
Sudah seminggu kepergian Rifky, sanak saudara juga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Kini, baik Raihan, Airy dan Yusuf merasa kesepian tanpa ada Rifky yang selalu membuat kekonyolan di rumah.
"Ma, Rafa nanti berangkat ke TPA nya sendiri aja nggak papa, kok." ucap Rafa memecah lamunan Airy.
"Iya, nanti Zahra juga bisa berangkat sendiri, Mama istirahat saja. Kemarin 'kan dahi Mama panas, jadi nggak usah antar nggak Papa," timpal Zahra.
Mereka mengerti keadaan Airy yang sebelumnya memang mengalami demam tinggi.
"MasyaAllah, pintar banget sih anak-anak Abi ini. Mau berangkat ngaji sendiri, ya. Boleh, kok!" seru Adam memeluk keduanya.
"Tapi, mulai tahun depan Zahra tinggal di pesantren, ya." imbuhnya.
"Kenapa, Bi?" tanya Zahra polos.
"Ya karena.. karena.. Sayang, gimana ngomongnya?"
"Karena, di saat anak sudah berusia 7 tahun, mereka harus sudah mengerti tentang agama. Jadi, kalian berdua Mama sama Abi pisahin, ya. Mulai umur 7 tahun, Zahra di pesantren dan Rafa tetap disini," jelas Airy.
__ADS_1
Merasa dibedakan, Zahra pun berlari keluar sambil menangis. Airy dan Adam memang berasa belum bisa menjelaskan bagaimana yang mereka maksud itu. Karena Zahra dan Rafa tidak ada hubungan darah sama sekali, jadi jika mereka sudah berakal baligh, mereka tidak boleh bersentuhan karena bukan mahram. Yang sering di lihat, mereka sering berpelukan dan tidur bersama dalam satu kamar. Padahal sudah di sediakan kamar masing-masing.
"Nanti, aku yang akan menjelaskan. Mas Adam makan dulu saja, aku mau ke rumah Kakung dulu," ucap Airy.
"Abi, Mama. Rafa susul Zahra dulu, ya. Assalamu'alaikum!" pamit Rafa, berlari menyusul Zahra.
Setelah Rafa keluar, Adam pun memeluk Airy dari belakang. Kemudian, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dan berkata, "Sayang, aku lelah."
Airy tersenyum, ia pun berbalik badan, memandang wajah suaminya yang memang begitu nampak lelah. Kemudian, ia pun ******* bibir Adam dengan sangat lembut.
"Ada apa, Sayang?" bisik Airy, dengan tangan berada di antara pipi Adam kanan kiri.
Yang dirindukan oleh Adam adalah senyuman dari istrinya. Setelah kepergian Papanya, senyum Airy tiba-tiba hilang, ia juga sering termenung sendirian ketika berada di kamar.
"Sayang, ikhlas itu memang berat. Tapi, kamu masih ada aku dan anak-anak. Kami juga butuh senyuman darimu," tutur Adam.
"Maafkan aku. Aku.... "
__ADS_1
Sebelum air mata Airy jatuh, Adam langsung memeluknya. Ia tidak ingin ada air mata lagi keluar dari mata istrinya.
"Sore nanti, aku ada acara sebentar. Kalau kamu mau ke rumah Kakung, sendiri nggak papa 'kan?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan.
Airy mengangguk. Adam membimbing Airy untuk duduk di sofa, membelai wajahnya dengan lembut dan menyeka bibir tipisnya. Di saat Adam hendak mencium bibir merona istrinya, Aminah datang dengan santainya, dan suasana menjadi canggung.
"Assalamu'alaikum, Rafaaaa, Zahraaaa ayo on the way ke... " teriak Aminah.
"Kalian sedang apa? Aku nggak lihat, loh!" melihat bibir Adam dan Airy yang sudah dekat, Aminah langsung membalikkan badan.
Merasa kesal Airy pun melempar Aminah menggunakan bantal kecil yang berada di sofa. Antara kesal dan malu karena ke-gap oleh adik usilnya.
"Aw! Sakit, boss!" jerit Aminah.
"Lain kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk ke rumah orang, Min!" ketus Airy.
"Ya kan aku nggak tau kalau kalian lagi mau emuah emuah! Lagian kalau mau begituan, mbok ya tutup pintu. Untung aku yang datang, coba kalau Rafa atau Zahra, kek mana itu." kesal Aminah yang masih membelakangi mereka.
__ADS_1
Sekali lagi Airy melempar bantal kecil itu ke Aminah. Dan membuat Aminah kesal, kebahagiaan kedua Airy yaitu, membuat adiknya yang satu itu kesal dan ngomel-ngomel sendiri.