Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 321


__ADS_3

"Wah, kalian kenapa ngagetin aku, sih? Permisi atau ucapin salam dulu, ngapa?" teriak Mita.


"Kamu, ngapain sampai melompat jauh begitu?" tanya Airy.


"Ya kalian datang, ngagetin aku yang asik baca buku. Kalian juga nggak buat janji kunjungan pasien? Kan aku belum bersiap!" ucap Mita gugup.


"Kami ke sini...."


"Maaf, aku sungguh minta maaf. Kalian duduklah, aku akan mengatakan semua yang telah aku lakukan kepada kalian," potong Mita.


"Aku menyesal, saat itu aku nggak bisa berpikir dengan jernih. Otaku selalu berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa selalu bersama dengan Raihan. Tapi nyatanya, cinta itu memang tidak bisa memiliki, dan lebih bodohnya lagi, sebenernya yang ada di hatiku ini bukanlah cinta, tapi hanya ambisi melihat lelaki yang sempurna di mataku dan aku harus mendapatkan itu!" ungkap Mita.


"Maafin aku, Raihan, Laila, aku... tau nggak sih, ngomong kayak gini tuh nyesek banget di dada. Jujur, aku bersyukur adik kalian yang tampan itu sayang, dengan teganya memasukan aku ke rumah sakit jiwa. Bodohnya lagi, aku menyukainya, dan awalnya aku nggak tau kalau dia adik kalian..."


"Tapi setelah ini, aku keluar dan akan memperbaiki diri, aku tidak akan mengganggu kalian semua, maafin aku!" tukasnya.


Raihan mendekat, tatapan mata Raihan memang begitu dalam kepada siapapun.


"Sudah? Sudah ngocehnya? Kami ke sini hanya ingin menjengukmu, minta maaf atas kelakuan adikku, itu saja! Kami sudah melupakan masalah kecelakaan itu, lagian aku dan istriku juga sehat wal'afiat, bukan?" tutur Raihan.

__ADS_1


Disusul-lah Airy dan Laila yang kemudian memeluk Mita. Mita menangis di pelukan mereka, ia merasa malu telah berbuat jahat kepada Laila ndan juga Raihan. Namun, semua karena tekanan batinnya yang juga memiliki konflik di dalam keluarga. Masalah Mita selesai, sejak awal memang Mita ini orang baik, ia hanya memiliki ambisi dengan Raihan saja. Sampai kehilangan akal untuk melenyapkan Raihan sebelumnya.


"Kapan kamu keluar?" tanya Raihan.


"Seminggu lagi, sebenarnya aku sudah bosan di sini. Tapi, tes kejiwaanku masih saja... Hahaha, kalian tau sendiri lah," jawab Mita.


"Semangat, ya... jangan lupa mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa," sahut Airy.


"Adik kalian bener-bener buat aku... Hah! Sudahlah, aku akan keluar sebentar lagi," desis Mita. Masalah dengan Mita selesai, Mita berjanji akan menghindar dari keluarga Raihan.


Sementara di Korea, Yusuf dan yang lainnya baru saja sampai. Ceasy dan Kabir yang tidak mengetahui akan kedatangan anak dan keponakannya pun di buat bingung. Pasalnya mereka tidak menyiapkan apapun untuk menyambut kedatangan anak dan keponakannya.


Begitu juga dengan Arnold yang diam saja, ia menjemput Hamdan dan yang lain di Bandara tanpa sepengetahuan dari Kabir dan Ceasy. Tau-tau, Hamdan, Yusuf, Falih, Aminah dan juga Raditya sudah sampai di rumah mereka.


"Ngomong apa apa, sih, Yah?" tepis Ceasy.


"Kalian masuk dulu, kami mau bicara dengan Papa Arnold!" pinta Ceasy, kemudian menarik Kabir dan Arnold ke kamar.


Sementara itu, terlihat Yumna sudah mempersiapkan kamar untuk Hamdan dan kakaknya yang lain istirahat, kecuali, Aminah. Yumna memintanya untuk tidur bersamanya, sementara Aminah tinggal di Korea.

__ADS_1


"Eonni, mari, ikut denganku!" sambut Yumna. Tentu saja menggunakan bahasa Korea.


"Em, itu. Bisa tidak kalau ngomong sama kita, pakai bahasa Indonesia saja, atau bahas Inggris juga ndak papa, hehehe," protes Aminah.


"Hahaha, eonni. Aku wae iso gunakke bahasa jowo, loh! Tenang wae, aku tak gunakke bahasa jowo pas lagek ambi, eonni Aminah!" kata Yumna dengan senyuman nakal.


Semua ternganga. Tidak menyangka jika Yumna bisa berbahasa Jawa. Ternyata, Kabir dan Ceasy tetap mengajarkan bahasa Jawa kepada Yumna yang masih duduk di sekolah dasar itu.


"Oppa, sebaiknya kau ajak meraka ke kamarmu. Aku sudah merapikan untuk kalian!" seru Yumna.


"Sudah kubilang, jangan menggunakan bahasa Korea. Atau pipimu ini akan mengembang jadi adonan bakpao. Mau, kau?" kesal Aminah seraya menarik pipi mulus Yumna.


Sibuk dengan barangnya sendiri, Raditya masih melihat pemandangan indah dari rumah Kabir. Hamdan memintanya untuk mandi dan beberes sebelum mereka pergi mencari senior Aisyah itu. Sementara itu, Ceasy dan Kabir sama-sama menginterogasi Arnold yang tidak membicarakan masalah anak-anak kepada mereka berdua.


"Kau pikir, kau sudah hebat dengan tidak mengatakan masalah ini ke kami? Senior Kak Ais juga baru keluar beberapa bulan lalu, jika dia semakin menjadi, mau bagaimana anak-anak nanti, hah! Panadol!" kesal Kabir.


"Lagian, apakah meraka bisa mengatasi semuanya sendiri? Mereka masih kecil, Kak. Ayolah!" timpal Ceasy.


"Pertama, berhenti memanggilku panadol, Kabir! Dan untuk kau bidadariku, tolong beri mereka kepercayaan, aku yakin mereka bisa...." jelas Arnold.

__ADS_1


"Apa? Bidadariku? Siapa bidadariku itu, eh mu, itu? Sembarangan!" ketus Kabir.


Kabir dan Arnold malah berantem sendiri. Ceasy langsung menarik masing-masing telinga mereka dan menyuruhnya segera keluar. Ceasy akan menyambut anak lelakinya dan keponakannya dengan hangat.


__ADS_2