
Malam hari, Airy merenungi semuanya. Kembali Raihan membawakan makanan, air putih dan vitamin untuknya. Sembari memberi beberapa motivasi lagi.
"Makan, terus minum obatnya." ucap Raihan.
"Aku nggak sakit, Bang. Kenapa harus minum obat, sih!" kesal Airy.
"Oke, bukan obat. Tapi vitamin. Jangan kebanyakan nolak, karena ini semua juga demi kebaikanmu." tegas Raihan, sambil menyuapi Airy dengan nasi padang kesukaannya.
"Sambelnya,"
"Banyak?" tanya Raihan.
"Dikit aja,"
"Terus atasnya, kasih potongan ampela, motongnya yang gedean dikit." Imbuhnya.
Makan dari tangan orang lain memang enak. Airy habis satu porsi sendiri. Kemudian, ia minum vitamin yang Raihan berikan. Melihat ada luka di tangan Kakaknya, Airy menjadi gelisah.
__ADS_1
"Ini kenapa?" tanya Airy.
"Oh, tergores tadi. Nggak sakit kok, 'kan Abangnya pendekar wani perih," goda Raihan.
Airy tersenyum.
"Bang,"
"Hm?"
"Mana ada, kebanyakan nonton drama kamu. Makanya pikirannya negatif terus. Ada Allah, banyakin ngaji, dengerin tausyiah, berusaha dan berdoa. Pasti akan menemukan cara untuk menemukan, suamimu." ketus Raihan.
Kembali Airy menyantap makanan penutup, puding buatan Raihan. Yang selalu ia rindukan. Ketika ia makan dengan lahapnya, ingatan kepada Adam melintas di pikirannya. Airy pun meletakkan puding itu. Kemudian menangis lagi, tak ada kata terucap di bibir, Raihan. Ia keluar dari kamar begitu saja.
Pagi hari, setelah sholat subuh. Raihan sudah bersiap memanaskan mesin mobil, untuk ia bawa pulang ke Jogja, kemudian berangkat ke Ibukota. Ada sedikit perdebatan antara Ustadzah Ifa dan Airy pagi itu.
"Enggak bisa, Mbak. Zahra tetap harus ikut aku. Dia 'kan anakku, Mbak." tutuh Airy.
__ADS_1
"Mbak mohon, Airy. Biarkan Zahra tinggal bersama kami di sini, ya. Mbak janji akan menjaganya dengan baik," pinta Ustadzah Ifa.
"Tapi .... "
"Airy, tidak ada salahnya jika Zahra tetap di sini. Lagian, Zahra dan Rafa 'kan tidak sekandung, bahkan tidak se-air susu. Kalau mereka tumbuh bersama terus, itu tidak akan baik menurut agama," sahut Ustaz Zainal.
"Iya, Ry. Lagian, kalian 'kan tidak hanya bertiga. ada Mas Hafiz juga bersama kalian. Jadi, aku mohon, biarkan Zahra tetap tinggal, ya." desak Ustadzah Ifa.
"Tapi Zahra, anakku." lirihnya.
Sejahat apapun ibunya, namun Airy sudah terlanjur menyayangi, Zahra. Bagaimanapun juga, menurut hukum, Zahra memang anaknya. Berat untuk meninggalkannya di kampung. Karena, tidak tahu akan berapa lama Airy dan Raihan tinggal di Ibukota.
Sekian bahkan pertimbangan, akhirnya Airy mau meninggalkan Zahra bersama dengan Ustadzah Ifa dan Ustad Zainal. Dengan berat hati, Airy memeluk dan mencium pipi Zahra. Kemudian berbisik, "Tunggu Mama pulang, ya."
Mendengar bisikan itu, Ustadzah Ifa sampai meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka, jika Airy bisa se-sayang itu kepada Zahra, anak dari orang yang selalu ingin mencelakai nya dulu.
Mereka pun berangkat, dengan memeluk erat Rafa, Airy berkata. "Jujur, aku berat pergi jauh dari tempat kenangan kita, Mas. Tapi, cintaku ini tak akan pernah hilang kepadamu. Aku selalu berdoa, semua kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Mas, aku sangat merindukanmu, pulanglah. Aku dan anak-anak sangat membutuhkanmu. Pulanglah, Mas Adam."
__ADS_1