Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 178


__ADS_3

"Hansel, kau belum tidur?" tanya Pearl, terbangun.


"Kau sendiri? Kenapa belum tidur, Pearl?" Raihan merapikan kembali selimutnya.


"Hansel,"


"Em,"


"Apakah, aku terlahir hanya menjadi beban?" tanya Pearl.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Itu tidak baik. Kau adalah gadis yang baik. Ayo. Tidurlah" Raihan kembali mengajak Pearl untuk tidur.


Raihan kembali lagi berpikir, apakah dirinya mampu menjalani kehidupan di luar seperti itu. Tinggal dua tahun lagi. Raihan akan kembali dalam dua tahun itu.


Pagi seperti biasa, Pearl membantu Raihan menyiapkan sarapan. Mita datang tanpa di undang seperti biasanya.


"Assalamu'alaikum," salam Mita.


"Wa'alaikumsalam," jawab Raihan.


"Hey, Pearl. Selamat pagi, aku bawakan kalian sarapan, nih. Nanti, biar aku yang antar Pearl ke penitipan, ya." ucap Mita.


Pearl menatap Raihan dengan wajah sayu.


"Pearl tidak akan pergi." jawab Raihan.


"Lah, kenapa?" tanya Mita.


"Dia pasti nggak ada teman di sana, iya 'kan?" sambungnya.


Raihan memandang, Pearl. Ia tetap tidak akan mengirim adiknya itu ke penitipan anak lagi. Bahkan, ia ingin mengajaknya ke kampus bersama dirinya. Kebetulan sekali kelas hari itu tidaklah padat.


"Apa? Yang benar saja, Han! Kamu mau bawa dia? Kamu itu kakaknya, bukan pengasuhnya yang harus ke sana, kemari dia kamu bawa!" pekik Mita.


"Justru karena dia, adikku. Apa salahnya jika aku membawanya. Yang repot 'kan aku, bukan kamu. Kenapa, kamu malah seperti tidak suka. Apakah, kamu terganggu dengan kehadiran, Pearl?" desak Raihan.


Mita ini tidak menyukai Pearl sejak awal. Itu sebabnya, ia meminta Raihan untuk membawanya ke penitipan anak, supaya dirinya bisa leluasa bersama dengan Raihan.


"Anak ini sangat menyebalkan. Bau dan sangat lusuh. Aku sangat membencinya." batin Mita.


Di perjalanan menuju kampus, Pearl terus saja menempel dengan, Raihan. Itu membuat Mita semakin kesal. Ia bahkan berniat untuk membuang jauh-jauh Pearl dari hadapannya.


"Wah, Pearl. Kamu imut?" tanya Cilo.


"Tumben, kamu bawa Pearl, ke kampus, Han." bisik Raditya.


"Mulai besok, kamu tinggal bersama kami, ya. Lagian, kami juga hanya tinggal berdua. Gimana?" usul Raihan.

__ADS_1


Raditya mengangguk, begitu juga dengan Cilo. Merasa dirinya di abaikan, Mita tiba-tiba pergi begitu saja. Melihat Mita seperti itu, Raihan tetap bersikap biasa, saja. Bahkan, terkesan acuh tak acuh. Kesal dan marah, itu yang ada di hati Mita saat ini. Ia menendang tempat sampah yang berada di toilet saat itu.


"Agh...!" Teriaknya.


"Tuh, bocah harus aku singkirkan. Raihan, hanya boleh dekat denganku."


"Tapi, bagaimana caranya? Raihan jelas begitu menyayanginya, dia akan menjadi penghalang, untukku mendapatkan hatinya Raihan." gerutunya.


Ketika Raihan mengikuti kelas, sengaja ia meminta bangku tambahan untuk Pearl duduk. Karena Raihan adalah mahasiswa istimewa, semua orang tidak mempermasalahkan itu. Apalagi, semua orang juga sudah tahu kisah kehidupan Raihan di sana.


Ketika makan siang di kantin.


"Hansel, kenapa kita bawa bekal? Bukankah, di sini banyak makanan juga?" tanya Pearl.


"Kau tahu, kakakmu ini 'kan, tidak makan sembarangan. Makanya, aku dan Hansel membawa bekal." jawab Raditya.


"Oh, tapi aku ingin makan daging seperti kakak itu." lirih Pearl.


"Kau mau? Biar aku belikan, untukmu!" ucap Raihan.


"Nggak usah, biar aku saja. Kamu teruskan saja makan siangnya." sahut Mita.


Dengan sigap, Mita segera mengambil daging untuk, Pearl. Namun sayang, Mita juga menambahkan bubuk racun di atas daging itu. Dengan harapan, Pearl bisa menjauh sebentar dari Raihan.


"Ini, makanlah yang banyak." ucap Mita, memberikan daging dan sayuran.


Cilo langsung menanyakan hal itu ke pihak kampus dan kantin. Sebelumnya, mahasiswa lain sama sekali tidak kenapa-kenapa ketika makan daging itu, dan sempel pun tidak menunjukkan adanya racun.


