Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 146


__ADS_3

“Assalamu’alaikum,” Salam Adam seraya membuka pintu.


“Wa’alaikumsalam, baru pulang?” Tanya Airy seraya salim dengan Adam yang baru pulang dari masjid.


“Sudah ngaji?” Adam masih sedikit kesal dengan hal yang terjadi beberapa detik lalu.


“Alhamdulillah, sudah dong. Mau teh anget? Aku buatkan dulu ya.”


Ditambah lagi, Airy tiba-tiba menjadi sweet. Ia hanya bisa diam saja, namun, saat Airy beranjak dari kasur, Adam menahan tangan Airy. Menariknya dengan perlahan, hingga Airy duduk di pangkuannya.


“Pengen peluk,” bisik Adam memeluk Airy dari belakang.


“Ulu, Ulu manjanya suamiku ini. Ada apa sih?” tentu saja Airy merasa heran.


Adam menyandarkan kepalanya di bahu Airy. Pelukan hangat yang di bumbu rasa cemburu itu membuat Airy sedak nafas. Padahal Adam memeluknya dari belakang.


“Mas, boleh lepas dulu nggak? Aku kok ndak bisa bernapas ya?” keluh Airy.


Adam melepaskan pelukannya. Ia tidak bisa manahan rasa cemburunya. Lalu, ia pun mengutarakannya. Dengan perasaan gugup, Adam mulai berbicara,


“Aku cemburu.” Lirih Adam.


“Ha?” Saking liriknya, Airy sampai tak bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Aku cemburu!” Ulang Adam dengan sedikit keras.


“Cemburu?” tanya Airy.


Itu kenapa Adam awalnya tidak ingin mengatakannya. Airy malah tertawa terpingkal-pingkal. Malulah sangat suami, langsung berlindung dibawah selimut dan tidak ingin mendengar tawa dari istrinya.


“Eih, malu? Hoho, Ustad pun bisa cemburu?” Ledek Airy.


“Ustad pun juga manusia sayang, punya rasa dan punya hati.” Jawab Adam dari dalam selimutnya.


Tak tanggung-tanggung, Airy pun memeluk Adam. Kemudian, ia juga menceritakan kalau yang telfon itu adalah Hafiz. Tidak langsung jujur apa yang ia dan Hafiz rencanakan, namun Airy menjelaskan, bahwa hubungannya dengan Hafiz hanya sebatas Kakak dan Adik Ipar saja.


"Yakin?" tanya Adam membuka selimutnya.


"Meragukan, ku kah?" Decak Airy.


"Aku sangat mencintaimu," potong Airy.


"Apa? Katakan lagi!" Pinta Adam.


Ini kali pertama Airy mengatakan hal itu kepada Adam.


"Aku cinta suamiku, Mas Adam!"

__ADS_1


"Aku..."


Terdengar sering ponsel Adam. Karena tidak ingin merusak momen, ia pun Adam pun enggan mengangkatnya.


"Kenapa nggak di angkat? Siapa tau penting." Kata Airy.


"Mas Hafiz." Jawab Adam.


"Kenapa Kak Ale telfon, angkat saja Mas. Aku mau membuatkan teh untukmu dulu ya, Assalamu'alaikum." Airy mengecup pipi Adam sebelum keluar.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Adam dengan senyuman.


Malam itu, Hafiz menanyakan kapan Adam dan istrinya akan kembali ke rumah. Karena ada beberapa hal yang harus Adam selesaikan di sana. Hafiz juga akan pergi untuk sementara waktu, jadi meminta Adam untuk segera pulang.


"InsyaAllah besok siang Mas. Memangnya, Mas Hafiz mau kemana?" tanya Adam.


"Ada pokoknya. Dan ini sangat penting, cepat pulang ya. Assalamu'alaikum!" Hafiz menutup telfonnya.


Setelah Airy kembali membawakan teh hangat, ternyata Adam sudah tidur. Melihat suaminya tertidur, Airy pun menyelimuti dan segera menyusul tidur di sampingnya.


"Suamiku ini. Pipinya mulus banget sih, makin gemes aku. I Love You, " bisik Airy sambil mengusap-usap pipi Adam dengan perlahan.


Kemudian, Airy memeluk Adam dan tidur di lengannya. Setelah beberapa menit, Airy langsung terbang ke alam mimpi tanpa transit. Sementara Adam membuka mata dan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah. Ya Zawjati, perlu kau tau. Aku sungguh tersiksa dengan rasa cemburuku ini. Kau cinta pertamaku, setelah Allah dan Ibuku. Maafkan aku, maafkan aku yang cemburuan ini. Tapi aku sungguh tidak menyukai kedekatan mu dengan Mas Hafiz, bahkan ketika kau memanggilnya dengan sebutan Kak Ale, hatiku benar-benar pedih. Bisakah kau memaafkan ku?"


Adam mengecup kening Airy, memeluknya dengan erat, juga mengusap perut istrinya itu. Tak hanya sampai di situ saja, ia juga terus menciumi telapak tangan Airy dengan lembut.


__ADS_2