Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 39


__ADS_3

Cuaca siang itu begitu panas, walaupun sudah jam dua siang, tetapi hari itu adalah puasa pertama. Sebenarnya bukan hal baru bagi anak santri jika berupuasa, mereka sudah terbias puasa senin kamis dan puasa lainnya.


"Alamat buka puasa di luar ini mah. Jalanan macet gini," kata Raihan.


"Ngantuk Bang, masih jauh kan ya?" tanya Airy.


"Sini tidur di bahu Abang, nanti kalau udah sampai apa udah buka, Abang bangunin ya." Raihan meminta Airy untuk tidur bersandar dibahunya.


Sesekali Adam melirik ke arah Airy, memastikan dia istirahat dengan aman. Benar yang dikatakan Raihan, buka puasa pertama mereka dilakukan di masjid, yang sudah dekat dengan pesantren.


"Alhamdulillah, aku beli itu dulu ya, kalian jangan macam-macam. Assallamu'alaikum warohmatullahi wabbarokatuh," Raihan pun pergi ingin membelikan makanan lain untuk Airy dan Adam.


"Airy?" panggil Adam.


Airy mengangkat telapak tanganya.


"Beri aku waktu untuk memikirkan pernikahan itu, sekarang makan dulu makananmu Ustad!" Ucap Airy seraya meminum cendol dawetnya.


"Aku sudah buka kok, nanti saja makannya," kata Adam memainkan ponselnya.


Entah mengapa Airy tiba-tiba kesal, ia merebut ponsel.Adam, lalu menyodorkan makanan yang ada di depannya dan menyuruh Adam cepat makan.


"Lain kali, makan dulu baru mainan ponsel! Jika sakit nanti aku yang bingung nanti, cepat makan, kalau tidak ponsel ini aku sita!" kesal Airy.

__ADS_1


"Aaa" Entah kenapa juga Adam tidak bisa menolak atau membantah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Airy.


Melihat Airy makan dengan lahap, membuat Adam jiga berselara makan. Raihan pun kembali dan memberikan Airy sekantong kresek besar berisikan camilan untuknya.


Mereka juga berjalan dari jalan raya hingga masuk ke pesantren. Ada dua laki-laki di samping Airy, satu Abangnya, satu lagi calon masa depannya, masing-masing membawakan barang-barang milik Airy. Betapa bahagianya Airy, menjadi wanita istimewa diantara dua lelaki sholeh.


Sampai di pesantren, semua sudah melaksanakan sholat tarawih di aula. Airy sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, ia pun tertidur dikamar, bahkan belum juga ganti pakaian.


Tarawih pun usai, Nadia kembali ke kamarnya. Melihat pintu kamarnya terbuka, Nadia jalan dan masuk dengan sangat hati-hati. Rindi dan Siti pun mengikuti di belakangnga.


"Kalian ngapain?" tanya Nadia.


"Lha kamu sendiri ngapain? mindik-mindik gitu?" tanya balik Rindi.


"Mana ada, ayo cepat kita lihat!" Rindi tergeda-gesa masuk dengan membawa sapu lantai kedalam.


"Ngati-ngati Rin," bisik Siti.


Plakkk....


Suara pukulan sapu dari Rindi,


Bug....

__ADS_1


Pukulan kemoceng dari Nadia,


Bug Bug...


Tepukan tangan dari Siti ke bagian punggung Airy.


Lalu menitupnya dengan selimut, dan mereka.bertiga menindihi tubuh Airy.


"Aduhhh, sakit woy, sakit!" teriak Airy.


"Loh? Kok suarane wedok (cewek)?" Mereka bertiga pun bingung.


"Turun woy, Astahgfirullah, sakita tau. Kalian tuh berat kek dosa ku, turun!" rintih Airy.


"Airy!?"


Rindi, Nadia, dan Siti berusaha membangunkan tubuh Airy bersama-sama. Memberinya Airy minum, lalu memijit-mijit tubuhnyan. Dengan muka tanpa dosa itu mereka cengigisan bersama.


"Maaf, aku ndak tau loh Ry? Aku fikir kamu iku maling eh," kata Nadia.


"Astaghfirullah, helo? Memang ada maling secantik, sebaik dan se-ngangenin aku gini? Nggak mungkin!" kesal Airy.


"Kita minta maaf, kita ndak tau. Nih si Nadia ini, jalan mindik-mindik gitu, dan bilang ada maling. Kan kita jadi ikutan parno." kata Rindi.

__ADS_1


Hubungan Rindi dan Airy juga semakin mbaik. Kabarnya, Ruchan sudah menemukan jejak orangtua kandung Rindi dimana mereka berada, dan bagaimana keadaannya. Ruchan masih terus mencarinya, entah terbuat dari apa keluarga Airy ini, mereka sering kali mendapat ujian, di rusuhi orang dan selalu dijahati. Tetapi mereka masih saja berlapang dada menerima orang yang sudah menjahati itu.


__ADS_2