
Kisah cinta Adam dan Airy memang telah usai. Tapi, mereka juga memiliki kisah cara mendidik anak juga. Kini, kita beralpih ke kisah Raihan dan Laila sebentar, Kisah ini di berceritakan untuk terakhir kisah pesantren. Semua akan berakhir di kisah ini.
Malam setelah mengajar ngaji, Adam dan Raihan berjalan bersama menuju aula tengah. Mereka banyak bercengkrama tentang masa depan Yusuf yang mau di sampai mana. Adam selalu mengusulkan jika Yusuf sebaiknya tetap melanjutkan sekolahnya di luar negri. Sama dengan Raihan dan leluhurnya dulu.
"Setuju, kita harus pikirkan masa depan Yusuf mulai saat, ini." ucap Raihan.
"Tapi kita bahas semua ini dengan Yusuf juga. Agar dia tidak merasa terpaksa," imbuh Adam.
"Iya juga sih, Ustad!" seru Raihan.
"Oh iya, bagaimana keputusan untuk Rafa dan Zahra?" tanya Raihan.
"Ya Allah, Bang. Mamanya galak banget, masa tadi dua-duanya kena jewer. Kan kasihan, galak bener emaknya," curhat Adam.
Mendengar itu, Raihan hanya tertawa. Ia sangat puas dengan apa yang di katakan oleh Adam mengenai adiknya.
__ADS_1
"Aku juga heran, Ustad. Aku pikir, bukan hanya Airy saja yang tiba-tiba berubah jadi galak. Setahu aku, dulu pernah dengar dari Ami, perempuan itu aslinya cepat lelah, dengan lelahnya dia, melampiaskan ke pekerjaan rumah. Terus kalau udah punya anak, katanya emang hormonnya tidak selalu stabil. Jadi maklumi saja, Ustad!" jelas Raihan.
"Calon suami yang baik, InsayaAllah."
Mereka pun sampai di aula. Di sana sudah ada beberapa Ustad dan juga para santri putra. Ada acara tadarusan malam itu, jadi semuanya harus ikut, termasuk Adam dan Raihan. Di rumah, Airy, Naira dan Laila beradu mulut dalam satu ruangan. Untung saja, anak-anak sedang bermain dengan Aminah dan Yusuf di kamar.
"Opo sih? Lha wong kamu we tadi merem kok, pie! (apa sih? Kamu aja tadi tidur kok, gimana?)" Airy tidak mau di salahkan.
"Angel (sudah), harusnya tadi jangan bilang gitu, dong. Mana tuh acara kawinan dua mingguan lagi. Gue belum siap, bebeb!" Laila tak mau kalah.
"Airyyyy gemes loh, aku! Pokoknya kamu harus tanggung jawab, nyimak aku ngaji sampai aku bisa dan hafal, titik besar ndak pakai koma!"
Dari belakang, Aminah membisiki Naira," Mbak Naira, ngapain nggak di lerai sih itu. Brisik banget tau!" Tapi Naira malah terkesan biasa saja.
Sampai pada akhirnya, mereka capek sendiri dan langsung makan mie ayam yang sudah mereka pesan dari penjual keliling. Bukan hanya satu mangkok, masing-masing dari Airy dan Laila menghabiskan 3 mangkok sekaligus.
__ADS_1
"Kalian jorok banget sih, nggak baik loh makan berkebihan gitu!" ujar Naira.
"Gue laper habis perang," sahut Laila.
"Aku juga," timpal Airy.
"Dosa kalian tanggung sendiri. Nggak baik makan segitu," pekik Naira.
Melihat tingkah kakaknya yang aneh, Yusuf pun kaget. Satu mangkok mie ayam miliknya saja belum habis, ini malah kakaknya dan calon kakak iparnya bisa-bisanya habis sampai tiga mangkok.
"Kalian berdosa banget!" seru Yusuf.
"Kalian juga pasti sebelum makan, belum cuci tangan dan berdo'a, 'kan? Berlebihan begitu, sesungguhnya berlebih-lebihan adalah sifat dari setan dan sangat di benci Allah. Astaghfirullah,"
Mereka berdua hanya terdiam dan menundukkan kepala. Dari sini, kita bisa menilai, tingkat kedewasaan seseorang tidak bisa di ukur dari seberapa tua usia kita. Dan seberapa banyak pengalaman yang di dapat.
__ADS_1
Kakak kakak, jangan lupa follow IG ku yah, IP Dewi.😋