
"Kampret banget, hp-ku nyemplung, ora ono tanggung jawabe, Yusuf. Sak wudele dewe ngajak neng Korea. Titeni wae, sempakmu tak tinggal sesok nek mangkat, Korea!" gerutu Aminah sambil menyapu lantai rumah Aisyah.
Ketika Aminah masih menggerutu, kurir kembali lagi membawakan paket dari pengirim yang sama. Itu yang dikatakan oleh kurir. Merasa kesal karena masalah paket ia harus berkorban ponsel baru, kurir itu di tendang dengan tendangan maut oleh Aminah, dan memintanya untuk tidak mengirim paket jika pengirimnya masih sama.
"Ayu, jilbaban, hoodie ne ketok mahal, kok kelakuan seperti tarzan!" ledek kurir itu.
"Mas, durung tau rasan jenenge mondok neng rumah sakit mergo di balang balik kayu? Nek durung, rene tak rasani!" teriak Aminah.
(Mas, belum pernah mencoba namanya mondok di rumah sakit karena di lempar balok kayu? Kalau belum, sini aku kasih rasain!)
Kurir itu langsung pergi mendengar omelan Aminah. Dengan sigap, Aminah langsung membuka paket kecil itu. Di dalamnya, ada sejumlah peralatan medis rusak lagi, seperti siang tadi. Tentu saja Aminah semakin kesal, ia memutuskan untuk ikut pergi Korea supaya bisa menghajar orang yang meneror tanpa jelas.
Keberuntungan juga memihak kepada Laila, semenjak tinggal bersama Ruchan dan Leah, Laila semakin dekat dengan mereka. Bahkan, Laila sering menganggap jika hubungannya dengan sesepuh di keluarga suaminya sudah seperti hubungan sekandung.
"Laila, kok, Airy seharian ini belum kesini, ya? Terus dimana suamimu? Jam segini belum pulang?" tanya Leah.
"Mereka berdua sendang ke rumah Om Keny, Uti. Mengurus keberangkatan, Yusuf, Falih, Hamdan dan Aminah ke Korea." Jawab Laila.
"Mereka mau ke Korea? Kenapa?" tanya Leah tidak sedikit kaget.
"Teror itu dari seniornya Ami, katanya. Mereka menduga, jika teror itu di tujukan untuk Ami, bukan Bang Rai maupun Laila. Jadi, Yusuf dan yang lainnya akan menjelaskan ke senior Ami secara langsung," jelas Laila.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Laila, Leah merasa sedikit cemas. Karena cucu-cucunya belum pernah keluar negri tanpa orang dewasa. Namun, Ruchan tetap memberi semangat agar Leah tidak berpikir terlalu dalam. Laila juga menjelaskan jika mereka pergi bersamaku Raditya yang akan mengawal mereka dari pergi sampai pulang ke Jogja.
"Sebentar, Laila mau bawain gorengannya ke sini, ya. Uti, Kakung! Barusan Laila buatkan kalian bakwan jagung, semoga kalian suka," kata Laila.
"Wah, enak nih. Boleh, deh! Cepat bawa kemari!" perintah Ruchan dengan semangat.
Tanpa melihat Kakek Neneknya, Raihan masuk mengucapkan salam langsung memeluk Laila. Laila memberontak menahan malu, Ruchan dan Leah melihat kelakuan cucunya yang bar-bar di depan matanya.
"Bang, jangan di sini!" seru Laila masih dengan memberontak.
"Emang kenapa, sih?" tanya Raihan.
"Malu, di lihat Kakung sama Uti," jawab Laila.
"Ehem...." Ruchan mendehem.
Perlahan Raihan menoleh ke arah kursi. Melihat sangat Uti memasang wajah datar, lalu sang Kakung sudah mengangkat alisnya, Raihan melepaskan pelukannya dengan pelan. Tentu saja dengan cengengesan, menyembunyikan malunya.
"Assalamu'alaikum, Uti, Kakung. Abang masuk dulu, hehe gerah pengen mandi terus rebahan, Assalamu'alaikum!"
Raihan langsung berlari ke kamarnya. Sedikit menahan malu, Laila menyuguhkan bakwan jagung itu pelan. Ruchan tidak ingin merusak suasana, ia meminta Laila untuk melayani suaminya terlebih dahulu.
__ADS_1
Langsung saja Laila kabur bak angin lewat. Ruchan dan Leah tertawa melihat pasangan muda itu. Di dalam kamar, Raihan langsung memeluk Laila dari belakang, mengungkapkan jika dirinya lelah karena terus saja mendengar Airy ngomel tiada henti. Dahulu, ia sudah terbiasa dengan omelan Airy, namun semenjak Laila hadir, omelan Laila sudah cukup baginya. Jika Airy ikut mengomel, terasa beban pikiran Raihan bertambah banyak.
"Jadi, tak suka jika aku bawel, nih?" nada bicara yang membuat Raihan merasa paling salah sedunia.
"Enggak, kamu adalah bidadariku yang sangat istimewa. Jadi, jangan bahas lagi, oke? Aku harus hubungi Om Arnold dulu, barusan Hamdan sudah mengirimkan sosmednya kepadaku," ucap Raihan.
"Siapa, Om Arnold?" tanya Laila.
"Papa-nya Hamdan lah, siapa lagi?" jawab Raihan.
"Bukannya, Papanya itu, Pak lek kembar, ya? Kenapa jadi Om Arnold?" ternyata Laila belum mengetahui siapa Arnold.
"Ah, dia Papa angkat lebih tepatnya. Jadi, Hamdan itu pernah ilang waktu bayi, terus di temukan sama Om Arnold, dan di rawat oleh beliau selama 7 tahun kalau nggak salah. Begitulah!" jelas Raihan.
Laila semakin mengerti, jika keluarga besar suaminya sangat peduli satu sama lain. Mereka menerima anak orang lain begitu saja, sehingga ketika mereka di dalam masalah, pasti masalahnya akan cepat selesai karena banyak orang luar juga yang akan membantunya.
Kisah cinta Akbar dan Fatim juga menyentuh perasaanya. Akbar dan keluarga bahkan dengan sepenuh hati menerima Fatim yang sudah tidak perawan lagi akibat perlakukan bejat seseorang. Lalu, kisah cinta Kabir dan Ceasy juga membuatnya terenyuh, karena semangat dan kesabaran Ceasy begitu nyata di kisah itu. Kini, Laila yakin jika dirinya bisa menjadi seperti mereka. Ia akan gunakan kesempatan mengaji dan memperbaiki diri lagi, agar bisa serasi di mata masyarakat, menjadi pendamping seorang Raihan.
"Aku bersyukur bisa masuk ke keluarga luar biasa-mu, Bang. Keluarga kalian ini, begitu unik gitu, gampang banget memaafkan kesalahan orang lain, lalu mengangkat anak, menerima seorang menantu dengan... ah, aku nggak tau lagi harus ngomong apa. Panutan banget, tau nggak sih, Bang?" kata Laila.
"Cukup menjadi istri yang setia kepadaku, menua bersamaku, dan selalu ingatkan aku jika aku berbuat salah kepadamu. baik di sengaja atau tidak, tegurlah aku! Tapi jangan pernah kamu meninggalkan aku." tutur Raihan.
__ADS_1
Penuturan Raihan membuat Laila menangis. Laila memeluk tubuh Raihan dengan erat. Berjanji akan berusaha lebih memperdalam ilmu agamanya, agar tahu bagaimana menjaga adab istri, menanti dan juga kakak yang baik bagi seluruh keluarga suaminya.