"Ini aneh, yang di kantin tidak ada racunnya. Kenapa, di daging Pearl ada?" ucap Cilo.


"Apakah.. " Raditya menduga-duga.


Bukan hanya Cilo dan Raditya yang menduga-duga, Raihan pun juga mengira, semua itu perbuatan Mita. Karena, pagi tadi ada seorang detektif bayaran keluarga Ruchan yang mengatakan, kekerasan yang di lakukan di tempat penitipan anak, di mana Pearl di titipkan, itu juga ada campur tangan dari Mita.


"Jaga, Pearl untukku. Kabari aku, jika dia sudah sadar. Ada urusan penting, yang harus aku selesaikan!" ucap Raihan.


Dengan memanggil taxi, Raihan menuju ke rumah Mita. Raihan tidak menyangka jika Mita bisa berbuat seperti itu.


"Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah. Apakah selama ini aku salah bergaul? Tapi... "


Raihan menghela nafas panjang, memejamkan mata dan merenungi semuanya. Menjadi dewasa bukanlah pilihan, tapi sudah menjadi takdir.


Sesampainya di rumah, Mita.


"Assalamu'alaikum. Mit, Mita!"


"Mita, buka pintunya!"

__ADS_1


"Aku tau kau di dalam, Mit. Buka pintunya! Kita harus bicara." teriak Raihan.


Tak lama setelah itu, Mita keluar dengan kepala menunduk. Seakan tahu, jika aksinya sudah diketahui oleh, Raihan.


"Ada ada denganmu, Mit? Apakah, Pearl dan kamu memiliki masalah? Masalah apa yang kamu miliki dengan gadis sekecil, dia?" tanya Raihan.


"Katakan!" bentak Raihan.


Mita menggeleng,


"Kenapa, Mit? Jawab, aku!" hardik Raihan.


"Karena aku tidak ingin melihatmu, hanya perhatian dengan, Pearl. Aku mencintaimu, Raihan. Aku sangat mencintaimu,"


"Selama ini, kau seperti tak pernah menganggapku. Hanya Pearl, Pearl dan Pearl. Aku kesal, Raihan!" jawaban Mita buat hati Raihan semakin emosi.


"Cinta?


"Tak pernah di anggap? Hah? Hahahaha,


" Memangnya, kamu ini siapa aku, Mita? Kita ini hanya teman, aku memperlakukanmu sama dengan Raditya dan Cilo. Bahkan, kalau di pikir-pikir, kamu itu tak lebih penting dari, Raditya. Menjauhlah dariku mulai saat ini. Assalamu'alaikum!" seru Raihan pergi.


Dalam hati, Raihan. Ia terus beristighfar dan terus beristighfar. Ia tidak pernah semarah itu dengan orang lain. Tapi, yang di lakukan Mita sudah sangat keterlaluan. Sementara itu, Mita tersungkur lemas di samping pintu. Ia berteriak, menjerit dan menangis.


"Aku mencintaimu, Raihan. Kenapa kamu seperti ini denganku!"


Di perjalanan pulang, Raihan mendapat kabar dari Raditya, kalau Mita kritis. Cobaan demi cobaan datang di keluarganya. Entah dosa apa yang di lakukan masa lalu keluarganya. Tapi, Raihan seperti tidak kuat dengan apa yang ia alami sekarang.


"Di mana, Pearl?" tanya Raihan.


"Dia...


Sebelum mengatakan Pearl ada di mana, Dokter keluar dengan pernyataan yang membuat semuanya terkejut. Pearl telah tiada, tubuh kecilnya tak mampu menahan racun itu.


"Aku, bukan kakak yang baik, Dit. Aku bukan kakak yang baik, aku..


"Sudahlah, Han. Ini semua sudah takdirnya, Allah lebih sayang dengan, Pearl. Kita ikhlaskan kepergiannya." hibur Raditya.


"Tuhan, tahu mana yang terbaik untuk, Pearl, Han. Sebaiknya, kita segera urus pemakamannya." sahut Cilo.


Pemakaman, Pearl berjalan dengan lancar. Ia di makamkan di samping makam, Michael. Raihan terus menatap makam dua orang yang ia sayangi itu.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tak bisa menjaga Pearl dengan baik. Maafkan aku. Semoga kalian tenang di alam sana, Ayah, Pearl." ucap Raihan.


"Sabar, Han. Aku bingung ini mau bagaimana. Tapi aku yakin, akan ada pelangi setelah ini. Percayalah, dengan janji Allah." Sahut Raditya.


Setelah pulang dari pemakaman, Raihan mendapat kabar dari rumah sakit. Di katakan, jika ibu kandung dari Pearl sudah sadar dari komanya. Rasa syukur ia panjatkan, akan tetapi, ia juga harus siap mengatakan kebenaran akan kepergian Pearl kepada ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2