Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 327


__ADS_3

Indahnya kota Seoul tidak bisa menjadi obat galau di hati Yusuf. Ia tidak menduga jika dirinya akan sampai di kota dimana dulu orang taunya meraih cita-cita dan mengadu nasib sebagai pemilik restoran.


"Belum tidur?" tanya Hamdan membawakan secangkir kopi.


"Haha, apa ini? Wuih, ada kue dan camilan juga...," sentil Yusuf.


"MasyaAllah, kotanya indah banget. Kenapa aku nggak betah tinggal di sini dulu ya," sahut Hamdan.


"Kau lebih suka cari katak dari pada melihat keuwuan orang pacaran di Korea haha," ledek Yusuf.


Mereka masih membicarakan hal sewajarnya remaja. Menggambarkan masa depan, mengingat masa kecil dan menceritakan kelucuan lainnya. Sampai berada di titik tentang rencana pindah sekolahnya Yusuf.


"Kamu yakin mau pindah sekolah?" tanya Hamdan.


"Bismillah, yakin!" jawab Yusuf.


"Bukan karena cewek itu?" tanya Hamdan.


"Tidak, aku pindah bukan karena siapapun. Tapi menurutku keputusan ini sudah tepat saja bagiku, kenapa sih? Kamu suka sama cewek itu?" jawab Yusuf kembali bertanya kepada Hamdan.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menyukai wanita yang sama dengan saudaraku sendiri. Jika suatu saat itu terjadi, aku yang akan mundur dan memilih pergi," ungkap Hamdan.


"MasyaAllah, Hamdan. Tapi, aku berharap suatu saat nanti menikah dengan pilihan Kakung atau keluarga yang lainnya. Karena jika jatuh cinta terlebih dahulu, takutnya akan menjadi penyakit hati." Jelas Yusuf.


Obrolan meraka berakhir sampai hampir mau pagi. Sebelum melakukan aktivitas, tentu saja meraka menunaikan sholat subuh terlebih dahulu sesuai aturan waktu yang sudah Kabir jadwalkan.


Rencana jalan-jalan pagi itu tersendat karena kedatangan Senior Aisyah ketika sarapan. Senior itu ingin meminta maaf kepada Yusuf selaku anak dari orang yang di cintainya. Selama berpikir semalaman, ia merasa menyesal telah melakukan hal tercela itu. Pernah merasakan tidur di dalam sel penjara, itu sudah cukup baginya.


Yusuf beserta keluarganya sudah bermurah hati memaafkan semua yang dilakukan oleh Senior Ami-nya. Ia hanya berpesan agar Senior itu mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik meski sudah tidak menjadi seorang dokter lagi.


"Alhamdulillah, masalah selsai. Waktunya kita jalan-jalan, hore...." teriak Falih kegirangan.


"Kenapa bisa gitu, ya?" batin Aminah.


Berkali-kali di panggil oleh Ceasy, Aminah tetap saja bengong dengan pikirannya yang berpusat oleh kata 'Nikah, yuk' membuatnya kesal sendiri.


"Aminah! Kalau sarapan itu dimakan, bukan cuma dimainin seperti itu. Nanti kalau dingin malah tidak kamu makan. Kan capek, Tante udah masakin buat kamu malah nggak kamu makan!" seru Ceasy.


"Tante bawel deh, sama kek Kak Airy dan Mama. Kesel!" jawab Aminah.

__ADS_1


Ketika Ceasy hendak menegur Aminah lagi, Kabir menahan tangannya. Kabir tahu jika Raditya akan bicara kepada Aminah.


"Aminah, Ayo sarapannya dimakan!" pinta Raditya.


Mendengar suara Raditya, Aminah langsung makan sarapannya dengan lahap. Ia bahkan makan sangat cepat dan salah tingkah didepan Raditya. Yusuf, Hamdan dan Falih selesai sarapan, mereka pun berangkat jalan-jalan meninggalkan Aminah bersama Raditya.


"Kalian tunggu aku, dong. Sebentar lagi habis nih!" seru Aminah dengan mulut penuh.


"Kamu jalan saja sama Mas Radit saja. Kami mau menikmati indahnya hari ini cuma bertiga, Assalamu'alaikum!" tolak Falih.


"Yusuf...," rayu Aminah.


"Maaf, aku malas mengajakmu!" jawab Yusuf.


"Hamdan, ottoke?" Aminah masih berusaha.


"Tto boja...," ucap Hamdan melambaikan tangannya.


"Terserah!" kesal Aminah.

__ADS_1


Karena Yumna hari ini masih tetap sekolah, Ia pun berangkat bersama dengan Kabir dan Ceasy. Di mana Ceasy memang sering diantar oleh Kabir ke kantornya. Tinggallah mereka berdua di rumah, itu semua membuat Aminah sangat kesal karena saudara yang lainnya tidak mau mengajaknya pergi. Sementara dirinya harus berdua dengan Raditya yang sudah membuat hati dan pikirannya kacau sejak semalam.


__ADS_2