
"Kalian sudah pada mandi? Hari ini, kita jalan-jalan, yuk. Kebetulan, Tante punya tiket nonton teater," ajak Ceasy basa-basi.
"Hm, hahaha. Maaf Tante, aku enggak deh. Aku suka ngantuk kalau nonton teater, mending kita makan aja. Gimana?" usul Aminah.
"Kita barusan makan loh, Min. Kamu habisin uang aku cuma buat makan ramen idamanmu. Kurang, kah?" sahut Falih tak terima Aminah ngajak makan lagi.
"Nanti aja, Bu. Ibu masakin yang enak aja buat kita makan malam. Kita mau nemui seseorang dulu, boleh?" rayu Hamdan.
"Ya sudah, pamit dulu sama Ayah dan Appa ya. Jangan pulang telat, hari ini Ibu sama Yumna masak spesial buat kalian semua!" seru Ceasy.
Setelah berpamitan kepada Kabir dan Arnold, mereka pun berangkat dengan semangat tinggi. Alamat rumah juga sudah mereka dapatkan melalu Arnold dan Bonna, sahabat Aisyah dulu saat bekerja di rumah sakit.
Bonna juga ikut andil menemui seniornya itu, ia sudah menunggu di depan rumah Senior sendirian. Yusuf dan yang lainnya sedang naik kereta, menempuh perjalanan yang sedikit jauh itu.
"Huh, kereta di sini berbeda dengan yang di drama. Kalau di drama tuh bisa senggang gitu. Ini, desek-desekan gini Ya Allah. Aku sesak napas, woy!" keluh Aminah.
"Sudahlah! Kamu ini sejak tadi ribut terus. Kenapa harus ikut kalau kebanyakan mengeluh begitu, hah?" kesal Falih.
"Padahal, hukum mengeluh dalam Islam jelas dilarang karena seharusnya kita harus tabah dalam menghadapi segala bentuk ujian." sahut Yusuf.
"Terus, salahkah aku? Iya deh aku selalu salah, huh!" kesal Aminah.
"Mengeluh secara psikis menguras energi. Mengeluh membuat aura Kita menjadi buram. Mengeluh menghentikan kreatifitas berhenti. Aminah!" desis Raditya.
Melihat Aminah semakin kesal, Raditya menawarkan diri untuk menjadi tempat duduk Aminah. Ia jongkok, dengkul menyatu dengan dinding kereta. Lalu meminta Makkah untuk duduk di pahanya. awalnya Aminah tidak mau, karena ia masih tidak ingin bersentuh dengan lelaki manapun. Tapi, perjalan sedikit panjang itu membuatnya terpaksa.
Sekitar 15 menit, mereka sampai di stasiun yang di tuju. Lanjut ke setasiun terakhir, dengan perjalanan sekitar 10 menit. Beruntung kereta yang mereka tumpangi waktu itu sedikit senggang, jadi semuanya bisa duduk di kursi.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap Yusuf.
"Tadi, Tante Bonna nungguin, di mana?" tanya Yusuf.
__ADS_1
"Di sekitar sini, sih. Sebaiknya kita segera bergegas!" jawab Hamdan.
Setelah muter-muter di stasiun, akhirnya mereka bertemu Bonna. Tanpa mengulur waktu lagi, mereka segera berangkat ke rumah Senior itu. Yusuf sudah geram sejak kemarin, ingin melihat bagaimana gampang senior itu.
"Tante harap, kalian di sana jangan buat keributan, ya. Di Korea beda sama di Indonesia. Jika kalian mengalami masalah, tingkat kepedulian orag Korea tidak seperti di Indonesia. Jadi harus hati-hati, mengerti?" tegas Bonna.
"Siap, Tante. InsyaAllah tidak akan ada keributan!" jawab Yusuf mantap.
Setelah beberapa menit, mereka sampai ke kediaman Senior. Rumahnya terlihat sangat kotor, seperti tidak di rawat. Banyak sekali rumah Laba-laba di bagian atap. Taman papan kayu di depan rumahnya juga telah usang, menjamur dan bau. Sepertinya memang Senior baru saja keluar dari penjara.
Bonna juga menceritakan tempramen senior pasca keluar dari penjara. Yusuf dan yang lainnya memang harus berhati-hati ketika bicara.
"Yang boleh masuk hanya Hamdan dan Yusuf. Kalian berdua tetap di luar, paham?" tunjuk Bonna.
"Kenapa? Kalau kita tidak ikut andil, ngapain kita ikut sampai sejauh ini?" protes Aminah.
"Tul itu! Kenalan kita tidak boleh ikut masuk?" timpal Falih.
"Huh, baiklah! Aku dan Aminah tunggu di sini," lenguh Falih.
