Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 333


__ADS_3

Di waktu yang sama, Raihan sedang menjenguk sahabatnya yang sedang sakit di rawat di rumah sakit. Sahabat Raihan ini, adalah sahabat dirinya ketika ikut majlis taklim di suatu daerah. Bukan hanya di daerah saja, bahkan beliau lah yang melunakkan hati Raihan ketika pulang ke Jogja dari Jerman. Lalu, menjadi teman dekat. Sakit yang di deritanya adalah lemah jantung, namanya Hadi Ahmadi. Lima tahun lebih tua dari Raihan. Sudah memiliki istri, dan di karuniai satu anak lelaki berusia enam tahun.


"Mas Raihan toh, bagaimana kabarnya?" tanya Hadi.


"Alhamdulillah, sae, Mas. Njenengan niku gerah nopo?" tanya Raihan kembali.


(Alhamdulillah, bagus, Mas. Kamu itu sakit apa?)


"Jantung, aku tidak menduga kalau aku yang masih muda ini akan pergi bertemu dengan malaikat-nya Allah," ucap Hadi.


Tentu saja ucapan Hadi membuat Raihan tercengang. Hal itu tak jauh dari kematian, Raihan mencoba terus menyemangati Hadi agar lebih semangat lagi melawan penyakitnya. Setahu Raihan, yang pernah ia pelajari dari Akbar, Lemah jantung, atau dalam bahasa medis disebut kardiomiopati, merupakan penyakit yang menyerang otot jantung. Akibatnya jantung dapat menjadi lebih besar, lebih tebal ataupun lebih kaku.


"Astaghfirullah hal'adzim, jangan bilang begitu to, Mas. Masih ada sangat istri, anak dan orang tua loh di keluarga Mas Hadi, ayo semangat!" ucap Raihan.


"Tolong, jaga istriku, ya. Karena aku sudah tak bisa menjaganya lagi. Tolong jaga anak dan istriku ya nanti, setelah aku pergi," ucap Hadi dengan senyuman.


Dan kemudian ------- Hadi menghembuskan nafas terakhir. Meski belum lama mengenal Hadi lebih lama, Raihan sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Kepulangan Hadi membuat istri dan keluarganya sedih, namun terlihat mereka tidak se dramatis seperti yang ia duga. Karena telah mengetahui penyakit Hadi sebelumnya.


Sebelum ikut ke rumah almarhum, Raihan pulang terlebih dahulu. Ia akan izin kepada Laila untuk menghadiri pemakan sahabatnya itu. Tentu juga mengajak Syakir agar ia bisa menerangkan apa yang dimaksud Hadi memintanya untuk menjaga anak dan istrinya. Sedangkan Hadi sendiri tahu, kalau dirinya sudah memilki seorang istri yang kini sedang mengandung calon buah hatinya.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un. Jadi, Mas Hadi itu memberi wasiat kepadamu untuk menjaga istri dan anaknya?" tanya Syakir.


Raihan mengangguk.


"Untuk mengurus anaknya, kamu bisa adopsi dia. Atau bisa kamu masukkan ke pesantren dengan nama wali dirimu sesuai dengan pesan Mas Hadi itu." usul Syakir. "Tapi untuk menjaga istrinya, bagaimana? Apa hendak poligami?" lanjutnya.


"Astaghfirullah hal'adzim. Na'udzubillah, jangan sampai lah, Pak Lek. Aku hanya ingin setia dengan Laila istriku," elak Raihan.

__ADS_1


Ternyata Hal itu terdengar oleh Laila yang tengah membawakan minuman untuk mereka berdua. Ia menjadi salah paham, yang di dengar Laila hanya Raihan yang ingin poligami. Laila pun berlari ke kamar dan mengunci kamarnya.


"Lah, salah paham. Giman nih Pak Lek?" tanya Raihan.


"Dia sedang hamil, kamu harus lebih hati-hati saat bicara dengannya. Pak Lek pamit dulu, selesaikan masalah ini. Kalau tidak, kamu nanti ke rumah almarhum sama Laila saja, biar Pak Lek sendiri ndak papa," usul Syakir.


"Assalamu'alaikum!" dalam Syakir.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati, Lek." jawab Raihan.


Raihan terus mengetuk pintu sampai Laila membukakannya. Ia juga terus akan menjelaskan semuanya, jika yang ia dengar itu belum sepenuhnya. Setelah melewati dua tanjakan dan tiga turunan, akhirnya Laila membuka pintu kamarnya. Raihan segera masuk dan mereka duduk di sudut ranjang.


"Apa yang kamu dengar?" tanya Raihan.


"Poligami," jawab Laila memalingkan wajahnya.


"Udah itu saja, dan sangat jelas!" jawab Laila.


