Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 26


__ADS_3

"Assallamu'alaikum!" Airy membuka gorden secara perlahan.


Nampak Adam sedang memainkan ponselnya, lalu menelfon seseorang. Ia mengetahui kedatangan Airy, lalu memberi kode kapada Airy untuk duduk di bangku yang ada disebelah tempat periksa.


"Assallamu'alaikum, iya Pak gimana? Maaf tadi saya ada urusan sedikit, jadi tidak tau jika Bapak menelfon saya," Suara Adam yang lembut nambun tegas itu, membuat Airy senyum-senyum melihatnya.


"Airy, istighfar Astaghfirullah hal'adzim, dosa woy dosa!" Hati Airy ternyata masih sadar dan masih mamou menasihati dirinya sendiri.


Ia duduk di samping Adam, hingga membuat Adam menjadi gugup saat menjawab telfon dari orang penting. Berusaha tenang dan tidak grogi, tetapi Adam tipe orang yang jarang bergaul dengan wanita, jadi ia sedikit gugup ketika Airy di sampingnya.


"Ah iya Pak, Insyaallah segera, selama 5 hari kan? Insyaallah ya Pak, lusa saya akan be-berangkat, iya Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh," Adam menutup telfonnya.


"Udah?" Tanya Airy turun dari tempat priksa pasien dan duduk di bangku.


Meliha tingkah Airy membuat Adam sedikit kesal, ingin sekali mencubit pipinya, tetapi belum menjadi mahramnya.


"Kamu ini nakal ya, tadi saya telfon kamu di samping saya, sekarang selesai telfon kamu malah duduk di bangku, buat saya gugup saja deh," Kata Adam dengan lembut.


"Sengaja, aku ingin dengar yang kamu telfon itu laki-laki atau perempuan, takutnya bilang Pak karena ada aku, ternyata suaranya memang laki-laki hehehe," tutur Airy dengan senyuman manisnya.


"Mana ada Airy, saya nggak ada teman lawan jenis, mungkin ada beberapa anak murid saya aja yang buat group," jelas Adam.


Melihat Airy mengangguk-anggukkan kepala, Adam menjadi tenang, dan berusaha memberanikan diri untuk menasihati Airy tentang dirinya yang gampang emosi dan suka bertindak tanpa memikirkan dampaknya.


"Airy," memanggil nama Airy pun membuat Adam jadi grogi.


"Dalem Ustad," jawaban Airy pun menggundang adanya setan.

__ADS_1


"Boleh nggak, lain kali kamu harus kontrol emosi. Dan di saat emosi juga, sekali aja jangan memukul, bisa kan? Bukan aku melarangmu, tetapi ini semua demi kebaikanmu, nanti jika kita sudah menikah, cukup aku yang melindungimu, aku yang akan menjadi tanganmu, aku juga yang akan menjadi mulutmu, tapi jangan sesekali kamu memukul orang lagi, jika aku ada bersamamu," ungkap Adam.


Kata-kata Adam kali ini benar, Airy mengerti apa yang Adam maksut, dirinya sudah tidak lagi sebebas dahulu. Dulu, kenakalannya hanya akan di tanggung dirinya sendiri dan keluarga. Tetapi mulai 2 bulan kedepan, semuannya akan menjadi tanggungan bagi suaminya nanti.


"Baiklah Ustad,"jawaban Airy lemah.


"Airy, saya nggak ada niatan mengekang kamu, kamu mau petangkringan di pohon, mau main sepuasnya, atau mau bersikap seperti apa adanya kamu boleh, saya nggak melarang. Saya hanya tidak ingin kamu terluka di kemudian hari, jika itu tanpa saya," kegelisahan nampak ada di mata Adam.


"Aku faham Ustad, lain kali aku akan mengingatmu di saat aku berada di tingkat emosi. Memang ada saatnya kan, aku harus berubah," walaupun Nakal, tetapi Airy ini pemikirannya sangat dewasa, jika sedang bisa berfikir.


Benar kata Ustadzah Ifa, orang lain dan orang kedua setelah dirinya, hanyalah Adam yang mampu membuat Airy menjadi penurut. Padahal tidak ada kekerasan yang Ustadzah Ifa dan Adam lakukan, tetapi hati Airy melunak jika bersama keduannya, sama seperti Airy sedang bersama Raihan.


