Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 222


__ADS_3

"Sial! Kenapa anak ingusan itu bisa menang, hah!" kesal Hans.


"Aku tetap harus mendapatkan Airy, bagaimana pun caranya. Meskipun aku harus menculiknya, iya! Aku akan melakukan itu," geramnya.


Di rumah Raihan, Airy sangat gembira ketika Raihan mengabarkan keberhasilannya. Kini, mereka harus lebih giat lagi dalam mengembangkan usaha keluarga itu. Tak lupa mereka juga memberikan kabar bahagia itu kepada Papa dan Adiknya di kampung. Begitu juga dengan Adam dan keluarga pesantren lain.


"Alhamdulillah hirobbil 'alamain. Yang bener, Han?" ucap Akbar.


"Alhamdulillah, Om. Raihan juga nggak nyangka dengan semua ini, yang Raihan ingat hanyalah Allah dan keluarga ketika rapat itu," jawab Raihan bahagia.


"Otak kamu ini terbuat dari apa, Han. Di umurmu yang ke 20th kamu sudah mampu mengembangkan usaha, Om bangga dengamu," lanjut Akbar.


Mereka pun mengadakan syukuran malam itu, dengan membuat jenang merah dan putih, dan doa sujud syukur bersama.


"Ini bukankah terkesan lebay nggak, sih?" tanya Raihan dengan polos.

__ADS_1


"Enggak lah, ini itu bentuk rasa syukur. Besok aku akan bagi-bagi rezeki ke anak yatim dan jompo, selamat Abang," Airy memeluk Raihan dengan sangat erat.


Sementara itu, Rifky dan Yusuf akan menyusul Airy dengan Adam nanti. Di hati Laila, ia juga merasakan kehangatan di keluarga itu. Ia tidak pernah membayangkan jika dirinya di posisi keluarga besar Airy, yang saling mengasihi satu sama lain.


Ketika semua sedang asyik bercengkrama, Laila keluar dan duduk di taman samping rumah. Ia menunduk dan membayangkan bertapa indahnya masa kecil dulu. Sebelum kehadiran Ibu dan Kakak tiri.


Drrt, drrt…


Suara sering ponsel. Telfon dari Abi Laila lagi.


"Wa'alaikumsalam, Ila. Pulang ya, Abi janji tidak jadi menjodohkanmu dengan anak teman Abi. Tapi kamu pulang, ya. Umi dan Kakakmu sangat merindukanmu," ucap Abinya.


"Hem, hanya mereka yang merindukan Ila? Hahaha sudahlah Abi, Ila sudah besar! Ila akan cari yang sendiri tenang saja, Ila tetap akan menghormati Abi, kok. Doakan Ila agar betah mencari uang di sini, Assalamu'alaikum!"


Setelah menutup telfon, Laila menghela nafas panjang. Ia menyandarkan kepalanya di ayunan taman malam itu. Doni pun menghampirinya.

__ADS_1


"Hey, ngapain lu di sini sendirian? Di dalam lagi ngumpul tuh," tegur Doni.


"Hahaha, gue udah biasa menyendiri, Don. Entah kenapa, gue merasa iri aja gitu sama hubungan Airy dan Abangnya, akur bener," jawab Laila.


"Emang, awalnya aku pikir mereka tuh pendiam dan acuh gitu. Tapi ternyata, ya lu bisa lihat dan rasakan sendiri, 'kan?" ucap Doni.


"Ada yang istimewa dari keluarga ini, gue salut banget pokoknya. Dan lagi, kita sama mereka 'kan seumuran nih, tapi mereka tuh hebat banget, mandirinya itu loh, Sis!" Imbuhnya.


"Beda ama gue, umur segini aja masih bertengkar ama bokap, hahaha ngenes urepku," timpal Laila.


Tak sengaja, obrolan mereka berdua di dengar oleh Raihan yang saat itu sedang menerima telfon. Ia tidak ingin tahu tentang Laila lebih dalam, karena ia takut akan terjebak dalam dunia percintaan. Raihan telah mengambil banyak pelajaran dari keluarga, withing tresno jalaran saka kulino.


Di Jogja, Gu, Hamdan dan Falih sudah berada di pesantren. Mereka semakin nyaman tinggal di sana, menemani sang Kakung dan Uti, sebagai pengganti orang tuanya yang kini sibuk berkarir di negri orang.


Mau kisah anak-anak ini juga enggak? Kalau iya, ku selipin sedikit-sedikit. Biar kalian bingung dengan belasan tokoh di karyaku.

__ADS_1


__ADS_2