
Malam telah tiba, setelah ba'da isya Adam mengaji bersama Airy. Walaupun Airy sedang sakit, tentu saja ia tetap harus setor hafalan karena itu memang kewajibannya.
"Ada yang salah, waktu nge game Mas kurangi," tutur Adam.
"Lah kok gitu? Curang! " kesal Airy.
"Jadwal nonton pulu-pulu Mas kurangi waktunya! " ucap Adam acuh tak acuh.
"Ora iso! Aku ndak mau waktu berharga ku main game sama nonton pulu-pulu di kurangi, ndak mau pokokke, " rengek Airy.
"Nggak ada tawar menawar. Bang Rai aja sudah khatam sejak dia masuk sekolah menengah atas, lah kamu? sampai kuliah aja belum khatam!" kata Adam sambil merapikan Al-Qur'an dan memasukkannya kedalam laci atas.
"Pengen ku siji, nyanding koe selawase..... " Airy mulai berdendang, karena tak tega dengan wajah Airy yang memelas, Adam pun langsung memeluk Airy dengan hangat.
__ADS_1
Pelukan Adam itu bagaikan obat mujarab bagi Airy. Saat ia sedih, kecewa, saat ini hanya nama Allah dan suaminya yang mampu meredakannya. Saat di peluk oleh Adam, Airy tiba-tiba bersin terus menerus, bahkan ia tidak menyukai parfum yang dipakai Adam. Ia pun mendorong tubuh Adam dengan sedikit agak kasar.
"Bau banget sih! Jauh-jauh ih, parfum baru ya? " tanya Airy sambil menutup hidungnya.
"Enggak kok, parfum yang sama seperti sebelumnya. Kenapa sih? " Adam kebingungan.
"Mulai sekarang jangan pakai parfum itu lagi ah. Fiks! Aku dan parfum itu musuhan nggak ada kata damai! " seru Airy memalingkan wajahnya.
Aneh, heran dan membingungkan. Itu yang ada difikiran Adam. Yang lebih anehnya lagi, tiba-tiba Airy ngidam jenang sagu di malam hari. Itu semakin membuat Adam gelagapan.
"Iya, terserah mau buat sendiri, atau beli dimana aja. Yang penting aku pengen jenang sagu yang manisnya kayak aku, warna pink nya kayak p*ntatnya Bang Rai, terus santanya harus kental seperti cintamu padaku hahaha, " lawak Airy.
"Pink nya kayak tuuuutt Bang Rai? Kayak gimana itu? " tanya Adam mulai ikut gila.
__ADS_1
"Ngapa harus ada tuuuuttt gitu? Sebut aja gak papa," kata Airy.
"Ya kan sensor, " jawab Adam.
Membuat jenang sagu mungkin bukan hal yang sulit bagi Adam, karena dirinya memang pintar dalam memasak. Tetapi untuk meninggalkan Airy, Adam masih mikir dua kali. Ia masih was-was dengan kehadiran Sari yang kemungkinan akan tetap melanjutkan rencananya untuk memisahkan mereka berdua.
"Harus Mas yang bikin ya?" tanya Adam.
"Nggak juga sih, aku cuma pengen jenangnya saja. Ah iya, suruh Ustad Zainal aja, entah kenapa aku pengen Ustad Zainal yang bikin jenangnya. Ayo Mas hubungi Ustad Zainal nya, harus malam ini ya!" ucap Airy dengan santai.
Dalam hati Adam ia bersorak hore, dengan segera Adam menelfon Ustad Zainal untuk membuatkan jenang sagu untuk istrinya. Awalnya Ustad Zainal tidak mau, tetapi karena ini untuk calon keponakannya, ia pun mau membuatkan jenang sagu dengan senang hati.
Sambil menunggu kiriman jenang sagu dari Ustad Zainal, Adam pun menceritakan kepada Airy tentang Sari atas keterlibatannya di dalam kecelakaan yang dialami istrinya itu. Mendengar hal itu, Airy semakin menjadi tidak enak perasaannya.
__ADS_1
Melihat Airy yang nampak gelisah, Adam pun merangkul dan memeluk Airy, disandarkan kepalanya di dadanya. Sambil bersholawat, Adam juga menepuk-nepuk bahu Airy, agar ia bisa tenang.