Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 286


__ADS_3

Seperti biasa, Yusuf, Galih dan Hamdan berangkat bersama ke sekolahnya. Mereka lebih sering naik angkutan umam ketika berangkat, dan pulang dengan berjalan kaki menikmati indahnya keluar pesantren.


"Yang semalam merasa woah mah naik motor siapa, ya?" sindir Yusuf.


"Menyindir itu dosa bray!" seru Falih.


"Paling juga Kak Gu main boncengin pacarnya, itu mengapa kita tak di beri kesempatan meminjam motornya," sahut Hamdan.


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu itu berdosa banget, mana ada Kak Gu punya pacar, jangan su'udzon, deh!" pelik Yusuf.


"Noh!"


Hamdan menunjuk di belakang angkutan itu ada Gu yang memang sedang memboncengkan seorang perempuan tak berhijab. Yusuf masih bisa berpikiran positif jika itu pasti temannya. Tapi, berbeda dengan Falih dan Hamdan yang usil memotretnya, kemudian di kirim kepada Kabir dan Ceasy yang tengah berada di Korea.


Tentu saja Ceasy marah, seorang ibu jika anak lelakinya menyukai perempuan pasti terasa tidak terima, sebaliknya seorang ayah jika putrinya di cintai lelaki lain pasti tidak akan senang.


"Bilang sama Kakakmu, nanti malam angkat telfon dari Ibu. Ibu mau ngomong!" tegas Ceasy.


"Siap, komandan!" balas Hamdan secepat kilat.


Hamdan dan Falih tertawa dengan keberhasilan mengerjai Gu. Melihat saudaranya yang mungkin sudah mendekati senewen, Yusuf hanya beristighfar dan menggelengkan kepala. Bertiga, seperti orang tuanya dulu, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan yang sangat jarang bisa terulang kembali ketika dewasa. Pelajaran itu yang selalu ditanamkan oleh orang tua mereka.


"Wah, sempurna weh. Cewek bening, MasyaAllah... " ucap Falih kembali membuat kehebohan.


"Itu banci, kau bilang sempurna? Tiada yang sempurna di dunia ini, Lih. Karena banci itu juga pasti melakukan bedah plastik," sahut Hamdan.


"Kata siapa nggak ada yang sempurna? Ada, loh. Tapi bukan ciptaan Allah," timpal Yusuf tak mau kalah.

__ADS_1


"Apa, itu?" tanya Falih dan Hamdan bersamaan.


"Rokok Sampoerna, hahaha," receh Yusuf.


-_-_-


Sampai di kelas, mereka masih saja melontarkan lelucon yang membuatnya tertawa. Sampai pada akhirnya, bertemulah Yusuf dengan gadis yang ia kagumi. Namanya, Arumi Nasha Razeta, sering di sapa Arumi. Putri dari ulama besar juga dari sebrang kota.


Arumi hanya melintas begitu saja. Jika bukan wanita sholehah, mana mungkin Yusuf bisa menganggumi. Alasan Arumi sekolah di sana karena orang tuanya baru saja pindah rumah.


"Pandangan pertama, awal aku berjumpa! Asek..." goda Falih.


"Ingat, wahai saudaraku! Kita masih harus menghafal Al-Qur'an dan banyak kota di Arab sana yang belum kita kunjungi, jatuh cinta kepada yang bukan mahramnya itu, Haram! Paham ente?" timpal Hamdan menepuk bahu Yusuf.


"Hanya sebatas mengagumi, tidak lebih. Aku juga sadar diri, dia siapa, lalu aku siapa," lirih Yusuf.


"Memangnya siapa?" ucap Hamdan.


Masuklah mereka ke kelas menyusul Yusuf yang sudah masuk lebih dulu. Di sekolah itu, kelas laki-laki dan perempuan di pisah. Namun bersebelahan, dan terhubung satu sama lain. Gurunya 1 di tengah-tengah pintu pembatas ruangan itu.


Sebelum memulai pelajaran, biasanya akan di awali dengan membaca doa-doa dan bersholawat terlebih dahulu. Setelah itu, baru guru memulai pelajarannya. Tak ada hambatan belajar hari itu. Bel istirahat berbunyi, semua siswa segera ke kantin untuk makan siang. Berbeda dengan Yusuf yang membawa bekalnya makan di perpustakaan sekolah.


Ia lebih suka menghabiskan waktu istirahat di sana. Berada dengan Falih, ia lebih suka ngadem di mushola. Sedangkan Hamdan, memilih makan di kantin bersama teman yang lainnya.


Takdir mempertemukan mereka (Yusuf dan Arumi) di perpustakaan. Arumi yang tidak mengetahui jika Yusuf memang satu-satunya siswa yang di perbolehkan membawa makanan di perpustakaan pun menegurnya.


"Assalamu'alaikum, maaf sebelumnya. Kamu bisa baca, 'kan?" sapa Arumi.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, maaf juga sebelumnya, tapi aku sudah terbiasa makan di sini. Dan Pak Nur, penjaga perpustakaan tahu itu.


"MasyaAllah, itu kebiasaan buruk. Setidaknya, lihatlah yang lain, apakah mereka. Apakah mereka juga tidak ingin mengikuti jejakmu ini, melanggar peraturan? Mereka mau melakukannya, tapi masih mereka tahan, karena mereka tahu itu peraturan," tegur Arumi.


Yusuf mengelak nafas panjang, tanpa melihat atau melirik ke arah Arumi sedetikpun, ia beranjak dari tempat duduknya. Hanya mengucapkan salam kemudian berlalu.


"Hey, apa kamu nggak menganggap keberadaan kami kah?" salah satu teman Arumi mengucapkan itu dengan nada tinggi, unggah seluruh siswa yang berada di sana memperhatikannya.


"Laras, kamu nggak boleh begitu. Sudah biarkan saja, memang sepatutnya dia mentaati peraturan," tegur Arumi.


Padahal, bekal yang di bawa Yusuf belum habis. Ia kembali ke kelas dan membuka buku bacaannya, sedikit kesal tapi tak bisa marah karena ia memaklumi, Arumi adalah murid pindahan.


"Assalamu'alaikum," salam Falih dengan menepuk bahu Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabnya.


"Kenapa mukanya begitu? Ini bekal, kenapa nggak di habiskan, kan mubazir," ujar Falih.


"Makan aja kalau mau, aku lagi kesal. Jangan ganggu aku!" tukasnya.


Falih mengambil bekal itu, kemudian melahapnya sampai tak tersisa. Melihat saudaranya yang sejak kembali dari perpustakaan, Falih merasa penasaran. Ia pun keluar, menanyakan apa yang terjadi kepada Yusuf. Alih-alih bisa memarahi orang yang membuat saudaranya kesal, Falih malah mendengar fakta unik yang akan terus ia gunakan untuk bahan ejekan.


"Kamu kan suka dengannya, kenapa kamu bisa galak benget begitu, sih?" tanya Arumi kepada sahabatnya.


"Aku tak layak baginya, untuk kamu saja sana!" ketuanya.


"Enggak! Aku masih menanti pangeran yang bisa menaklukkan Abiku. Aku nggak terlalu tertarik, dengannya."

__ADS_1


Jawaban singkat yang sederhana itu sangat menusuk hati. Bukannya iba melihat saudaranya yang tengah patah hati karena ditolak oleh wanita yang ia kagumi, justru Falih malah tertawa terpingkal-pingkal, hingga dirinya jatuh di sebelah tempat sampah.


Itu sepenggal kisah tiga curut kita, ya.....


__ADS_2