Yusuf, Hamdan dan Bonna pun masuk ke rumah senior. Pintunya terbuka sedikit, meski dari luar nampak mengerikan, namun di dalam rumah itu terlihat rapi dan bersih. Banyak sekali Piagam penghargaan, dan sertifikat lain milik Senior yang terpampang jelas di ruang tamu.
"Di dalam bagus banget rumahnya. Kenapa dari luar bisa seperti rumah berhantu?" bisik Hamdan.
"Mungkin, karena di dalam kan dia tinggali. Kalau di luar, dia belum sempat untuk membereskannya," jawab Yusuf.
"Kalian siapa?"
Suara seorang lelaki menggunakan bahasa Korea. Yusuf, Hamdan dan Bonna pun menoleh, itulah senior Aisyah yang pernah menusuk Rifky bertahun-tahun yang lalu.
"Senior, kau kah itu?" tanya Bonna.
__ADS_1
"K-kau, mengenalku?" Senior itu mungkin pangling dengan Bonna. Karena saat ini Bonna tidak memakai baju dinas.
"Aku Bonna, sahabat lama Icha (Aisyah), kau ingat, sekarang?" tanya Bonna.
"Bonna, si sisir?" Senior mengetahui jika Aisyah memiliki sahabat yang sangat manis dan manja. Bonna dulu sering sekali memerhatikan rambut, jadi ia selalu membawa sisir kemanapun dia pergi.
"Kau ingat sekarang?" tanya Bonna.
Senior itu menduga jika aksi meneror-nya di ketahui oleh Bonna dan keluarga Aisyah. Tersangka ingin kabur, namun dicegah oleh Falih dan Aminah di depan pintu. Mereka yang penasaran juga ingin melihatnya siapa senior itu.
"Siapa? K-kalian ini?" tanya Senior itu gugup.
"Dia tanya apa?" bisik Falih.
"Mungkin tanya siapa kita, lihat dari ekspresinya. Ketika di drama pasti gitu," jawab Aminah juga berbisik.
"Oh, saya Falih dan ini adik saya Aminah. Kami anak Ami Aisyah, hehehe. Siapa anda?" jawab Falih menggunakan bahasa Jepang.
"Astaghfirullah, aku keliling Asia. Kenapa kamu jawab menggunakan bahasa Jepang. Dia Korea, Tukiman!" kesal Aminah.
Tanpa ragu lagi, Yusuf menarik lengan Senior dan memintanya untuk duduk. Ia akan mengatakan jika teror itu hanya akan sia-sia karena Aisyah sudah meninggal. Yusuf berbicara menggunakan bahasa Inggris kepada Senior, untung saja ia masih sedikit mengerti apa yang di katakan Yusuf.
Lebih jelas lagi, Hamdan dan Bonna yang menjelaskan apa yang telah terjadi dengan Aisyah dan Rifky. Mendengar bahwa mereka sudah meninggal, Senior itu langsung tertunduk, terdiam dan lama-lama menangis. Ia merasakan sakit yang amat sakit karena tidak bisa melihat Aisyah lagi. Selama ini, ternyata dia masih mencintai Aisyah.
"Aku sangat mencintainya. Dia tidak seperti gadis pada umumnya. Aku melakukan teror itu, juga tidak ada alasan lain selain mengganggunya saja. Apalagi, aku telah menusuk suaminya waktu itu, aku benar-benar...." lirih Senior itu.
Mendengar penusukan, dan iseng meneror, Yusuf sudah mengenakan tangannya. Ia kesal, semua itu di anggap lelucon. Sebab penusukan itu, kesehatan Rifky dulu terganggu kata Aisyah, Yusuf tidak terima. Akan tetapi, ia sadar jika dirinya menaruh dendam kepada musuh orang tuanya, itu hanya akan menyakiti hatinya, dan membuat orang tuanya menambah siksaan di alam sana.
Yusuf menghela nafas panjang seraya beristighfar. Kemudian berkata, " Aku tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Karena di waktu itu pula aku belum lahir, bahkan kakak-kakakku pun juga masih balita. Aku tak pantas jika harus menghukum Paman ini karena dendamku yang tak berarah. Itu urusan orang dewasa bukan urusan kami lagi. Jadi aku harap, paman bisa menghentikan teror itu, karena yang ada di rumah itu sekarang bukan Ami dan Papa lagi, melainkan Abangku dan istrinya."
Tanpa Hamdan dan Bonna jelaskan, Senior itu tahu apa yang di katakan Yusuf. Ia pun meminta maaf kepada Yusuf, dan akan menghentikan teror itu. Karena orang yang di tuju sudah tiada. Masalah selesai, kini mereka akan menikmati liburan sebentar di Korea.
__ADS_1