
Sesampainya di rumah, Yusuf membuka buku diary itu. Membacanya dengan seksama, gadis itu memang tak pernah diinginkan. Di dalam diary itu, ternyata dia menyelipkan sebuah surat penting tentang hartanya untuk diamankan oleh Yusuf. Gadis itu meminta, untuk saat ini, ia harus menyimpan berkas penting itu. Ia juga menjelaskan liontin apa yang ia lempar kepadanya.
"Jadi, dia sedang kesulitan. Tapi, kenapa aku tidak boleh membantunya untuk saat ini?" gumam Yusuf membaca terus apa yang dititipkan oleh gadis itu.
"Ternyata dia anak orang kaya. Tapi, kenapa tidak diinginkan. Bahkan disini tertulis jelas jika dalam tidurnya dia selalu di ancam oleh Ibu dan saudara tirinya. Baiklah, aku akan menjaga benda penting ini, aku harus belajar untuk besok."
Meski lega mengetahui apa yang terjadi dengan gadis itu, tapi hati kecil Yusuf juga tidak tega melihatnya hidup dalam ketakutan. Namun, kehidupannya saat ini lebih penting. Esok hari, dia akan menjalani ujian akhir, jadi dirinya tidak ingin memikirkan hal lain dulu dan akan fokus ke sekolahnya.
Di alam mimpi, ketika Yusuf sedang berdiri sendirian, ia melihat gadis itu sedang di tarik-tarik oleh beberapa orang dewasa. Dengan berteriak, "Kakak, kakak, tolong aku. Aku mohon tolong aku!" itu membuatnya tak dapat tidur nyenyak hingga waktu menunjukkan jam 3 pagi.
Ia berniat untuk memejamkan matanya lagi dan alhasil ia tertidur dengan nyenyak. Sampai alarm subuh saja ia tak dapat dengar.
"Yusuf, bangun. Sholat subuh, woy! Dibangunin juga dari tadi, kenapa susah banget, sih?" kesal Hamdan dengan mencipratkan air ke wajah Yusuf.
"Astaghfirullah, jam berapa ini?" tanya Yusuf gelagapan.
"Makanya jangan begadang. Kerinan to awakmu?" kesal Hamdan. (kesiangan kan kamu)
Yusuf segera mandi dan bersiap ke masjid menunaikan sholat subuh. Ceramah pagi ini juga membahas tentang anak dan harta warisan, itu mengingatkan dirinya dengan gadis itu.
"Bagaimana keadaannya sekarang, ya? Apakah dia baik-baik saja? Huft, siang nanti aku akan mencarinya." batin Yusuf.
Pulang dari masjid, Yusuf segara berganti seragam kemudian langsung pergi. Hari itu, ia puasa meski tidak sahur karena kesiangan bangunnya. Berharap ujiannya lancar dan menghasilkan nilai yang bagus, agar gampang memilih Universitas di Korea nanti.
"Yusuf, setelah lulus.. apa yang akan kamu lakukan?" tanya Fatur.
"Aku? Aku akan berangkat ke Korea. Aku akan kuliah di sana," jawab Yusuf.
"Hah? Kamu mau ke Korea. Kenapa? Di sini kan banyak sekali kampus yang bagus, Suf. Ngapain jauh-jauh sampai ke Korea, sih?" tanya Fatur lagi.
"Iya, lagian kita sudah klop begini berempat, masa kamu mau ninggalin kita, sih?" sahut Jihan.
__ADS_1
"Kalian ini, teman mau maju ya harusnya kalian dukunglah. Jangan buat dia merasa kendor untuk meraih cita-cita," timpal Cindy, aslinya dia sendiri juga tidak ingin Yusuf pergi.
Ujian di mulai, selama ujian berlangsung, seluruh siswa siswi tingkat tiga belajar dengan giat. Yusuf, Hamdan dan Fatur juga sering belajar bersama setelah ujian selesai di rumah Yusuf. Mereka juga semakin kompak bertiga. Ingatan tentang gadis itu juga sudah tidak kuat di pikiran Yusuf, namun setiap malamnya, Yusuf selalu memandang ke liontin dan diary itu dengan gelisah.
Selama empat hari ujian berlangsung, Yusuf masih saja memikirkan nasib gadis itu. Hari berakhirnya ujian, terlihat beberapa siswa yang keluar dengan wajah masih tegang. Mereka masih harus menunggu hasil akhir keluar memastikan nilai yang telah mereka usahakan.
"Huft, ini terakhir kita ujian, semoga saja hasilnya tidak mengecewakan," ucap Jihan.
"Aku juga tidak ingin mengecewakan orang tuaku. Jika nilaiku tidak memenuhi kualifikasi mereka, habislah aku!" imbuh Cindy sembari menghela nafas panjang.
"Oh iya, kelulusan sebentar lagi, bukan? Dan juga Yusuf akan pergi ke luar negri, apakah kau tidak ingin mengutarakan isi hatimu padanya?" usul Jihan.
"Ish, kamu ngaco, ah! Aku kan cewek, mana mungkin mengutarakan hati dulu kepada cowok. Malu kali, lagi lagipula kalau aku di tolak gimana? Dia juga kan tidak akan pacaran.. kamu lupa dengan ucapannya saat pertengkaran dia dengan Candra dulu?" maksud hati Cindy, ia juga ingin sekali mengatakan perasaannya kepada Yusuf. Namun, keberanian itu tak bisa ia dapatkan karena terhalang oleh gengsi.
