Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 389


__ADS_3

"Jadi, Ibumu dan Ibuku, bersahabat?" tanya Yusuf.


"Tepat sekali, saat aku lihat videomu tersebar di internet. Aku langsung memberitahu Ayahku untuk segera takedown video itu. Karena fotomu, sama seperti foto yang diberikan oleh Tante Bona," ucap Hae Jun.


"Aku ingin berterima kasih kepada Ayahmu. Senang berteman dengan kalian berdua," ucap Yusuf menyalami Hae Jun, tapi tidak dengan Eun Mi.


"Aku tau, kamu tidak menyentuh wanita. Aku paham, aku seorang umat yang taat kepada Tuhanku. Beberapa waktu lalu, aku juga mempelajari agama yang kau anut itu dan aku tertarik. Bisakah.. kita berteman?" Eun Mi begitu lembut dan sangat cantik.


-----------------------------


Memang nyata, jika kita menanam kebajikan, pasti akan memetik kebajikan pula. Kebaikan yang ditanam Aisyah dan Rifky, kini dinikmati oleh Yusuf. Betapa beruntungnya Yusuf, meski tak merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya, namun ia mendapat kasih sayang lebih yang dititipkan oleh kedua orang tuanya kepada orang-orang terdekat.


Kebaikan Rifky kepada Jamil dan Yoona juga terbukti saat Jamil membalas budi dengan menjadi walinya sampai Yusuf tamat kuliah nanti. Kebaikan yang Aisyah tanam kepada sahabatnya, yakni, Bona dan Min Ah juga membuahkan hal yang positif bagi Yusuf. Putra Min Ah, juga sangat baik kepada Yusuf, ia mampu menerima perbedaan antara dirinya dengan Yusuf dan menjalin persahabatan mulai pertemuan pertamanya.


Yusuf juga tidak mengetahui, kabaikan apa yang orang tuanya lakukan kepada orang-orang itu. Ia sangat penasaran, dan ingin menanyakan langsung dengan semuanya secara mendetail.


Selesai belajar, siang itu Hae Jun dan Eun Mi mengajak Yusuf bertemu dengan Min Ah sahabat Ami-nya. Pertemuan itu sangat mengharukan. Menurut Min Ah, wajah Yusuf sangat mirip dengan Aisyah waktu muda dulu.


"Apakah, kamu putranya, Ica (panggilan Aisyah)?" tanya Min Ah.


Yusuf mengangguk dan tersenyum.


"Senyuman itu, aku seakan melihat sahabatku hidup kembali dalam dirimu. Aku masih tidak percaya jika dia sudah tiada, huhu…" tangis Min Ah pecah.


Banyak yang di ceritakan oleh Min Ah tentang aisyah muda dulu saat di Korea. Bagaimana mereka memulai pertemanan dan juga menjadi keluarga tanpa kartu keluarga yang sangat harmonis. Kebaikan Aisyah juga terlukis dalam hati Min Ah.

__ADS_1


"Aku sangat ingat waktu itu. Di saat aku terpuruk, aku butuh uang untuk pengobatan Ibuku.. Ibumu lah yang pertama menggenggam tanganku dan memberiku sejumlah uang tanpa berpikir panjang. Kenapa Ibumu begitu baik, Nak? Aku sangat merindukan kue buatannya yang sangat lezat itu…." tiada hentinya Min Ah mengungkap hati baik aisyah kepda Yusuf. Itu membuat Yusuf semakin bangga kepada Ami-nya yang memang pantas disebut malaikat di hatinya.


"Aku sampai kenyang saat Ibuku menceritakan tentang Ibumu. Aku sampai bertanya-tanya, adakah orang yang berhati bersih dan bijak seperti itu? Kau tau apa yang dikatakan Ibuku, Yusuf? Ibuku selalu bilang, sahabatku ini buktinya, aku bahkan akan membalas budi baiknya sampai tujuh keturunannya, hahahha…." tawa Hae Jun membuat Yusuf ikut tertawa.


Ini kali pertama bagi mereka saling bertemu, namun Yusuf merasa seperti sudah akrab bagaikan keluarga disaat bersama mereka. Hingga membuatnya pulang lambat ke restoran Jamil dan Yoona.


"Assallamu'alaikum…." salam Yusuf membuka pintu restoran.


"Wa'alaikumsallam, Yusuf! Kemana saja kamu? Nggak nyasar to? Lama banget sampai ke sininya, jangan-jangan ada yang jahati kamu ya? Yo bilang siapa?" Jamil selalu khawatir tentangnya.


"Aku kerumah sahabat Ami dulu. Dia mengundangku ke rumahnya, maaf aku tidak mengabari kalian," sesal Yusuf.


"Sudahlah, ayo masuk. Eomma sudah menyiapkan makanan enak untukmu," Yoona begitu lembut kepda Yusuf.


