin bisa memasakan untuk suaminya.
" Bisa-bisa aku dipecat jadi istri, walaupun Ustad Adam bilang nggak usah, pasti dalam hatinya tetap dia ingin makan masakan istrinya. Aku harus berusaha, kan zaman sudah canggih, aku bisa lihat di internet, dan mungkin rasanya juga akan lebih nikmat hahaha. " Gumam Airy dengan tawa seperti bajak laut.
Di Kairo, kebetulan disana sudah malam. Raihan, Raditya dan Diaz sedang berjalan-jalan menikmati indahnya malam di kota itu. Bukan hanya berjalan-jalan saja, mereka juga berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah, mahal bener ini, kalau di krus rupiah. Wah bener-bener mahal bener ini! "seru Diaz.
__ADS_1
" Bener-bener apaan sih? " tanya Raihan.
"Tau tuh, saudaramu kan aneh bin katro', katanya anak orang kaya, uang segini nggak banyak dong. Anak pengusaha tekstil gitu, " sahut Raditya.
"Boros ngerti ra?" Buat beli sayuran bisa sak bakule (se penjualnya) kalau di kampung. " Gumam Diaz.
"Hal 'ant bikhayr? (Apakah kamu baik-baik saja) " tanya Raihan kepada wanita itu.
__ADS_1
" 'ayn taeish? (Dimana kamu tinggal) " sambung Raditya.
Wanita itu hanya diam saja, nampak ketakutan yang sangat besar di wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tangannya penuh dengan luka lebam, bahkan di sekitar mulut nya ada bekas pukulan. Walaupun,ia menundukkan kepala, tapi Raihan dan Raditya bisa membaca mimik wajahnya, jika iya saat ini sedang dalam masalah, atau kesusahan. Raditya terus berusaha mengajak wanita itu untuk mengobrol, semua bahasa yang ia kuasai juga sudah dilontarkan kepada wanita itu. Tetapi, wanita itu tetap saja tidak mengatakan sepatah katapun, namun ia memberikan secarik kertas yang bertuliskan bahasa Inggris di dalamnya, dan langsung berlari begitu saja.
saeidni , zuaji yurid qatli , 'ahdar altifl , sabah alghad sa'ueiduh , taeish fi mahjae , 'alays kdhlk? (tolong saya, suami saya hendak membunuh saya, bawa anak itu, besok pagi akan saya ambil kembali, kau tinggal di asrama bukan?)
Mereka bertiga menengok ke belakang, ternyata benar, ada keranjang bayi di sana. Bayi itu sedang tertidur, kemungkinan usianya baru menginjak 1 bulan. Mereka bertiga sangat bingung, bagaimana cara mereka membawanya pulang ke asrama, bahkan asrama itu juga dijaga ketat oleh beberapa pihak keamanan di sana. Raihan Raditya, dan Diaz saling menatap satu sama lain. Jika mereka membawa pulang bayi itu, mereka takut jika mereka akan mengalami masalah. Karena ini bukanlah negaranya, ini adalah tanah Arab dan disana sangatlah taat dengan peraturan. Jika melanggar hukum, hukumnya bisa setimpal. Diaz pun meminta Raihan untuk minta pendapat dengan orang rumah yang juga pernah tinggal disana.
__ADS_1