Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 60


__ADS_3

Karena hanya luka robek, pagi setelah pemeriksaan pertama, Adam sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka pulang menggunakan jasa taksi online, karena tidak sahur, pagi itu Airy terlihat lemas sekali. Bahkan ingin mengangkat tas yang berisi baju-baju mereka berdua saja seakan tidak kuat.


"Ughh berat sekali Ya Alah, persis seperti beratnya dosaku, haduhh." Keluh Airy.


"Kalau kamu nggak kuat bawanya, sini aku bawain, kamu kan sudah capek nungguin aku semalam." Tutur Adam merebut tas yang di gendong Airy.


"Hishh mana bisa gitu, Ustad kan lagi sakit. Biar aku aja, Ustad nggak akan mampu, berat, aku kan pendekar yaang wani perih," ucapan Airy membuat Adam tertawa.


"Hahaa gitu kah? Lihat driver taxi nya juga ikut ketawa," kata Adam.


"Pasangan muda mudi memang indah ya hehehe lihat saja pas kalian sudah memiliki anak nanti hehe," sahut driver taxi.


"Ahh si bapak, nggak ada kabel putus pak!" Tungkas Airy.


Di perjalanan pulang itu, Airy tertidur di bahu Adam, Airy memang suka tidur, manjat, ceroboh dan berkelahi. Namun, tentunya Airy juga memiliki banyak sisi baik, yang mungkin Adam belum ketahui. Walapun begitu, Adam menerima Airy apa adanya, seperti Airy menerimanya juga.


Sesampainya di pesantren, Ustad Zainal dan Ustad lainnya membantu Adam masuk kerumah, dan Raihan membawakan tas yang dibawa Airy, seketika Airy tiba-tiba memeluk Raihan hingga mmbuat Raihan merasa malu.


"Masya Allah Airy, kamu sudah bersuami, mana boleh pelukan sama Abang seperti ini? Banyak santri juga Ry!" bisik Raihan.


"Maaf, aku kan udah kebiasaan gitu," tutur Airy kecewa.

__ADS_1


Sampai dirumah Adam sendiri, Airy segera merapikan tempat tidurnya, Adam masih duduk di sofa panjang bersama dengan Ustad dan santri lainnya yang datang menjenguk.


"Untung puasa, aku jadi nggak repot-repot buat minuman, hahaha terakhir aku bikin sirup aja kemanisan kayak aku hahaha, harus butuh belajar jadi istri yang baik aku ini." Gumam Airy di kamar.


Seharian di lalui dengan normal hingga waktu ashar tiba. Airy yang tidak bisa memasak bingung, ia takut jika memasak nanti, masakannya tidak enak, dan Adam tidak suka. Ia segera membuka ponselnya dan mencari beberapa resep yang simple untuk belajar memasak. Melihat Airy yang bingung memilih resep, Adam pun mendekati Airy dan mengusulkan sesuatu.


"Assallamu'laikum ya zawjati," sapa Adam.


"Wa'alaikum sallam, wuih zawjati haha," tawa Airy.


"Ya memang bener kan?" Tanya Adam.


"Iya sih hehe ya zauji hahah lucu ah. Mau buka sama apa nanti kita? Aku nggak bisa masak, buat yang simple aja gimana? Yang mudah aku pelajari, nanti baru belajar lagi?" Usul Airy.


Mendengar kata belanja dan keluar, Airy langsung semangat untuk bergegas bersiap-siap. Sambil menunggu Adam selesai sholat ashar, Airy memanaskan mesin motornya terlebih dahulu, mengapa mereka tidak sholat berjama'ah seperti di rumah sakit? Karena Airy sengaja sholat terlebih dahulu, karena ia ingin memasak untuk buka puasa buat suaminya.


Karena sudah kesorean ke pasarnya, mereka berdua membeli sayuran ke warung terdekat pesantren, di sana juga banyak ibu-ibu yang mungkin sedang belanja sambil ghibah juga ada. Semua menyapa Adam dan Airy dengan ramah, bahkan anak-anak kecil juga menyalami mereka berdua. Ya! Karena anak-anak itu hendak berangkat mengaji di mushola pesantren, yang di pimpin oleh Raditya.


"Assallamu'alaikum Ustad adam, eh ini istrinya ya, aduh pengantin baru." sapa Ibu pemilik warung sayur itu.


"Wa'alikum sallam warohmatullahi wabbarokatuh, Njih bu, leres niki garwo kulo, (Iya bu, betul ini istri saya)" jawab Adam.

__ADS_1


"Ayune jan, sinten asmi ne Mbak?" tanya salah satu ibu-ibu disana.


"Airy buk, dari Jogja," jawab Airy menyambut tangan ibu-ibu yang hendak menyalaminya.


"Ustad kakinya sudah mendingan ya? Kok buat jalan-jalan naik motor juga? Ibu turut prihatin ya, semoga cepat sembuh," Ucap salah satu ibu-ibu itu.


"Syafakallah lah yu, wong putra ne Kyai kok yo, ngawur wae lah sampean ki." Senggol ibu-ibu yang berada disekolahnya.


"Ibu ini ah, nggak ada bedanya lah, wong sama-sama mendoakan. Mau anak Kyai, anak Ustad, ataupun anak pejabat pun, kita sama-sama hamba di depan Allah, permisi ya saya mau ambil kakung itu." Jelas Airy.


Tiba-tiba terdengar suara anak-anak minta tolong, seorang anak kecil meminta tolong, katanya ada yang terjebur di danau. Mendengar itu, Airy langsung meletakkan kangkungnya dan segera berlari ke danau menolong anak itu. Dengan hati-hati Adam mengikutinya dari belakang.


Anak itu berhasil Airy selamatkan, bahkan dengan metode pertolongan pertama menggunakan nafas buatan, anak kecil cantik yang hampir saja tenggelam itu akhirnya sadar dan menangis memanggil Ibunya yang sedang asyik ghibah dengan tetangganya. Adam mendekati Airy, Airy terlihat ingin menangis, Adam memberikan jaketnya kepada Airy.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin"


"Kok nangis sih, kenapa?" Tanya Adam.


"Aku lupa kalau aku sudah jadi seorang istri, harusnya aku nggak nekat ninggalin Ustad dan nyebur gitu aja, aku berdosa, puasaku juga batal tadi aku nelen air danau, hatcuuu, tuh bersin juga, kaki Ustad juga berdarah, pasti karena dipaksain jalan kan?" ucap Airy penuh dengan penyesalan.


"Semua kan karena situasi Airy, jika kamu menunggu ijinku, anak itu mungkin tidak akan tertolong, Wallahu"alam. Aku yang seharusnya malu, karena kakiku sakit, malah kamu yang bergerak menolongnya. Kita sudah selesai belanja, kita pulang yuk, kamu juga basah gini kan?" Kata Adam menghibur hati Airy.

__ADS_1


Semua ibu-ibu sangat bangga terhadap Airy, menurut mereka, sikap Airy itu mirip sekali dengan almarhumah ibunya Adam, yang pemberani, suka menolong dan jika bicara di senangi oleh semua orang, walapun ada juga yang tidak suka.


__ADS_2