Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 140


__ADS_3

Map berwarna hijau itu terawat dengan baik. Bahkan isinya pun tak ada satu temukan di setiap lembarnya. Benar-benar terjaga sangat baik, menandakan bahwa selama ini, Aisyah menjaganya dengan baik, sesuai dengan wasiat Pak Handika.


"Moon maap! Saya tak mengerti wahai ahjusi. Bisa dijelaskan lebih jelas lagi?" tanya Airy.


Adam pun menggelitik tubuh bagian belakang Airy.


"Aw geli," ucap Airy menggeliat.


"Kamu ini ya, sama Papa kok bilangnya ahjusi sih, ndak sopan tau!" tegur Adam.


"Tau nih, demam drama kah? Ish, lagi hamil nontonnya drama-dramaan!" sahut Yusuf.

__ADS_1


"Ngarang aja, aku kan tontonannya Mahabarata hahahhaa uhuk uhuk uhuk," akhirnya Airy tersedak.


Adam segera menuangkan air putih di gelas Airy. sikap Adam pun juga memijat bagian belakang punggung istrinya dengan sangat lembut. Begitu juga Rifky yang mulai mengatakan tentang wasiat amplop hijau itu. Di dalam amplop itu terdapat berkas-berkas penting contohnya, sertifikat tanah perusahaan yang ada di Jakarta, izin usaha, beberapa berkas penting peternakan yang ada di bandung dan juga perkebunan.


Menurut keluarga besar Handika. Semua aset itu hanya untuk anak perempuan di keluarga Handika. Dahulu di pegang oleh Aisyah, sekarang hanya Airy anak perempuan tertua dari generasi Aisyah. Ada Clara yang juga anak perempuan keturunan Handika, tetapi ia lahir bukan dalam ikatan pernikahan yang sah. Maka, wasiat itu akan jatuh di tangan Aisyah selaku anak dari Leah, yang juga anak perempuan dari Handika. Karena anak perempuan pertama juga lahir dari Aisyah, Maka dari itu, semua akan jatuh di tangan Airy, bukan anak dari Syakir, Akbar, ataupun Kabir. Tetapi semua itu adalah milik Airy, aneh bukan? Ya! Karena keluarga ini sangat memuliakan seorang perempuan.


"Apa? Aku ndak mau pusing mikirin ini ah! Sana, minta sama siapa aja yang ngurusin, kalau endak ya nunggu Yusuf besar, atau Bang Rai lulus kuliah." Tanpa berpikir panjang Airy langsung menolak semua harta itu.


Airy menatap Yusuf, kemudian menatap Adam. Airy tidak mungkin akan serakah mengambil semua itu. Karena Adam pasti akan menolaknya juga.


" Kenapa melihatku? Ambil saja lah! Kan itu memang punya Kak Airy!" Yusuf kembali menyantap gurame bakarnya.

__ADS_1


Airy menatap Adam.


"Emm, Pa. Tanpa mengurangi rasa hormat, apakah ini tidak berlebihan? Maksudnya, semua ini, tidak ada kaitannya dengan usahaku yang lagi.......... "


"Hahaha mana ada! Udah terima dulu, lebih jelasnya lagi, kalian besok tengok Uti sama Kakung ya, minta penjelasan beliau. Ayo terusin makan nya!" Rifki tetap memberikan amplop itu secara paksa untuk Adam dan Airy.


Setelah sholat Isya', Adam dan Airy langsung istirahat. Karena memang Airy masih membutuhkan waktu istirahat lebih banyak lagi. Mereka berdua duduk di atas kasur sambil memandangi amplop hijau yang ada di depannya. Mereka bukannya senang baru mendapatkan harta karun yang begitu banyak. Melainkan, merka malah kebingungan, karena mereka tidak pernah menguasai perusahaan keluarga sebelumnya.


"Bagaimana ini? Aku sudah berkali-kali bilang sama Ami dulu, kalau aku ndak mau mewarisi perusahaan yang di Jakarta!" keluh Airy.


"Mas masih bingung deh, kenapa anak-anak sampai keturunan Uti dan Kakek Sandy itu ndak mau mengurusi bisnis keluarga? Malah yang ngurus anak sambung dari buyut Handika? Ah bingung kan Mas, kalian begitu banyak keluarga, jadi bingung ini," Adam masih saja tidak hafal nama-nama keluarga besar Handika dan Jazeera karena terlalu banyak.

__ADS_1


Apakah Adam dan Airy mampu menjalankan bisnis keluarga? Mereka baru saja mengalami musibah, tetapi malah me dapat harta karun yang melimpah di depan mata.


__ADS_2