Jihan terus membujuk Cindy untuk mengatakannya, ia juga memberi saran agar mengatakannya setelah pengumuman nilai atau pas hari kelulusan, di mana semua siswa pasti akan mengadakan acara di tengah-tengah itu.
"Tapi Jihan, aku malu dan aku belum siap ditolak," rengek Cindy.
"Ayolah, aku akan membantumu. Tenang saja, yang penting kamu ungkapin dulu perasaanmu, mau ditolak atau diterima pikir belakang, bagaimana?" desak Jihan.
-_-_-
Di tempat lain, usai keluar dari kelas, Yusuf segara menyalakan motornya mencari alamat gadis bermata biru itu. Sudah selama tiga hari ia mencari tapi tidak ketemu juga.
"Ini sudah hari ke empat dan aku belum menemukan dimana anak itu tinggal, dimana dia, bagaimana keadaannya?" gumam Yusuf menambah kecepatan motornya.
Yusuf mempunyai ide untuk datang ke toko buku dan melihat seragam sekolah dari cctv toko itu. Dari seragamnya, pasti Yusuf akan menemukan info dari gadis kecil bermata biru itu.
"Assalamu'alaikum, Bang aku boleh minta tolong nggak? Maaf ngrepotin sebelumnya tapi," Yusuf terlihat terburu-buru.
"Wa'alaikumsalam, ada apa, sih, Bro?" tanya pemilik toko.
__ADS_1
"Aku mau lihat, rekaman cctv 10 hari yang lalu, boleh?" tanya Yusuf.
Karena cctv itu belum canggih, jadi masih harus membutuhkan waktu lama menemukan rekaman itu. Sekitar hampir tiga jam, rekaman itu baru saja ketemu. Yusuf mencatat alamat dari bad sekolah gadis itu.
"Alhamdulillah, dari sini aku bisa bertanya ke sekolahnya dimana alamat anak ini," gumam Yusuf sedikit lega.
Dari toko, Yusuf langsung menuju sekolah dimana gadis itu belajar. ia tahu, jika sekolah dasar akan tutup pada siang hari pukul dua. Jadi, ia bergegas ke sekolah itu menggunakan motornya.
Sesampainya di sekolah itu, Yusuf langsung menuju ke kantor guru dan menanyakan tentang gadis itu. Petunjuk pertama, dia menemukan alamat rumahnya, petunjuk kedua, ia menemukan alamatnya yang diluar negri. Ada guru juga yang langsung mengenali Yusuf saat itu.
"Kamu, seorang kakak yang di sebut dia, bukan? Seorang kakak yang memberi buku tentang menjadi anak yang baik kepadanya, bukan?" tanya guru muda itu memberikan buku yang pernah ia berikan kepada gadis itu dipertemuannya untuk pertama kalinya.
"Maaf, tapi bagaimana ibu bisa tau, apakah…." tanya Yusuf heran.
"Dibuku ini ada surat penting. Dia hanya minta untuk mengamankan sampai dia kembali, terima kasih, saya permisi dulu, assallamu'alaikum," guru itu berlalu setelah menyampaikan pesan gadis itu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Setelah ke sekolahnya, Yusuf pergi ke alamat yang diberikan pihak sekolah kepadanya. Rumah yang megah dan besar itu berhasil Yusuf temukan di kawasan perumahan elit di kota itu.
"Dia anak orang berada, tapi kenapa hidupnya misterius begini, sih? banyak sekali surat penting yang ia titipkan kepadaku," gumam Yusuf.
Berkali-kali Yusuf mengetuk gebang dan memencet bel rumah itu. Namun, sama sekali tidak ada orang yang menyahut ataupun membuka gerbang. Sampai akhirnya ada asisten rumah tangga dari tetangga yang mendatangi Yusuf.
"Permisi, Dek. Mau cari siapa, ya? Rumah ini sudah kosong sejak dua hari lalu," ungkapnya.
"Anu, Mbak. Saya cari anak kecil bermata biru dan rambut pirang di sini. Mau ambil jaket saya, yang saya pinjamkan beberapa hari lalu," jawab Yusuf, ia menggunakan alasan jaket karena memang tidak tahu harus beralasan apa lagi. Karena yang dicarinya seorang anak kecil berusia 10 tahun.
Mbak asisten itu nampak terkejut, ternyata dia juga diberi pesan surat penting dari gadis itu untuk Yusuf. Mbak asisten itu mengajaknya masuk ke rumah majikannya dan menyerahkan amplop berwarna pink kepada Yusuf.
Setelah dibuat lelah dan bingung, Yusuf pun akhirnya pulang dan istirahat lebih dulu sebelum mengajar anak-anak mengaji. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, Airy menelponnya untuk Yusuf segera datang ke rumahnya untuk membahas kepergiaannya ke Korea.
__ADS_1
"Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alaa alladziina min qablina. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaa qatalanaa bihi. Wa’fu’annaa, waghfirlanaa, warhamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alaa al-qaumi al-kaafiriin." ucap Yusuf sembari meraih handuk dan segera mandi. Kemudian bersiap ke rumah Kakaknya. (Doa ini aku kutip dari Surah Al-Baqarah ayat 286)
Apa yang akan ingin Airy sampaikan? Lalu, bagaimana cara Yusuf dan gadis itu akan bertemu kembali? Apakah gadis itu adalah jodohnya, Lalu bagaimana dengan ungkapan hati Cindy? Ikuti detik-detik episode terakhir ya kakak. Terima kasih.