
"Siapa yang mencintai sampai segitunya. Aku main perasaan juga masih wajar kali. Aku juga tahu batasan!" Aminah mengatakan itu dengan emosi.
"Lah, kan aku cuma mengingatkan. Apa salahnya?" ucap Yusuf.
"Kamu aneh deh, Min. Itu jelas kamu sedang cemburu dengan cinta pertamanya Mas Raditya. Aku jadi penasaran, seindah apa dia…." Hamdan juga penasaran rupanya.
"Hih, laki semuanya sama aja. Bikin kesel, dongkol, nyebelin, nyepeti, nyereti, pokokke minus kabeh kecuali bapakku!"
Aminah semakin kesal saja, bahkan pesan atau telpon dari Raditya pun tidak ada. sampai di rumah, Gehna di serahkan kepada Mamanya, Balqis. Lalu, Aminah masuk ke kamarnya sembari membanting pintu.
"Huh, kenapa dengan aku ini? Kenapa aku marah? Perempuan itu kan juga sudah punya anak dan statusnya masih nggantung. Nggak mungkin dong Bang Dit mau bersamanya lagi," gumam Aminah dengan menaikkan kakinya keatas menyandar ke dinding.
"Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad.. aku kuat, aku ra mundur. Pasti Bang Dit juga bisa jaga perasaan, aku yakin aku akan baik-baik saja." desisnya.
Di Jepang, Falih dan Mawar jalan-jalan ke festival di Jepang sana. Mereka kian hari semakin akrab setelah sempat renggang karena hidup berjauhan. Mawar juga mengajak kulineran halal kepada kakaknya itu. Takdir dan kehidupan itu memang berdampingan, Falih diketemukan lagi dengan Yuma ketika mengunjungi festival di sana.
"Kak, jilbabku ini baru aku beli beberapa hari lalu. Cocok nggak?" tanya Mawar basa basi.
"Jawab jujur apa bohongan?" goda Falih.
"Ya jujur dong, Kak."
"Sebenarnya kamu pakai jilbab warna apa aja cocok, kok. Tapi, kalau warna ini, menurut kakak... kamu akan terlihat jauh lebih tua dari usiamu sekarang," jujur sekali Falih.
"Falih, kau kah itu? Ternyata kamu suka menghadiri festival seperti ini juga, ya?" Yuma tiba-tiba datang dan membuat Mawar salah sangka.
Ternyata mereka sama-sama sekolah di yayasan yang sama. Bedanya kelas Mawar ada di belakang sekolah. Meski jarang bertemu dengan Yuma, tapi Mawar juga selalu melewati kelas menengahnya.
"Orang Indonesia juga, kah?" tanya Mawar.
"Iya, perkenalkan namaku Yuma. Aku satu kelas dengan Falih." ucap Yuma mengulurkan tangannya kepada Mawar.
"Oh.. jadi kemarin sempat menolak pertemanan yang aku ajukan, karena kamu sudah punya pacar, ya?" imbuhnya bertanya kepada Falih dengan melirik Mawar.
"Em, iya. Aku hanya tidak ingin membuatnya salah paham saja!" jawaban Falih membuat Yuma patah hati.
Sejak awal, Yuma menduga Falih berbeda dengan yang lainnya untuk tidak pacaran disaat dirinya masih sekolah. Yuma salah paham mengira Mawar adalah pacar falih, ia juga meminta maaf telah mengganggu Falih.
"Kalau begitu, aku duluan ya. Sampai bertemu lagi besok di sekolah," pamit Yuma.
"Tunggu!"
Mawar menghentikan langkah Yuma. Ia mengatakan jika dirinya bukan pacar Falih, melainkan adik kandungnya. Yuma langsung menoleh ke arah Falih dan Mawar. Sekali lagi, Mawar menjelaskan kepada Yuma tentang kakaknya tidak akan pacaran sebelum lulus mengejar pendidikannya hingga meraih kesuksesnya.
"Jadi, pertahankan pertemanan kalian. Jika takdir membuat kalian jatuh cinta.. please, ingat orang tua kalian yang mengharapkan kesuksesan dari kalian, oke? Aku mau beli ice cream dulu, assallamu'alaikum," ungkap, jelas dan pamit Mawar.
"Apa lagi nih, bocah! Ngacauin aja, deh!" umpat Falih.
Yuma tercegang mendengar wejangan positif dari Mawar. Meski usianya juga tak terpaut jauh, tapi Mawar bisa berpikir jernih dan lebih dewasa dibandingkan kakaknya.