Kehangatan berkumpul dengan keluarga juga dirasakan oleh Yusuf ketika bersama dengan Jamil dan Yoona. Anak semata wayangnya tinggal di asrama. Jadi, baik Yoona maupun Jamil selalu kesepian di setiap harinya.


"Boleh saja, ayo ngomong saja! Kamu bebas mau melakukan dan bertanya apapun di sini!" jawab Jamil dengan girang.


"Aku ingin dengar tentang Papa dan Ami-ku di mata kalian? Mungkin dengan aku mendengar masa lalu mereka, aku bisa lebih bersyukur lagi memiliki orang tua seperti mereka," nada bicara Yusuf terdengar bergetar.


"Kebaikan!"


"Aku dan Papamu sahabat sejak kecil. Kami sama-sama dari keluarga broken home, itu yang kami tahu dulu, sebelum Rifky bertemu dengan keluarga kandungnya lagi. Dia banyak sekali membantuku, sejak aku pindah ke sini, dia juga tidak lupa mengunjungiku. Dai masuk ke universitas Teknologi Pangan dan Tata Boga di kota ini, itu mengapa dia membuka restorannya sendiri,"


"Dia bagaikan cahaya disaat aku jatuh di dalam lubang yang sangat gelap. Dengan tangannya, dia meraihku keluar dari lubang itu, dia menggenggam tanganku dengan erat dan memberikan senyumannya, menuntunku sampai aku sesukses ini, aku bangga memiliki sahabat seperti Rifky. Huh, eomma, ke kamar mandi dulu, ya…." Yoona tak mampu membendung air matanya lagi.

__ADS_1


Sementara Jamil yang meneruskan kisah itu, dimana saat Jamil sedang terpuruk karena dirinya menjadi pengangguran bebas yang hendak dijodohkan oleh wanita lain saat itu. Rifky juga yang mengulurkan tangannya, membiayai hidupnya ketika dirinya Korea. Setelah memtuskan kembali ke Jogja, Rifky juga membagi dua usahanya dengan Jamil dan Kabir.


Kisah kedua orang tuanya membuat Yusuf termenung di kamar barunya. Sambil menyeruput teh panas dan menggenggam buku pelajarannya, ia melihat pemandangan Kota Seoul di malam hari yang terlihat sangat indah dari balik kaca apartemennya.


"Papa… Ami.. terima kasih, kalian masih memberiku banyak cinta setelah kalian tiada. Kalian sungguh luar biasa, aku sangat bangga memiliki orang tua seperti kalian. Aku janji, aku akan berusaha lebih giat lagi, supaya harapan kalian kepadaku juga tidak sia-sia.…."


Surah Al-Fatihah ia lantunkan khususon nama Rifky Pratama dan Aisyah Putri Handika malam itu. Saat Yusuf haru membayangkan betapa indahnya masa orang tuanya muda. Yusuf diganggu oleh suara ketukan Hamdan yang mengetuk pintu kamarnya dan memintanya segera ke rumah Kabir untuk makan malam bersamanya.


"Ada apa? Matamu sembab, kamu nangis? Ada yang nyakitin kamu, Cup? Apa kamu di rundung orang? Di palak oleh mahasiswa lain? katakan! Katakan, Cup!" Hamdan ini memang suka heboh. Ia bahkan menekuk-nekuk wajah Yusuf sampai pipinya memerah dan menggoyang-goyangkan tubuh Yusuf dengan kasar.


"Astaghfirullah hal'adzim, Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad. Rasanya aku ingin bersholawat saat kau panik seperti ini, Ham Ham?" goda Yusuf.


"Hah? Kalau begini, kamu pasti baik-baik saja. Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" kesal Hamdan menginjak kaki Yusuf dengan keras.


"Aw, Ham!" teriak Yusuf sambil menggoda manja.


"Kenapa? Mau marah? Ih, geli tau! Ayo gelud!" teriakan Hamdan tak kalah seksi dengan teriakan Yusuf.


Terjadilah perang lucu diantara mereka berdua, sampai kurang lebih tujuh menit mereka perang dingin. Di saat Hamdan ingin jambak-jambakan, tangan mereka berhenti ketika telinga mereka ada yang menariknya dari belakang. Rupanya Kabir yang menarik telinga mereka.


"Berapa usia kalian sekarang?" tanya Kabir masih dengan nada santai.


"18," jawab Hamdan dan Yusuf bersamaan.


"Ikut Ayah sekarang…." tanpa melepaskan telinga keduanya, Kabir menyeret mereka masuk ke rumahnya dan memintanya cepat makan, setelah itu mereka akan mendapatkan hukuman dari Kabir.

__ADS_1


Namanya juga Yusuf dan Hamdan, mulut dan tangan mereka masih sibuk di sendok dan makanan, sementara kaki mereka masih tendang-tendangan tidak jelas hingga membuat Ceasy ikutan kesal. Apakah yang akan dilakukan Ceasy dan Kabir? Hukuman apa yang pantas bagi dua anak nakal kita ini? Komen!!!


__ADS_2