Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 261


__ADS_3

Laila dan Naira sampai di gudang lama pesantren. Memang rapi, tapi banyak sekali debu, karena tidak pernah di buka sama sekali pintunya.


"Ini yang bener aja, Raihan nyuruh kita bersihin nih gudang? Malam-malam, pula?" gerutu Laila.


"Wis lah, ra usah ngersulo. Ndang lakoni, biar cepat selesai dan bocan (bobok cantik)!" seru Naira.


"Lu nggak usah pakai bahasa Jawa, gue kagak ngerti, Naira." ujar Laila.


"Belajar makanya,"


"Eh, enak bener lu ngomong. Bahasa Jawa, 1 katanya aja, banyak artinya. Kek jatuh tuh, ada dlongsor, nyungsep, geblak terus apa lagi tuh, buanyak, Naira!" gerutu Laila.

__ADS_1


"Serah, lu!"


Mereka pun melakukan hukuman itu dengan cepat, agar bisa segera pulang dan tidur. Sementara Yusuf dan Aminah malah sudah selesai, satu ledeng telah terisi. Mereka pun laporan dulu kepada Raihan, karena sudah merampungkan hukumannya.


"Alhamdulillah, hah.. hah.."


"Alhamdulillah, lain kali jangan ributlah. Kamu sama Kak Airy nggak pernah akur, jadi malah semuanya kena imbas," tutur Yusuf.


"Yusuf! Emang udah dari kecil, dari dulu juga Kak Airy itu kan emang sering buat masalah? Enggak yang bikin repot keluarga, nggak yang bikin kita kena imbas juga karena hukuman. Banyak banget deh kelakuannya. Ada aja tingkahnya, beruntung aja dia dapat suami yang kalem romantis kayak, Mas Adam gitu." gerutu Aminah.


"Malam ini, kamu harus menyalin Surah An-Nas sampai 38 lembar. Nggak ada protes, enggak ada debat dan harus dilakukan malam ini juga. Biar Rafa dan Zahra tidur bersama Mas, malam ini!" perintah Adam.

__ADS_1


"Kenapa harus Surah An-Nas, sih? Nggak ada yang lain yang lebih pendek, gitu?" protes Airy.


"50 lembar no debat! Assalamu'alaikum!" ucap Adam keluar dari rumah, menjemput Rafa.


Mau bagaimana lagi, hukuman itu memang harus ia jalani. Dengan perasaan yang kesal, Ia pun menyalin Surah An-Nas sebanyak 50 lembar dalam satu buku.


Di salinan ke dua, Airy baru menyadari, dirinya memang salah. Mungkin, usianya masih dibilang pantas untuk bercandaan dan memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu. Tapi statusnya, dia sudah menjadi seorang ibu dan juga seorang istri. Harusnya, dia tahu adab seperti apa yang harus ia terpakan.


Tiba-tiba keluarlah air mata, teringat oleh Aisyah yang pernah menghukum nya juga dengan cara seperti itu. Ia menangis, menyesali perbuatannya. Harusnya, ia bisa menjadi contoh buat adik-adiknya, bukan malah berkelahi dengan Laila.


"Mas Adam, pulang dong. Aku nggak mau sendirian di rumah," -dengan emotion menangis penuh dengan air mata.

__ADS_1


"Iya, Sayang."-dengan emotion love sebanyak enam kali.


Adam tersenyum membaca pesan dari istrinya. Hatinya tak tega menghukum Airy seperti itu, tapi semua itu ia lakukan untuk kebaikannya, agar tidak lagi ribut dengan sesama saudara. Airy harus memiliki rasa wibawa yang harus di hormati oleh adik-adiknya. Karena bercanda itu ada batasannya, ada beberapa batasan ketika tidak boleh nya seorang Aminah menjambak rambut Airy. Karena Airy adalah kakaknya, sebaliknya dengan Airy yang tidak entengan tangan ketika menoel kepala Aminah.


__ADS_2