"Wah, adikmu memang hebat ya, tapi ke kenapa kalian seperti seumuran?" tanya Yuma.
"Karena kami lahir hanya beda setahun lebih. Kenapa?" jawab Falih dengan nada ketus.
__ADS_1
-_-_-_-
Liburan musim panas, Mawar sengaja berkurang ke rumah kakeknya yang ada di Jogja. Ia juga akan mampir di rumah keluarga pihak ayah yang ada di pesantren. Sekolah di luar negri dan dalam negri memang berbeda, mungkin di luar negri sekolah sampai malam, tapi banyak sekali liburnya. Bukan hanya Mawar, Falih beserta kedua orang tuanya juga ikut pulang ke Jogja.
"Ini sudah hari ke dua kita di Jogja. Kapan kita ke pesantren?" tanya Mawar.
"Sabar dong, kita harus bikin kejutan buat mereka. Mawar, bagaimana kalau kamu ke sekolah Yusuf? Kamu kejutkan dia di sana, sementara Falih, kamu kejutkan adik Koreamu itu, bagaimana?" Akbar memang usil, masih saja keusilannya awet sampai ia berumur.
"Ide Papa bagus juga. Aku lebih suka menggoda Hamdan. Dia paling gampang banget di permainkan hatinya, hm...." ucap Falih dengan mengangguk-angguk bagaikan pertapa yang sedang berdoa.
"Tapi aku kangen dengan Aminah. Ah, tapi dia juga kurang seru orangnya. Belum apa-apa, pasti udah ribut saja denganku," timpal Mawar.
"Makanya, kamu ke sekolah barunya Yusuf saja. Tau, 'kan? Sekolahnya tidak jauh dari sini kok, kamu bisa naik angkutan umum satu kali," ucap Fatim.
"Iya, aku berangkat nanti pas jam sekolahnya selesai," jawab Mawar.
Waktu yang dinanti telah tiba, Mawar berangkat ke sekolah Yusuf siang itu. Mawar ini, meskipun tak cerdas dalam beberapa pelajaran sekolah, tapi ia memiliki mental yang bagus. Ia tidak akan pernah sungkan untuk mengenal siapapun di jalan. Dia juga pemberani seperti Aisyah dulu, wajahnya juga mirip sekali dengannya.
"Ini sekolahnya, sebaiknya aku menunggu di gerbang saja deh. Aku tanya dulu sama security itu," gumam Mawar.
"Assalamu'alaikum, permisi," sapa Mawar.
"Wa'alaikumsalam, iya ada apa dek?" tanya satpam itu.
"Mau nanya, Pak. Kelas tiga, pulang jam berapa ya?" meski lancar menggunakan bahasa Indonesia, tetap saja kadang Mawar bingung dengan menggunakan bahasa yang formal dan non, kepada seseorang.
"Oh, itu... ah, itu sudah pada keluar. Kamu jemput siapa, dek?"
Mawar sangat senang begitu melihat Yusuf keluar dari kelasnya, terlihat dari gerbang karena kelas Yusuf ada di depan lantai tiga.
Di sisi Yusuf, ia sedang membicarakan tentang belajar kelompok yang akan diadakan di restoran Gu siang itu. Rencana Yusuf akan memboncengkan Fatur, sementara Jihan akan memboncengkan Cindy mengendarai motor Yusuf.
"Kalian tunggu saja di gerbang, aku dan Yusuf akan ambil motornya," ucap Jihan.
"Ok, ok!" seru Cindy.
Beberapa siswa melihat Mawar yang masih berdiri di samping gerbang. Kulitnya yang putih dan cerah itu menarik perhatian semua siswa. Meski berdarah Jawa, karena memang lahir dan besar di Jepang, Mawar nampak berbeda.
"Cewek cantik tuh, siapa ya?" bisik Fatur.
"Dasar mata keranjang! Mungkin dia jemput seseorang di sekolah ini," jawab Cindy memukul lengan Fatur.
Tak lama setelah itu, Yusuf datang tanpa mengenali Mawar. Memang sudah lama sekali Mawar tidak pulang ke tanah jawa. Mereka hanya sering berkomunikasi lewat ponselnya, tentu saja Yusuf tidak langsung melihatnya. Tapi tidak dengan Mawar.
"Yusuf," panggil Mawar, berteriak.
Ada yang memanggil namanya, Yusuf pun menoleh mencari siapa yang memanggilnya itu. Mawar melambaikan tangannya, dan berlari mendekat ke arah Yusuf.