-_-_-


Rifky senang mendengar percakapan itu, ia pun mengajak Airy dan Adam untuk kembali ke pesantren. Sedangkan di pesantren, Diaz ini duplikatnya Airy, ia juga sangat usil, ia akan kalem jika ada Uminya sendiri.


"Woy, coro, coro (kecoa), hih," beberapa santri yang sedang mengaji jadi bubar karena Diaz melempar kecoa di tengah-tengah mereka.


"Astaghfirullah hal'adzim, jadi punya dua balita aku. Ya Allah, kuatkanlah imanku, minta maaf dong Diaz" tutur Raihan dengan tangan masih berada di telinga Diaz.


"Iya, iya, maaf semuanya. Habisnya kalian ini kan sudah selesai mengaji sejak tadi, ndak salah to aku ne?" Diaz memcari pembelaan.


"Baiklah, kita maafkan kali ini. Itu karena kamu santri baru, awas saja kelau berbuat seperti ini lagi, tak cincang kamu," teriak salah satu santri yang sarungnya hampir lepas.


Karena sudah dimaafkan, Raihan meminta Diaz untuk istirahat terlebih dahulu. Ketika ingin melompat dari genangan air, Diaz terpeleset hingga kaki di atas dan kepala dibawah.


"Duh Gusti, aduhh...." rintih Diaz.

__ADS_1


"Hahaha, karma itu tidak semanis kurma sayang," tawa santri pecah saat melihat Diaz terpeleset.


Raihan mencoba membantu Diaz berdiri dan memintanya segera kekamar mandi untuk mandi, karena lumpurnya sampai mengenai rambut. Muncul Ustad Zainal yang membuat para santri diam dalam seketika.


"Assallamu'alaikum warrahmatullahi wabbarokatuh"


"Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh, Ustad Zainal."


"Jika ada teman, saudara, tetangga yang mengalami musibah itu di bantu, bukan di tertawakan, mungkin Diaz memang usil anaknya, tapi jika kalian seperti ini, apa bedanya dengan dia. Rangkulah dia, ubah dia menjadi santri yang seperti kalian ini, Astaghfirullah hal'adzim, faham!" Ustad Zainal walaupun pengantin baru tidak meninggalkan kwajibannya mengajar mengaji malam.


Di kamar mandi, Raihan terus saja menertawakan Diaz, bagaimana tidak tertawa. Raihanlah yang paling dekat saat melihat Diaz terjatuh, dan raut wajah Diaz sangat lucu saat terjatuh.


"Yaz, seperti yang Abimu bilang, kamu itu sifatnya nggak jauh beda sama Abimu hahaha" Tawa Raihan.


"Guyu terus, terus wae Han, Cowok humoris itu paling laku tau, ndak kayak kamu, kuper, cuek, sok dewasa hahha ndak asil kamu Han" Teriak Diaz dari dalam kamar mandi.


"Lha Abimu aja humoris, tapi nikah diusia yang sudah senja hahaha," Goda Raihan.


"Tak krues lambemu Han, titeneno" Diaz tidak terima jika Raihan mengungkit itu, walaupun kenyataannya seperti itu.


Dagelan-dagelan yang Raihan dan Diaz punya terus saja di lontarkan.Dengan Diazlah, Raihan keluar sifat aslinya yang juga humoris, bahkan kekonyolannya melebihi sang Pak Lheknya, Farhan.


Keluar dari mobil, Rifky mengajak Adam untuk kerumahnya dahulu, lalu meminta Airy untuk segera istirahat. Wajah Airy nampak murung sekali, bahkan sampai dikamarpun ia terlihat sangat lemas.


"Assallamu'alaikum," salam Airy langsung mengambil peralatan mandinya dan keluar kamar lagi.


"Wa'alaikum sallam, kamu mau kemana Ry? Mandi? Udah malam loh?" Tanya Nadia.

__ADS_1


"Cuci muka lah, masa iya mandi, reumatik dong nantinya. Setelah ini siapin camilanku ya, setelah itu aku mau tidur, lelah akutuh," Kata Airy memasukki kamar mandi.


Malam itu, Airy terus saja memikirkan apa yang Adam katakan padanya. Ia ingin Airy menahan amarah di saat dirinya bersamanya, dan menjadi tangan, mulut baginya. Airy masih polos jika soal cinta, perasaan terhadap kaum laki-laki, ia terus berpikir keras mengartikan semua itu. Walaupun tahu maksutnya, tetapi arti dari kata-kata itu ia masih ragu.


__ADS_2