Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 297


__ADS_3

"Seharusnya, kamu nggak usah ladeni mereka, Mercon!" tegur Raihan.


"Kenapa? Sekali-kali, tetangga yang begitu di sikat, biar bersih. Ghibah mulu," ketus Laila.


"Kalau sudah sifat, mereka tidak akan pernah jera. Mereka akan semakin mengorek keburukan orang yang mereka anggap buruk. Itulah warna warni hidup bersama tetangga, kalau pun tidak ada tetangga, kita memiliki keperluan, nggak ada yang nolong," jelas Raihan.


"Lain kali, jangan lagi ladenin mereka, ya? Demi aku," lanjutnya.


Mendengar kata 'demi aku', Laila tertawa. Ia pun menggenggam erat tangan suaminya, dan berjalan dengan riang. "Ahh, seperti ini rasanya hidup bersama orang yang di cintai? Tunggu! Cinta? Sejak kapan rasa itu hadir kembali?" batin Laila.


Terdengar iringan alunan lagu ketika mereka sarapan berdua. Setelah sarapan, mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Dari mulai menyapu, ngepel lantai, mencuci piring, mencuci pakaian dan menjemur. Adam menyarankan, agar Raihan memiliki waktu seharian bersama Laila di rumah, atau menghabiskan waktu berdua jalan-jalan, agar mereka semkin akrab serta bisa menumbuhkan rasa itu kembali.


"Mau, jalan-jalan?" tanya Raihan.


"Jalan-jalan? Yes, hayuk!" jawab Laila semangat. Ia segera mandi dan bersiap, sementara Raihan, menunggunya di luar.


Setengah jam berlalu, Laila baru saja keluar dari rumah. Kali ini, Laila mulai mematuhi perintah Raihan dengan memakai rok longgar ketika bepergian. Terlihat anggun dengan rok berwarna coklat muda dan sepatu putihnya. Raihan terpesona melihat istrinya yang tampil beda dengan hijab menutupi seluruh bagian depan tubuhnya.


"MasyaAllah, cantik sekali," puji Raihan.

__ADS_1


"Ini demi kamu, sebenarnya nggak nyaman pakai rok gini. Tapi, ya nggak papa lah," ucap Laila.


"Bukan nggak nyaman, tapi belum terbiasa saja. Kalau di biasakan, pasti akan menjadi kebutuhan suatu saat nanti," tutur Raihan.


"Berangkat, sekarang?"


Mereka pun berangkat, sesampai di taman kota mereka turun. Ya, hanya di taman kota saja, karena memang tak ada tempat tujuan lain. Menikmati wisata kuliner, foto berdua dan saling ngobrol, duduk di bawah pohon rindang.


"Rai...." panggil seorang wanita.


Raihan dan Laila menoleh, ternyata Mita yang memanggilnya. Ia terlihat berbeda sekarang, matanya sayu, ia bersama dengan Cilo saat itu. Dengan senyuman terpaksa, Raihan menyambut Mita dan Cilo, antara Raihan dan Cilo tidak ada masalah apapun, tapi dengan Mita, Raihan masih enggan untuk bersikap seperti biasa.


"Rai, kamu di sini?" tanya Mita dengan suara di manja-manjain.


"Hai, Bro! Apa kabar?" tanya Cilo.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri, bagaimana, Cil?" terlihat sangat berbeda jawaban pertanyaan dari Mita dan Cilo.


"Kamu dengan siapa kesini, Rai?" lanjut Mita.

__ADS_1


"Mata dia burem, kah? Gue di sini, istrinya, woy! Ah elah!" batin Laila dengan tatapan datar.


"Kenalin, wanita cantik di sampingku ini, adalah istriku. Sayang, kenalin, dia temannya Cilo, kami pernah sekolah di sekolah yang sama dulu," ucap Raihan merangkul Laila.


"Hahaha, drama!" batin Laila lagi.


Dengan sandiwara memasang wajah yang polos dan tersakiti, Mita menjabat tangan Laila dengan lemah gemulai. Sementara itu, Cilo mengajak Raihan ngobrol di tempat lain, tinggallah Laila dan Mita saja di sana. Jelas, Mita mulai menghasut dan mengancam Laila. Tapi, ia harus dikejutkan, dengan sifat Laila yang tak bisa gampang ia tindas begitu saja.


"Nggak usah basa-basi lagi, deh ya. Lu jangan harap bisa menjadi orang ketiga di kehidupan rumah tangga kami," sontak ucapan Laila membuat Mita kaget.


"Gini aja, gue juga nggak munafik! Gue bukan dari kaum wanita keluarga muslimah seperti keluarga Raihan. Tapi, kami saling mencintai, jika lu berani menjadi pelakor, atau orang ketiga di rumah tangga gua. Lu nggak akan pernah hidup tenang di dunia ini, camkan itu!" lanjut Laila mengusap bahu Mita.


Mita menepis tangan Laila. Ia pun berkata, "Jadi, ini sebenarnya kamu? Wanita seperti apa sih, yang di nikahi oleh lelaki sholeh seperti Raihan? Najis!"


"Dih, sholihah, lu?" sahut Laila.


"Berhijab, tapi attitudenya nol besar. Lihat aja, aku bakal merebut Raihan kembali," ketus Mita.


"Wowo, santai bray! Kalem napa? Gue emang kek begini, keluarga besar Raihan tau, mau apa lu? Kasihan banget lu di cuekin," ledek Laila.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Laila menahan tawa.


Kesal, Mita pun berlari ke arah Cilo dan mengajaknya pergi. Laila tertawa terpingkal-pingkal, hingga membuat Raihan heran. Setelah di ceritakan, Raihan mencubit pipi Laila, memang tak ada takutnya Laila dengan siapapun. Dengan begini, Raihan tak takut lagi jika kasus orang ketiga di dalam keluarganya terulang kembali, karena memang itu warna kehidupan. Menteri, orang ketiga, keimanan, semua itu ujian nyata yang Allah beri kepada semua umat-Nya.


__ADS_2