
"Yang bener aja, ngaji aja nggak pernah. Masa sebulan harus hafalin surah Al-Mulk. Gila tuh, Si Tengil!" gerutunya.
Tak selang berapa lama, Resti memasuki mobil juga. Ia mencoba mempengaruhi Laila untuk mundur dari perjodohan itu.
"Hahaha, bilang aja kalau lu juga mau sama, Si Tengil!" seru Laila.
"Tapi, kamu 'kan nggak bisa ngaji. Susah untuk menghafal dalam waktu satu bulan," ucap Resti.
"Eh, gue bisa buktiin kalau gue bisa. Tapi, ini syarat udah nggak masuk akal buat gue, mending lu diem deh!" Laila merasa geram.
"Tapi, Laila.... "
"Sttt.... diam! Aku akan menyetujui syarat itu. Di pikir dia siapa? Gue bisa buktikan kalau gue mampu, menghafal dalam satu bulan! Lihat saja nanti!" tungkas Laila.
Di sisi lain, Raihan masih duduk menyendiri di kursi hijau milik RT-nan itu. Ia merenungi semua nya, tentang keluarga, jodohnya dan juga masa depannya. Tiba-tiba, Adam dan Akbar mendekatinya.
"Assalamu'alaikum,"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab Raihan.
Mereka pun duduk diantara Raihan.
"Menurut Ustad dan Om Abang, syaratku itu terlalu berlebihan, ya? Aku merasa tidak enak hati kepada, Laila. Tadi sore aku sudah membentaknya, sekarang....." ucap Raihan mengusap-usap keningnya.
"Sebenarnya tidak salah, tapi untuk Laila, itu mungkin sedikit berlebihan. Kita semua tahu, jika Laila tidak bisa mengaji, bagaimana jika nanti dia nggak hafal?" tutur Akbar.
"Wallahu'alam. Lebih baik, kamu banyak istighfar, Bang. Ikhlaskan, aku yakin di hatimu ini belum bisa ikhlas dengan kepergian Papa, 'kan?" tanya Adam menunjuk dada Raihan.
"Sholat, bertasbih minta petunjuk dan ketabahan kepada Allah. Kalau bisa, istikharah, ya. Aku mau ngantar Rafa dan Zahra pulang, dulu. Assalamu'alaikum." akhir dari pencerahan Adam.
Sementara itu, Airy masih bersama Yusuf tengah berada di samping tenda. Mereka berdua saling menyandarkan kepala satu sama lain.
"Kak, aku beneran sendirian 'kan ini," ucap Yusuf.
"Siapa bilang, masih ada Kakak, Bang Rai, dan saudara yang lain. Kamu nggak sendirian!" tegas Airy.
__ADS_1
"Aku takut, Kak. Takut ketika aku salah arah, tidak ada yang membimbingku, takut ketika aku kedinginan tidak ada yang memelukku. Takut jika ada masalah, tidak ada yang aku jadikan sebagai pegangan," keluh Yusuf.
"Ada kita semua. Kamu nggak sendirian, oke? Berhenti merasa sendiri, ada kita di sini, apapun yang kamu butuhkan bisa bilang ke Kakak atau ke Bang Rai." ucap Airy dengan membelai rambut Yusuf yang sedang bersandar di bahunya itu.
Memang sejak kecil, Yusuf sangat dekat dengan Airy. Meskipun sering di jadikan bahan ejekan oleh Airy, Yusuf paling tidak bisa jika tidak bermanja-manja dengan kakak uniknya itu.
"Kak,"
"Ada apa?"
"Pengen peluk,"
Yusuf meneteskan air matanya di pelukan Airy. Semuanya ia luapkan emosinya malam itu, hanya Airy penenang jiwanya sekarang.
"Sholat isya' dulu, ya. Sana, nanti ikut kumpul dengan yang lain," pinta Airy.
Yusuf pun mengangguk dan segera sholat isya' di masjid pesantren. Halayaknya anak kecil yang manja dengan ibunya. Begitulah sikap Yusuf terhadap Airy.
__ADS_1