"Assalamu'alaikum, hampir saja kamu tidak mengenali aku," ucap Mawar.
"Wa'alaikumsalam, Mawar. Kapan kamu kembali?"
Melihat senyum cerah di wajah Yusuf membuat Cindy cemburu. Tentu saja mereka belum pernah bertemu dengan Mawar. Ini kali pertama mereka bertemu, bahkan Yusuf pun juga sudah lama tidak bertemu dengan Mawar.
__ADS_1
"Motor kamu.. bukannya yang itu, ya? Em, atau kalian mau kemana?" tanya Mawar penasaran.
"Oh, kita mau ke restoran, Kak Gu. Mau ikut?" ajak Yusuf.
"Gu oppa? Mau banget, udah lama nggak ketemu dengannya juga. Tapi, motornya cuma dua, dan orangnya lima, gimana, dong?" suara manja Mawar membuat Cindy kesal..
"Hish, dia juga tahu kakaknya Yusuf yang orang Korea itu! Siapa, sih dia? Ash, mana dia juga cantik pula, berjilbab, pasti seiman dengan Yusuf!" batin Cindy.
"Oh iya, ya. Gimana kalau kamu baik ojek aja, Fat. Aku nggak mungkin biarin Mawar naik ojek, bisa?" usul Yusuf kepada Fatur.
"Oh tentu, buat cewek secantik dia, apa sih yang enggak. Cus kalian duluan, aku menyusul dengan pak ojek di depan sana," ucap Fatur sembari mengedipkan matanya kepada Mawar.
"Temanmu step, kah?" bisik Mawar.
"Stt,"
Mawar naik ke jok belakang Yusuf. Saat pertama Cindy naik, ia bahkan tidak bisa menyentuh tubuh Yusuf sama sekali. Sementara Mawar, ia langsung menyentuh bahu Yusuf dan menyandarkan dagunya ke bahu Yusuf.
"Usah gede juga, jangan taruh kepalamu di situ," tegur Yusuf.
"Hish, kan nggak enak ngobrolnya nanti jadi jauhan," protes Mawar.
"Masing-masing sudah baligh ya. Jangan bilang kamu sudah lupa apa itu baligh," lanjut Yusuf.
"Iyo, iyo...." jawab Mawar mengangkat kepalanya lagi.
Hati yang sedang terbakar membutuhkan ambulance dari rumah sakit cinta. Cindy terbakar api cemburu melihat kedekatan Yusuf dan Mawar. Sebelumnya ia cemburu kepada Aminah, sekarang ia juga cemburu kepada Mawar karena dirinya belum mengetahui siapa Mawar sebenarnya.
-_-_-
Pulang sekolah, Aminah di jemput oleh Raditya. Raditya tahu, waktu itu Aminah pasti kesal dengannya karena kedatangan Nadia kembali ke kehidupannya. Ia ingin meluruskan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Nadia.
"Tuh lihat, pangeranmu sudah datang. Sebaiknya aku pulang duluan saja ya," ucap Mayshita.
"Jangan dong, aku lagi males sama, Bang Dit." belum apa-apa Aminah sudah kesal saja.
"Terserah deh!" Mayshita berjalan melewati Raditya, begitu juga dengan Aminah yang pura-pura tidak melihatnya.
"Tunggu! Assalamu'alaikum May, bisakah kamu meninggalkan bayanganmu itu? Aku ada perlu dengannya," Raditya menghadang jalan mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Ambillah!"
"Apa?" teriak Aminah.
Mayshita memang sedikit cuek akhir-akhir ini, karena dirinya hendak dikirim ke luar negri oleh orang tuanya. Sementara hatinya tidak ingin pergi dari kota itu. Sera ingin Mayshita mengunjungi nenek dan kakeknya yang berada di Malaysia sekarang. Sera juga menginginkan Mayshita melanjutkan pendidikannya di sana.
"Ada apa denganmu?" tanya Raditya.
"Nggak papa, aku pulang duluan ya. Assalamu'alaikum!" jawab Mayshita melanjutkan langkahnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati." ucap Raditya.
__ADS_1
Aminah berusaha kabur dari Raditya. Namun, Raditya berhasil menahannya, kemudian menarik lengan Aminah dan membawanya masuk ke mobil. Sempat meronta, namun hati Aminah berkata lain. Aminah memang masih kesal dengan insiden waktu itu. Apa yang akan terjadi setelahnya?