"Sayang, dengarkan aku. Aku bukan lelaki mulia yang mampu berpoligami, dengan alasan menaikkan derajat seorang janda. Tapi, aku hanya butuh nasihat dan saran dari Lek Syakir, bagaimana cara menghadapi wasiat lisan yang di katakan oleh Mas Hadi di depan keluarganya itu," jelas Raihan dengan lembut. "Cintaku, hidupku, kasihku, hanya milikmu di dunia. Dan kau tahu, dunia nomor dua setelah akhiratku, aku akan berdosa jika berpoligami tanpa persetujuan istri tercintaku ini," lanjutnya.


"Yakin? Dalam hati dan pikiran Abang nggak ada niatan untuk berpoligami, 'kan?" tanya Laila dengan suara parau.


Raihan memeluk Laila, meyakinkannya lagi jika hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak ada dalam sejarah keluarga Raihan yang melakukan poligami. Ia mengajak Laila untuk bersiap ziarah ke rumah Hadi, tentu saja memperkenalkan Laila dengan keluarga Hadi.


Di samping itu, Aminah sampai di depan gerbang pesantren, ia berjalan dengan lemas dengan mata sembab. Berjalan bagai tak berdaya, tatapan kosong dan hati yang kacau. Ketika di sapa oleh beberapa santri pun ia tak memperhatikannya. Langkahnya sampai seperti zombie yang sudah kelaparan akan daging manusia.


"Assalamu'alaikum," salam Aminah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, eh anak Mama sudah pu.... Kamu kenapa?" Balqis mengecek kening Aminah panas atau tidaknya.


"Kenapa? Panas, kah? Aku sedang gila, Ma. Ini ada oleh-oleh, Mama bagi aja ya sama yang lain. Aku pengen tidur hari ini, assalamu'alaikum!" ucap Aminah tanpa jeda. Kemudian berjalan seperti zombie lagi ke kamarnya.


"Tuh anak kenapa?" kata Balqis heran.


Balqis mencoba menanyakan hal itu kepada Yusuf yang masih ada di Korea. Namun, Yusuf sudah berjanji kepada Aminah untuk merasakan hal itu dari siapapun juga yang belum mengetahuinya. Karena bagi Aminah, mencintai seorang lelaki yang belum memiliki ikatan bukanlah suatu hal yang bisa dibanggakan.


Dua hari berlalu, Aminah masih terlihat biasa saja dengan keheningannya. Syakir dan Balqis mulai merasakan kehilangan kebahagiaan melihat keceriaan Aminah sirna. Sakir mencoba untuk menanyakan ada apa dengan putrinya itu. Waktu itu di meja makan, mereka sedang makan malam bersama.


"Aminah," panggil Syakir. Terlihat Aminah melamun dan hanya memainkan makanannya. Kemudian Syakir mencoba untuk kembali memanggilnya. Kali ini malah Aminah kaget setengah mati sampai melompat dari kursinya.


"Aminah!" teriak Syakir.


"Allahumma bariklana, fima… Astagfirullah, Abi! Nggak baik tau Bi ngaggetin orang begini, bahaya!" kesal Aminah.


"Nak, ada apa sih? Masalah Kakakmu sudah selesai, 'kan? Kenapa pulang dari liburan malah terlihat sedih seperti ini? Ayo, kita bahas," ucap Balqis dengan lembut.


Aminah meletakkan sendoknya, menghela nafas panjang dan mengucap basmallah. Sudah ia pikirkan dengan matang selama dua hari, kalau ia akan memberitahu tentang kisah cinta yang tertundanya kepada Abi dan Mamanya.


"Aku jatuh cinta," ucap Aminah.


Syakir dan Balqis hanya menatap Aminah.


"Iya, aku jatuh cinta. Aku harus bagaimana?" ungkap Aminah lagi. Sambil melahap martabak mie nya, ia mengungkapkan segala uneg-uneg di hatinya.


"Aku takut, Bi, Ma. Cinta datang terlalu cepat bagiku, aku masih sekolah. Aku tak sanggup untuk menikah muda. Apakah aku harus ke luar negri untuk melupakan semuanya? Seperti yang ada di novel, komik dan juga drama Korea? Tapi, aku takut hidup sendirian, kalau aku kelaparan bagaimana?" Aminah mengatakan hal itu dengan lantang. Bahkan tak terlihat ia gugup sekalipun.

__ADS_1


Bagaimana respon Syakir dan Balqis? Apakah mereka akan marah besar mendengar putrinya jatuh cinta lebih dini? Atau malah mereka akan mendukungnya? Tidak keduanya, Syakir masih belum percaya jika putri konyolnya bisa jatuh cinta.


__ADS_2