Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 84


__ADS_3

Sampai di pesantren, semua sudah berkumpul disana, bahkan ada Akbar dan Fatim juga, mereka jauh-jauh dari Jepang langsung ke pesantren.


"Assalamualaikum, Om Abang udah sampai sini? " tanya Airy sambil mencium tangannya.


"Baru aja kok, oh ya, Yusuf mana? Om bawa Falih dan Mawar juga, masih sama Tante Balqis tapi!" tutur Akbar.


"Yusuf sekolah, dia biar pamit sendiri aja." jawab Airy duduk di sebelah Akbar.


Adam juga menyalami Akbar, mereka juga mulai akrab. Bahkan terlihat Adam juga bisa membaur dengan keluarga dan para santri. Ia juga terlihat sangat dekat dengan Ilham di sana.


Setibanya jenazah Kabir, semua orang bergegas mengangkatnya. Peti itu tiba-tiba bergerak gerak saat hendak dibawa ke tempat memandikan nya. Leah dan Ruchan memberanikan diri untuk segera membukanya, ya harus berani dong hahaha.


Leah terkejut, semua orang yang hendak melayat langsung lari semua, bahkan sampai ada yang terjatuh, sarung melorot dan sandalnya melayang tinggi. Berbeda dengan para santri dan keluarga Kabir, mereka mendekat ke peti dan membukanya.

__ADS_1


Mata Kabir terbuka, ia memerlukan udara yang cukup banyak, itu sebabnya ia membuka mulutnya juga. Kaki yang luka robek mulai pendarahan lagi, Leah kaget, menangis, ia segera memanggil Aisyah, Sandy, Akbar dan Keny.


"Kalian cepat kemari! Kabir! " teriak Leah panik.


Para Dokter itu segera mendekat ke peti, mereka langsung memberikan pertolongan pertama, sebagai pensiunan Dokter Jantung, Sandy maju terlebih dahulu, baru Akbar dan Aisyah, Keny juga ambil peran dalam memberi perawatan.


"Dia masih bisa bertahan, kita harus segera membawanya kerumah sakit, dia butuh alat dari rumah sakit." kata Sandy.


"Segera ku ambil mobil," kata Keny.


"Hidup lagi kah? " tanya Airy.


"Iya, Masya Allah, itu semua sudah kehendak Allah SWT, kita nyusul atau bagaimana? " kata Adam.

__ADS_1


“Semoga aja baik-baik saja ya, pulang aja yuk, apa mau bantuin beberes ini? "tanya Airy.


Karena semua pelayat kabur, Adam pun memilih membantu untuk merapikan kursi dan meja. Tingkah Airy ada-ada saja, angkong atau alat untuk mengangkut barang, ia naikin dan di dorong oleh Farhan.


" Ayo Pak Lhek, lebih cepat lah, cuma segini tenaganya, lembek kali kau Pak Lhek, " goda Airy.


"Hah enak wae, Pak Lhek ini masih strong, dulu Ami mu yang galak ini, juga Pak Lhek dorong seperti ini." jawab Farhan dengan nafas terengah-engah.


"Wah ngapusi, buktine pundi? Tetep ndak kuat to? Seumpami mboten saget ndak udah lah, tak mandap mawon. " kata Airy turun.


"Eh bentar, yo wis, tak pakai tenaga Naruto aku. " ujar Farhan mendorong angkong itu sangat kencang.


Semua orang hanya tertawa melihat tingkah Airy dan Farhan. Berbeda dengan Adam yang sejak tadi terus mengucapkan istighfar. Namun, melihat tawa di wajah Airy membuatnya bahagia, karena setelah kepergian Raihan ke Kairo semalam, Airy menjadi sedikit murung.

__ADS_1


Setelah sholat dzuhur, mereka pulang kerumah, disana ada bayi kecil yang sedang ditimang-timang oleh Rifky. Anak itu adalah anaknya Ceasy dan Kabir. Karena semua sedang panik dan tegang, Rifky membawanya pulang untuk sementara.


__ADS_2